Senin, 30 Agustus 2010

RESENSI NOVEL SERIBU TAHUN CAHAYA


Judul Buku : Seribu Tahun Cahaya
Penulis : Mad Soleh
Penerbit : Pustaka Bimasakti
Cetakan : I, April 2009
Tebal : vi + 246 halaman

Hmm…jujur aku menarik nafas panjaaaaaaaaang setelah menuntaskan “tugas mulia” membaca kitab ini (kitab yang lebih manjur daripada kitab primbon,kweeek). Mungkin rasa lega para antariksawanti yang selamat dari zarah belum sebanding dengan rasa lega yang kualami saat ini. Gilaaa bayangin aja, selama 245 lembar, aku harus bertualang ke alam bebas yang tidak jelas juntrungane. Begitu banyak pengorbanan untuk bisa memahami apa maksud Si’mad Soleh (jenis nama yang tidak jauh dari bau soto) dalam membuat fiksi yang uaneeh ini. Aku harus rela darahku naik turun (prosotan kaleee, emang ada ya merosot naik?he..) membayangkan para antariksawanti yang ‘sok penting’ itu melaju menembus cakrawala untuk sowan ke planet yang gak ada dalam pelajaran fisika itu,-
Sepanjang membaca novel ini, beberapa kali aku mengucapkan Amiiiiiiiiin, Karena banyak juga khayalan yang tositip bagi negeriku tercinta, mbak INA ini…jadi serasa ikut merasakan bagaimana jungkir baliknya para guru n stake holder-nye saking senangnya kalau benaran 30% anggaran negara dialokasikan buat pendidikan, wuiiiih, beneran terima rupiah deeeh, bukan uang yen … lagi. Jadi serasa ikut menikmati senyum mbah Maridjan dan mbah Surip kalau beneran anggota DPR tidak akan menuntut gaji lagi, swear pasti mbah Surip rela nggendong Yusuf Emir Faizal, Bulyan Royan, Al Amin Nur Nasution, de el el untuk tobat dengan bersemedi di pekarangan rumah mbah Maridjan yang rosaa rossa itu, I loph yu puuull dehh, ha ha ha ha ha ha.
Novel ini merupakan perpaduan khayalan dan realitas. Pikiran-pikiran Si’mad yang penuh khayalan diramu dengan diksi yang sok lucu (dah menthok ya bos?he..) misalnya nama-nama tokohnya dan beberapa plesetan kata yang bener-bener mleset, namun cukup bikin geli kok, yang paling bikin ngekek tuh ulah Kang Zaka Permana si arsitek Unpar dengan temuannya yang spektakuler yaitu P.A.G.U.P.O.N, kwekekekeek (swear, aku ga nyangka!), emang magic com! sekali pencet langung muncul tonggolannya,he...Si’mad bukan hanya membalut khayalan dengan guyonan tengilnya, namun sekaligus juga memberikan sorotan kritis atas permasalahan negara tumpah darah Indonesia ini, hal itu cukup jelas tersirat di cover novel ini (beneran deh, tuh cover yang ga menarik sama skalee). Oh ya, lha masalah pete n sambel aja dibahas sampe njlimet gitu, uhhh, bener-bener novel yang unique. Jadi menyangsikan gelar kesarjanaannya sebagai sarjana farmasi neh, jangan-jangan anak diploma tata boga!hehehe…
Si’mad juga cukup apik mengajarkan bagaimana seharusnya kita merenungi dan mengambil hikmah dari sesuatu yang kita lakukan. Apa yang diungkapkannya di halaman 70 memaksakan untuk berseru, wuuuiiiiiiiiiiiiiiihh, misalnya kutipan berikut:
Berada jauh dari bumi membuatku semakin banyak terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan tentang rahasia hidup manusia dan misteri alam semesta. Tapi ini juga membuatku semakin yakin bahwa semua urusan kepada-Nya adalah juga sebuah keniscayaan. Aku percaya dengan penyelenggaraan Tuhan. Bahwa segala sesuatu di alam semesta ini mengikuti sebuah kuasa yang mahadigdaya. Manusia bukan penentu atas nasib mereka sendiri. Mereka hanya punya hak untuk berikhtiar menentukan nasib karena Tuhan bermurah hati membocorkan sedikit rahasia-Nya. Sedikit saja. Sangat sedikit. Aku yakin kehancuran paripurna manusia dan dunia hanya masalah waktu. Manusia akan punah, kiamat. Kami tak tahu kapan. Sama persis seperti ketidaktahuan kami tentang kapan masing-masing dari kami akan mati. Dan sambil menunggu datangnya kiamat kecil dan kiamat besar itu, manusia boleh berusaha mempertahankan kehidupan dan eksistensi mereka. Entah di mana batasnya.
Tapi paling ciamik ya halaman terakhir tuh, nendang bangeeeeet! Seberapapun hebatnya manusia (entah dengan apa mengukurnya!) semua kembali pada sifat-sifat dasarnya, yang kadang bisa mabuk kepayang karena cinta, jejingkrakan saking senengnya, termehek-mehek, bisa pula ceklek atine, telmi, lan sak panunggalipun. Hmmm so sweet…
Secara keseluruhan Seribu Tahun cahaya merupakan salah satu novel yang aneh dalam konteks negatif, unique dalam konteks positif, bikin kagum karena background penulisnya yang memprihatinkan, bikin ngiri karena daya khayalnya yang mengalahkan Hans Christian Andersen (sok kenal banget seh gue!), dan bikin SEMANGAT untuk membuat novel juga karena novel yang biasaaaa aja dan ditulis orang yang ga jelas kayak gini aja bisa terbit kok apalagi novelku nanti, hueeeeee, TENANG-bukankah separuh hidup kita adalah ironi...so, jangan terlalu serius membaca, tapi jangan kaget kalau Anda beberapa kali harus mengerutkan dahi dan ngakak-ngakak sendiri, yaaaaahhhh mau bagaimana lagi-bukankah separuh hidup kita adalah humor…katanye seeeeeh….

* Pemenang Harapan II Lomba Menulis Resensi Guyonan Pustaka Bimasakti - 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

-popular posts-