Jumat, 20 Agustus 2010

MENGHABISI "SANG PRESIDEN" ITU - 18 Januari '10


Masih ada yang tersisa… belum terhapus karena kujaga dengan kunci sebesar palu seharga satu enam satu… masih rapi… tetap urut… dan begitu “membaca” serasa melemparkan diri ke dalam ruang penuh tulisan: “AKU BENAR TAPI AKU BODOH”…

Ya… dan dengan alasan apapun akhirnya aku memang memilih yang “benar”… benar menurutku belum tentu menurutmu… tapi tak kulihat air matamu,, tak kudengar rengekanmu,, dan tak kurasa perih itu… ahhh kau memang pandai menyembunyikan… bahkan sangat ku yakini,, kau akan lebih memilih berjemur menatap sang raja siang atau menantang delik liar serigala lapar daripada harus bicara satu kata tentang rasa yang tengah kau tutupi dalam-dalam… dan aku “benar” karena logika harus tetap jalan walau hati berontak karena tak ingin dinomorduakan… tenangg,, sudah kuperhitungkan benar-benar langkah kakimu yang kutahu berat meninggalkan ‘medan perang’…

--- ;;;; ---

Ya… dan aku “bodoh” telah mencoba membunuh ‘sang presiden’ masa depan… aktor intelektual yang tak mengedepankan roman picisan untuk sebuah ikatan tanpa syarat dan ketentuan… dan aku “bodoh” harus menerbitkan undang-undang ‘tandingan’ untuk sekedar mengharap kau mengikuti aturan dan menganggapku sebagai ‘yang berwenang’… aku “bodoh” telah salah menerapkan strategi dan kau pun “bodoh” telah SANGAT SALAH memaknai sebuah strategi… aku berjuang mempersempit ‘wilayah’mu yang kalah oleh waktu… kau hanya kalah lebih dulu… HANYA KALAH LEBIH DULU… tapi kau ‘sang presiden’ ituuu… mengertilah…!!! Kau ‘sang presiden’ ituuu…

---;;;;---

Terus pertahankan ego itu hingga lumpuh kedua kakimu,, jangan menyerah hingga kau rasakan keperihan yang teramat sangat sebagai imbalan atas kekerasan hati yang menyembunyikan hati dengan tak hati-hati… lanjutkan aksi tutup mulutmu,, jangan bicara hingga sudah tak ada yang tersisa… kecuali jika kau menunjukkan nyali untuk ‘beradu strategi’ dan berhasil ‘meracuni’ diri sendiri…

Karena “KAU BODOH TAPI KAU BENAR”—


Kamar 004,,
Trangkil S.E.J.A.H.T.E.R.A--

AWAL 2009 DI PELATARAN JEMURAN - 30 Desember '09


Tahun baruku lalu kuawali dengan doa di bawah kerdip kembang api di sebuah pelataran jemuran,, hmmm… sungguh ada ketidaksengajaan yang mengintipku lewat menara masjid yang menjulang seakan menantang terbangnya si kembang… ahhh,, tak kupedulikan karena mukaku tebal untuk tetap berteriak menyambut harapan yang belakangan kuketahui memelukku sedemikian erat… Alhamdulillah…

Masih ingat, kuawali bulanku dengan duduk manis di sebuah ruangan penuh tatapan keingintahuan… weww,, kuberi senyuman termanis yang bisa kulakukan, dengan sedikit anggukan sebagai tanda kesopanan, karena mereka akan menjadi bagian dari hari-hari panjangku di sebuah rumah baru yang tidak “kubeli”… hmmm rumah ini ternyata perlu “dibersihkan”, sebab setelah kutempati beberapa minggu, barulah kutahu ada lalat yang pandai memberi senyuman masam, kecoa yang berbincang dengan candaan berbau bawang, kadal yang berpandangan dengan binar lalu berpaling dengan ceracauan, dan banyak tikus-tikus pintar yang saling adu kemunafikan… namun, setelah setahun tinggal, aku sudah mulai terbiasa dan merasa nyaman saat bertegur sapa dengan lalat, ngobrol dengan kecoa, bersenda gurau dengan kadal, dan beradu dengan para tikus… aku adalah nyamuk yang masih menunggu siapa diantara anggota 'keluargaku' yang kelebihan darah saat otaknya sudah melepuh penuh nanah…

Pertengahan tahun, mulai kukenali wajah-wajah yang belakangan menjadi saudara baru dan musuh baru… adalah hatiku, yang berbungkus kemanusiawian, yang menentukan mana yang layak kujadikan saudara dan mana yang kuberi kehormatan sebagai musuhku,, ;D… saudaraku, bersiaplah menerima jamuan istimewaku tiap detik yang kau perlu, tapi jangan menganggu waktu mesraku dengan penciptaku… musuhku, berbahagialah karena kau selalu ada dalam pikiran jahatku,, takkan ku lampiaskan asal kau tak memulai duluan… tapi sekali kau ketuk pintu itu,, tak akan ada tawar menawar—kau jual aku beli,, kau yang mulai kau pula yang harus mengakhiri (hahaha, aku pengen marah dengan nada mengancam tapi kenapa yang muncul malah lirik lagu dangdut ini yaa,,, ;D)….

Soal rasa, tak usah ditanya, aku muntah karena ada manis, asam, asin, rame rasanya… hahaha… ini bagian hati yang menyenangkan namun pelik karena wadah yang kurang besar… kucoba tampung semua namun otomatis harus luber dengan sendirinya… baru sadar ternyata ada bagian yang langsung memilah mana tamu yang membawa harapan dan mana yang hanya akan membuat keributan… debat kusir dengan diri sendiri sesekali terjadi, wajarlahh, sebagai upaya menentramkan batin sendiri, karena aku terlalu egois untuk disetir oleh pihak-pihak yang mengaku peduli… sampai detik ini, belum kumantapkan hati, masih kujaga peluang untuk membuka atau menutup pintu dengan komitmen menurut caraku dan dengan aturanku… maaf, aku memang seperti itu, namun tidak selalu begitu… peace… hahaha,,

Bulan akhir, banyak senyuman diantara keringat dan tulang yang meredam… ada banyak dosa namun semoga terselip beberapa pahala, amin, (hahaha, akhirnya narsisnya keluar juga,,)… kupacu langkah yang memang harus kupercepat… kutinggalkan selimut lebih sering dari sebelumnya… kurelakan waktu walau belum tertata dan masih amburadul dalam membuat skala prioritasnya… belum kutuai hasil yang maksimal, namun semoga proses mengantarkannya kesana… belum menyiapkan tanda titik karena aku masih ingin melanjutkan dengan lebih baik, amin…

Ada banyak WARNA, HURUF, ANGKA, dan RASA untuk SANTI PRATIWI TRI UTAMI (baru sadar juga kalau namaku terlalu panjang… hahaha) di tahun 2009 ini, overall aku menikmati semua kesedihan dan mensyukuri semua kebahagiaan…

Mohon maaf atas segala kesalahan, semoga cukup sekali dan takkan terulang (tuh kan larinya ke lagu dangdut lagee, hahaha…) dan terimakasih atas hal baik yang telah kalian berikan, TERUSKANLAH…!! (by Agnes Monica) dan LANJUTKANN…!! (by SBY)… hahaha… love u full temaaaannnnn,,, bye 2009….

Bismillah… SELAMAT TAHUN BARU --- sambut 2010 dengan ‘kamu’ sebagai ‘kamu’….

RUPA-RUPA PURA-PURA - 3 Desember '09


Kugelengkan kepala serasa tak percaya… atau jangan-jangan aku sedang menghindari fakta di depan mata? atau bisa jadi sedang sembunyi dari hati yang mengirimi rasa ini?

Ahhh… kubiarkan sajalahh… pura-pura tidak tahuu hal-hal begituu…

Bayangannya menjajah tanpa ampun,, bahkan kadang menusuk tepat di saat yang tidak tepat… ini mengenaskan kawannn…!!! tapi bukankah aku sedang berpura-pura? Konsisten pada ketidakkonsistenan itu perlu ketika ‘urusan muka’ lebih utama…

Ahhh… lewati sajalaahhh… tohh seleksi ‘alam’ lebih handal dari sekedar perhitungan rinci yang sok diklaim sebagai nurani…

Hatiku kalah tapi mukaku menang… uppsss jangan dulu ‘berteriak’ kawannn…!!! Bukankah aku sedang berpura-pura? Sungguh aku tak bersungguh-sungguh –ini gila, tapi aku gila (ber)gila-gilaan--!!!

Agar lepaaaass - please sediakan aku ‘RUANG’, jangan beri aku tubuhmu karena aku tak mau memaksanya mengeluarkan darah atau memberi lebam pada aksesoris kulit nan eksotis itu… tapiiiiiii kalau kau ikhlas,, hehehe,, telah kusiapkan tendangan maut tepat di ulu hatimu yang sengaja tak kau tutup rapat untukku…
Ahhh… jangan senang dululahhh… hatiku berkata begitu tapi pikiranku memilih begini… Bukankah aku sedang berpura-pura? Hmmm rasanya lebih puas menendang angin yang tak terkira jumlahnya… hmmm rasanya lebih nyaman berbicara pada dinding kamar… hmmm rasanya lebih asyik berbisik-bisik dengan kumbang-kumbang di taman (swear - ini dangdut bangeeet, kwakakakakk)… hmmm rasanya lebih narsis menempel gambar diri di sebelah kanan lambang garuda (untuk yang ini PEACE ya Pak…hihihi)… hmmm lebih terasa bengis dengan menghancurkan tempat tidur setelah berjibaku dengan mimpi-mimpi najis…

Kawaaan…,, rupa-rupa pura-pura itu manusia jugaa,, hanya saja dia buta bahwa hati tidak buta,, hanya saja dia tuli bahwa perasaan tidak tuli… suatu saat nanti dia akan ada di ‘singgasana’ bersama hatinya yang tidak buta dan perasaannya yang tidak tuli… Amin.

Trangkil--

Kamar 004,,

BUDAYA MENGECOH - 19 November '09


Buaya dan tikus sedang komunikasi
Dimana akan bersua untuk transaksi
Buaya bilang jangan lupa akan imbalan
Karena moral sudah tak jalan

Saat sua mereka kaget
Buaya berjubah raja
Dan tikus memakai mahkota
Wah…sungguh mengecoh mata

Orang pikir buaya adalah panutan
Orang kira tikus adalah teladan
Padahal kalau topeng ditanggalkan
Sungguh, kebusukan yang akan dikenang


Nb:
* ............ sebagai buaya
** ............ sebagai tikus
*** jangan Kau tanya cicak dimana... karena Kau pasti sudah tahu jawabnya,, ;D

(hehehe... PEACE ya bapak-bapak yang terhormat [eh, ada wanita-nya juga denkk-tapi masih 'sembunyi'...;D)

TA DA JUDUL - 12 November '09


Heii… ketika hati mulai ‘berwarna’—akan sangat sulit membendungnya…
Atau aku yang belum berusaha keras untuk mengekangnya…?
Tapi bukankah mengekang rasa ituuu tak semudah mengikat tali sepatuuu…?

Sungguh tak ingin Camry seperti milik ‘tuan-tuan bersafari’…
Tak berkhayal punya wajah secantik Miyabi,, ;)))
Pun tak mimpi berlimpah harta layaknya Aburizal Bakrie…
Apalagi punya kekuatan mirip Ponari, (hwahahahaha…)

Sudaahhh… seadanya sajaaa…
Tohh kita dianugerahi kaki…
Tohh wajah kita tak terlalu ‘ngeriii’…
Tohh masih bisa makan minimal sekali sehariii… :-) + kalo ada traktiran,, hehehe…
Tohh masih kuat bangun pagi…
(Alhamdulillah…)

Ber’gulat’ dan maknailah dengan kata C.U.K.U.P
Terasa berat?? Ya… iyalahh…
Namun bukankah bisa diatasi dengan niat diri,,?
Kalau belum ‘sekarang’ – minimal cobalah duluu
Kalau pesimis menang – minimal peranglah duluu (yang ini kutipan saran dari ‘seseorang’, hehe)

DI BALIK PUNGGUNG KATA-KATA...!!! - 27 Oktober '09


Aku tak ingin bangun, namun apa daya bila Tuhan menghendaki aku terjaga. Aku tak ingin baca, namun rupanya Tuhan ingin menunjukkan satu fakta untuk perjalanan selanjutnya. Temaaaan, sungguh ini bukan pujian melainkan makian… sungguh bukan kesengajaan melainkan kesalahpahaman… oke,, ku kuatkan hati untuk menghadapi walau tanpa senjata api…

Siapa bilang makian hanya sumpah serapah yang memerahkan kuping gajah? Siapa sangka semut pun harus menerima muntahan kata yang busuk baunya. Hmmm… atau biarkan saja asal mereka tak tergoda? Atau perlu bertindak karena sudah tahu harus bagaimana? Namun bukankah keserakahan muncul karena godaan jiwa untuk membungkus dua atau beberapa rasa dalam satu kantong yang belum tentu berukuran raksasa?

Aku tak ingin bersumpah karena bukan itu esensi sebuah klarifikasi. Aku juga sedang menghindari keserakahan karena itulah awal mula cerita ini. Mohon tahan diri untuk tidak memperpanjang persoalan apalagi menghakimi. Percayalah, Tuhan mengatur kita dengan cara yang suci. Jadi, segera akhiri permulaan yang buruk ini dengan kisah baru yang memberi senyuman abadi.

PESAN DALAM SAKU - 17 Oktober '09


Satu malam ada yang mengetuk pintu usang. Wah, sepertinya melewati beranda depan penuh semangat tak terbantahkan. Ketukan sopan membuatku beranjak walaupun awalnya agak menolak. Tenang… telah kusiapkan jawaban dari salam yang kuyakini akan diucapkan.

Sama sekali tak kurasakan kekagetan. Justru ketakjuban yang sempat hinggap walau harus segera kutepis demi kenormalan. Titipan pesan yang disampaikan sangat sederhana, namun bila disuarakan kucing pun akan menoleh karena mencium ketidakberesan.

Apakah sesuatu yang tersurat harus diawali dari hal-hal yang tersirat? Ahh… kurasa buang waktu bila harus menjawab, karena semua misteri lebih hangat bila diresapi dalam hati. Cukup dalam hati. Cukup dalam hati. Minimal untuk saat ini. Minimal sampai detik ini.

Penyampai pesan ini riuh sekali. Sungguh, aku tak sempat berlari, hanya sekedar untuk melindungi luka yang masih basah, agar tak terinfeksi. Namun, abu-abu ini mulai memutih dan abu-abu itu mulai menghitam, ketika pesan telah tersampaikan tanpa syarat dan ketentuan yang terlalu merepotkan.

GEN-AI LITERACY BUDDY: PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Gen-AI Literacy Buddy Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar sosialisasi dan pelatihan praktik baik ...