Selasa, 24 Desember 2019

THE BOOKSTORE TRAVELER

Dok. Pribadi - Graha Sartika 

Liburan dan bacaan. Selesai. Membaca buku ini serasa diajak traveling beruntun, dari toko buku satu ke toko buku lainnya, lingkup Solo dan Jogja. Menyenangkan!

Beragam. Di area Solo, petualangan dimulai dari toko buku berkonsep kios macam TB Ar Royyan, yang berkonsep instagramable macam Susano Book, yang berkonsep lapak macam loakan di Gladak dan Busri (mburi Sriwedari), serta toko buku legend macam TB Sekawan dan Budi Laksana.

Traveling lanjut ke toko buku yang berkonsep wirausaha kampus macam UMS Store dan UNS Store, hingga retail modern macam Gramedia (Slamet Riyadi, Solo Square, Grand Mall, The Park, dan Hartono Mall) serta Togamas.

Sepanjang perjalanan di Solo, aku bernostalgia dengan loakan di Busri. Awal masuk kuliah, aku membeli KBBI, kamus sejuta umat John Echol dan Hassan Shadily, dan beberapa buku teks kuliah di sana.

Hal menarik kudapati saat cerita perjalanan singgah di UMS Store. Konsep belanja buku via voucher pada awal semester, yang diberlakukan bagi seluruh mahasiswa UMS menjadi kebijakan kampus yang seru, (mungkin) setengah memaksa, tapi (hampir pasti) manfaatnya terasa.

Traveling kian seru saat mulai beranjak ke toko buku lingkup Jogja. Transaksi niaga buku di kota itu beraneka rupa cerita. Mulai dari Rindu Buku, Raja Murah, Toko Budi, Berdikari, Buku Beta, Dema Buku, Ksatria Buku (Ambon), Taman Pintar Bookstore, Social Agency, dan Radio Buku a.k.a Warung Arsip.

Lawatan dalam buku ini membuka wawasan mengenai sejarah, strategi penjualan dan (bahkan) pemertahanan, konsep indie publishing, cerita "perkawinan" antara toko buku-cafe-co working space, praktik monopoli, hingga pembajakan buku yang ampung-ampunan kini!

Cerita perjalanan "bergizi" ini juga mempertontonkan proses berliterasi dari sisi belakang panggung. Semoga berkesempatan menapak tilas suatu hari nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

-popular posts-