Rabu, 18 Desember 2019

KELAS KAMI DI KEDAI KOPI (3)

Doc. Pribadi - Patemon


Semalam kami membaca karya dalam temaram. Mati listrik. Tapi cukuplah penerangan dari senter elektronik a.k.a gawai (modern -mode on 😊). Cukup lama. Yaaa... kira-kira sepanjang durasi pertandingan final cabang Sepak Bola SEA Games 2019 😃 

Kali ini giliran cerpen romance berlatar Gestapu milik bro Muvti yang didiskusikan. Karyanya keren? bangets. Tipikal tulisan yang runtut, lengkap kap kap kap, detail, dan nyaman-able.

Itu penilaian objektif. Yuks, lanjut sesi penilaian subjektif 😊. Menurutku karyanya ini cerita pendek yang tidak pendek. Masih masuk kategori cerpen? iyalah, pasti. Namun, kuantitas kata yang digunakan sempat membuatku tak sabar. Detail tiap laku tokohnya "berbunga-bunga" sekali. Aku memberi apresiasi tinggi pada kemauannya untuk membuat cerita itu "bersih" dari tafsir ganda.

Oleh karenanya, kurecoki dia dengan pertanyaan "Kok bisa setahan itu sih, Bro? Kayak gimana outline-nya?" Mungkin karena aku lebih suka yang gercep (dan percayalah ini 11-12 dengan tergesa-gesa bin instan) 😅

Proses penulisan dia ceritakan. Sederhana tetapi mengena. Walau tentu tak harus kutiru sama. Jujur saja di depan tulisan kita, katanya.

Di akhir, Kang Putu menambahkan "terhambat tidak sama dengan terlambat" kan ya? Hambatan dalam menulis itu ada saja. Dalihnya banyak, kesibukan misalnya (#eaaaa). Toh begitu, mestinya tidak membuat kita sudah merasa terlambat untuk memulai (menulis) lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

-popular posts-