Senin, 26 Januari 2026

SAKIT, SEMBUH, DAN TUMBUH

 

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Selesai dalam sekali buka. Membaca halaman-halaman awal tulisan Dik Praba ini, ingatanku langsung connect dengan materi-materi inner game-nya Mr. Sony dan mindfulness-nya Mas Adjie. Lema "pemulihan" sepertinya tepat merepresentasikan muara akhir dari cerita yang dikisahkan.

Fase sakit, sembuh, dan tumbuh tentu saja bukan tahapan mudah. Sepanjang tuturan dalam 112 halaman, ada banyak pergolakan yang diwakili oleh diksi-diksi nggegirisi macam cemas, gelisah, sulit, tertinggal, sendiri, panik, takut, sepi, kabur, abai, kalah, hilang, sesak, lelah, curiga, terlambat, dan gagal hingga beralih ke diksi-diksi yang ngayemi macam tenang, sadar, bebas, selamat, belajar menunda, berhenti menawar, pasrah, berdamai, memaafkan, membangun, melangkah, menikmati, dan kemudian menghormati. 

Sekian lama pakai "kacamata" orang kupahami sangat melelahkan. Setiap laku berdesak-desakan disertai pikiran berlebih yang mewujud menjadi sepertinya, kayaknya, mungkin, bisa jadi yang parahnya diiyakan oleh hati. Wah, berisik sekali!

Beberapa bagian,

"Ada masa di hidupku ketika tidak ada yang memperhatikan.
Tidak ada yang menyebut namaku." 

"Ada masa ketika aku tidak ingin mendengar siapa pun.
Setiap nasihat terdengar seperti penghakiman.
Setiap doa terasa seperti penghinaan."

Dan, bagian epilog tentang kebaikan, sukses membuatku berlinang. Sesenggukan. Kembali mendekat dengan-Nya sepertinya jalan tepat. Mabruk walau jangan sampai mabuk. Saling mendoakan, agar hati dilembutkan. 

Selamat atas terbitnya karya ini, Dik. Turut senang. Paparan kaya yang tidak banyak "bunga-bunga". Selamat merayakan "penemuan" ini. Betul, setiap orang sedang dalam pertempurannya masing-masing. Yang tidak dekat, bukan berarti jahat (Hlm. 39).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SAKIT, SEMBUH, DAN TUMBUH

  Sumber: Dokumentasi Pribadi Selesai dalam sekali buka. Membaca halaman-halaman awal tulisan Dik Praba ini, ingatanku langsung connect deng...