Sabtu, 02 April 2022

OFFLINE

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Yes, thinking is hard. Acting rather than reacting is even harder. But at the end of the day, that's what our brains are for. For us to use and control. And not just be the receptacle of random thoughts that don't belong to us and which leave us feeling helpless and overwhelmed (p.28).

Senin, 14 Maret 2022

MENGEMBANGKAN ONLINE EDUCATION RESEARCH DI INDONESIA

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Online Education Research (OER) menjadi sebuah keniscayaan sebagai konsekuensi makin terbukanya sistem pendidikan. Dalam konteks keindonesiaan, OER diharapkan tidak hanya fokus pada sisi teknologi tetapi menjangkau aspek awareness and motivation. Mengapa? agar tidak ter-ninabobo-kan oleh teknologi sebagai perangkat yang 'fashionable' dalam pembelajaran ๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ’ป


Tantangan yang cukup signifikan untuk menyelenggarakan OER ialah pemahaman tentang bagaimana melakukan riset di area itu. Oh ya, sepertinya butuh 'keterampilan menyibak' topik-topik seruuu pula dengan memperbanyak asupan bacaan yang relevan ๐Ÿคฏ

@uipublishing ๐Ÿ‘‹

Jumat, 11 Februari 2022

BERANI TIDAK DISUKAI

 

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Membaca buku ini sebanding dengan menyimak percakapan seorang pemuda dan filsuf yang ditemuinya. Pembaca dipertemukan dengan sekian pertanyaan dan berulang penjelasan untuk menuntaskan rasa penasaran (plus sedikit sikap ngeyel-an) ๐Ÿงค

Si filsuf menegaskan bahwa tugas hidup seseorang (mestinya) bukanlah  memenuhi ekspektasi orang lain. Tidak ingin dibenci orang lain adalah impuls  yang sepenuhnya wajar. Namun, sikap mengintervensi penilaian orang lain terhadap diri kita hanya akan membuat hidup terkekang, pun itu sebuah kemustahilan.

"Dari sepuluh orang, akan ada satu yang akan mengkritikmu, tak peduli apapun yang kaulakukan" (h. 269) ⏰

Mempersenjatai diri dengan keberanian belum banyak dilakukan. Keberanian menetapkan posisi dan penerimaan diri atas setiap konsekuensi. Berhargalah mereka yang terus belajar memahami bahwa tidak semua akses kontrol atas kondisi yang akan ditemui berada di tangan dirinya sendiri.

๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ



Jumat, 31 Desember 2021

NODEFLUX: KONTRIBUSI GLOBAL SI KELEDAI PINTAR VIA KECERDASAN ARTIFISIAL

“Teknologi memberikan potensi kepada kehidupan untuk berkembang seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya – atau untuk menghancurkan diri sendiri” (Max Tegmark)


Pernyataan fisikawan MIT dalam Life 3.0 itu serta merta membuat tanganku meraih spidol merah jambu, otomatis menempelkan ujung lunaknya di bawah ketikan rapi pada bagian prolog, penanda permulaan bab baru. Aku tertarik dengan dua kata kunci yang berseberangan: “berkembang” dan “menghancurkan”. Rasanya perubahan memang selalu menghadirkan dua irisan. Kemudian, kita akan dihadapkan pada dua efek, yang dimaklumi sebagai keniscayaan: positif dan negatif.


Aku teringat bagaimana warganet (netizen) riuh menanggapi pernyataan Presiden Jokowi saat Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (Musrenbagnas RPJMN) 2020-2024, yang berkomitmen untuk menggantikan para Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan robot kecerdasan artifisial. Setidaknya, warganet terbagi dalam tiga kelompok besar bila dicermati berdasarkan dropping komentar: kelompok skeptis teknologi, kelompok utopia digital, dan kelompok “pendukung” gerakan memaksimalkan potensi kecerdasan artifisial (artificial intelligence).


Mereka yang skeptis mengakui kelahiran kecerdasan artifisial sebagai produk teknologi, tetapi pesimistis soal implementasi. Kaum utopis digital cenderung menyambut kecerdasan artifisial dengan senang hati, walau paham harus melalui proses adaptasi. Nah, para suporter kecerdasan artifisial lah yang siap memeluk evolusi ini dengan mengeksplorasi potensi. Bahkan, sebagian kecil mulai menangkap peluang kecerdasan artifisial sebagai akses kontribusi bagi negeri.


Kelompok yang terakhir ini tidak melulu memainkan peran dalam satu posisi. Kucermati, beberapa akademisi memulai andil dengan riset-riset untuk menggali dan melakukan komparasi atas keunggulan teknologi. Pemerintah bergerak lewat kebijakan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020-2045. Adapun, para pengembang kecerdasan artifisial bergegas menyusun rangka perusahaan rintisan (start up). Pionir rintisan pada bidang ini di Indonesia adalah Nodeflux.


Kelahiran Nodeflux

“Simple ya! Ada masalah apa di masyarakat, let’s solve it! (dengan) teknologi sih.” ujar Ais, co-founder dan Chief Technology Officer (CTO) Nodeflux, saat menyampaikan kepada kami, pemirsa siniar (podcast) Startup Studio ID x Impactto, yang berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Juli lalu. Artinya, semua yang akhirnya terkonsep mutlak berbasis pada problem yang ditemui masyarakat. Nodeflux mencoba hadir sebagai pemberi solusi dengan teknologi.


Pria bernama lengkap Faris Rahman ini menceritakan kelahiran Nodeflux dengan riang dan penuh optimisme akan kebutuhan dan pasar kecerdasan artifisial pada masa mendatang. Namun demikian, ia menyebut bahwa Nodeflux tidak selalu nangkring di atas jalur tol yang lancar; bebas hambatan. Pada awal kelahiran, jalan terjal mesti dilalui perusahaan rintisan ini, layaknya proses normal pertumbuhan.


https://www.nodeflux.io/


Ais tidak sendiri dalam membidani Nodeflux. Pria berkacamata ini berpartner dengan Meidy Fitranto, yang karib dipanggil Memet. Mereka bahu membahu merancang cikal bakal Nodeflux sejak Januari 2016. Memet berperan sebagai co-founder dan Chief Executive Officer (CEO). Keduanya bersahabat sejak SMP dan bertemu kembali di Teknik Industri Institute Teknologi Bandung (ITB). Sebelum terjun di bidang pengembangan kecerdasan artifisial ini, keduanya sudah bergelut dengan karier masing-masing. 


"Udah sejak kuliah, kita sering jualan software bareng sih. Kita explore banyak hal, mulai dari buat-buat software, games, (bisnis) kulineran juga" ujar Memet.



"Saya sebelumnya bekerja di oil company yang besar, tetapi saya lebih banyak kerja sampingannya sih, hahaha. Intinya my heart and my mind tidak di situ lah ya. Saya lebih suka create something. Akhirnya, kami saling kontak kembali karena ada proyek bersama. Namun, karena satu dan lain hal proyek itu gagal, padahal produk sudah hampir selesai. Dari situ lah, kami mulai berpikir untuk merintis usaha ini" lanjut Ais, yang diamini oleh Memet.


Nama Nodeflux mereka rancang karena lebih "menjual". Awalnya mereka lekat dengan nama Donkey Smart. Memangnya ada keledai yang pintar? Memet menjelaskan justru karena stigma hewan keledai yang bodoh; jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya, mereka menjadikan hal tersebut sebagai pengingat.


"Kalau hewan yang pintar, misalnya dolphin, begitu kan nggak seru. Ibaratnya, ya pantas saja kan pintar, terus bikin data analytics gitu. Kalau hewan bodoh yang bikin, kan paradoks ya. Namun, kita ingin membuktikan bahwa itu mungkin!" tegas Memet. "Kalau kalian ke kantor Nodeflux di Mampang Prapatan, di sana disebutnya Donkey Camp, jadi karyawan kita ya disebutnya Donkey Team" paparnya kembali sambil disertai gelak tawa. Wah... filosofi sederhana yang mengena!


Optimisme yang mereka bangun dalam tubuh Nodeflux terejawantah pula dalam misi yang diemban, yaitu berkontribusi pada pengembangan kecerdasan artifisial dalam lingkup nasional dan (bahkan) global. Hingga kini, Nodeflux masih terus bereksplorasi dengan produk-produk unggulan yang fokus pada visionAIre dan identifAI. Produk visionAIre meliputi visionAIre facevisionAIre peoplevisionAIre vehicle, dan visionAIre retail. Adapun, produk identifAI berupa identifAI dukcapil validationidentifAI liveness detection, dan identifAI KTP OCR.


https://www.indotelko.com/


Kontribusi Bagi Negeri

"Humans can make mistakes, artificial intelligence can help!"

Kecerdasan artifisial makin dekat dengan kehidupan saat ini. Nodeflux membuktikan dengan terus bertumbuh bersama tim yang berisi pribadi-pribadi optimis untuk terus memperbesar potensi keuntungan dan menghadirkan risiko dalam taraf minimal. Dari tiga karyawan pada awal rintisan, kini tim keledai pintar didukung oleh talenta-talenta potensial, yang 100% warga negara Indonesia. Suka! 


Pada medio 2019, Nodeflux telah dipercaya menggawangi Jakarta Smart City oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Perwujudan smart governance salah satunya dilakukan dengan pemanfaatan kecerdasan artifisial. Kecanggihan vision artificial intelligence, sebagai keunggulan produk Nodeflux, dalam mengimitasi kecerdasan manusia secara efisien diintegrasikan dengan maha data (bigdata) yang dimanfaatkan sebagai alat evaluasi dalam pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan. Pada akhirnya, pemanfaatan kecerdasan artifisial berimbas positif pada kehidupan masyarakat secara keseluruhan.


"Produk Nodeflux berupa Licence Plate Recognition mampu mengenali dan membaca plat nomor kendaraan dengan teknologi vision artificial intelligence. VisionAIre dilatih untuk membaca plat nomor dalam berbagai kondisi, baik pencahayaan, kondisi cuaca, kualitas gambar, dan jarak untuk memberi analisis yang bersifat real-time," terang Memet.


Kini Nodeflux telah bekerja sama dengan banyak pihak, diantaranya pengelola Trans Jakarta, pos lintas batas negara, kepolisian Republik Indonesia, dan pengelola jalan tol. Terkini, Nodeflux berkontribusi dalam melakukan monitoring dan evaluasi pergerakan masyarakat di tengah Pandemi COVID-19. Kontribusi nyata di bidang teknologi tersebut membuat Ais (dan tim Nodeflux) dinobatkan sebagai penerima SATU Indonesia Award dari Astra Internasional pada tahun 2018 lalu. Apresiasi tak berhenti! Mereka juga meraih NIT Startup Challenges 2019, BPPT Innovator Award 2020, dan ASEAN ICT Award 2021. Jiaaaah, langganan! 

https://wartaekonomi.co.id/

"Keep moving forward aja lah. Kita nggak pernah tahu kan kondisi ke depan gimana" pesan Ais, menanggapi kondisi tidak ideal pada pengelolaan perusahaan dalam masa pandemi COVID-19 ini. Pria yang juga antusias dengan pencil sketching art ini menegaskan ulang misi Nodeflux untuk terus memberi solusi praktis dengan teknologi. Harapan utamanya, produk teknologi Nodeflux bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, sampai pada tataran kehidupan keseharian (daily life). Sisi valuable itulah yang ingin terus dikejar dan penyemangat dalam mengembangkan Nodeflux.


Ais dan Memet mengungkapkan pula rasa senang dengan mulai bermunculannya para data scientist muda di Indonesia. "Artinya, perguruan tinggi sudah mulai melihat kecerdasan artifisial sebagai lahan masa depan ya. Ada yang sudah membuka jurusan atau minimal ada mata kuliah mengenai domain ini," ungkap Memet. Mulai banyaknya workshop atau pelatihan mengenai bidang ini juga dirasa cukup membantu perkembangan bidang kecerdasan artifisial ke depan.


Pada akhirnya, perubahan sebagai konsekuensi kecerdasan artifisial segera tiba. Perubahan itu akan menjadi utopia atau katastrope, justifikasinya ada di tangan kita bersama. Nodeflux mencoba mempersiapkan peradaban teknologi dengan sigap dan take action untuk terlibat. Kontribusi yang sudah dibalut dalam misi mereka memberi kemungkinan skenario masa depan penuh harapan. Do Good Be Nice!

Minggu, 28 November 2021

PENGABDIAN DIPA LPPM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2021


 

PENELITIAN DIPA LPPM UNIV. NEGERI SEMARANG 2021


 

LINTAS SEMARANG MALAM: RUPA-RUPA PERIHAL BERBAHASA INDONESIA KITA

 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Buku ini merepresentasi bahwa teropong aktivitas berbahasa (Indonesia) tak melulu didasari pada kajian teoretis saja. Ahmad Sahidah mengajak pembacanya untuk berwisata bahasa, tanpa menggurui. Bahkan, pembaca dipersilakan untuk mendiskusikan, pun mendebat hasil terokanya yang cermat.

Dari 34 esai kebahasaan yang disajikan, bahasan seru diantaranya soal upaya merawat bin pemertahanan bahasa Indonesia. Sepertinya ini bahasan yang tak bosan untuk terus dikumandangkan. Ajakan untuk meminimalisasi (bukan menolak/anti/alergi) campur aduk penggunaan bahasa asing - Indonesia, yang disebutnya sebagai sebuah "kegenitan" dalam bercengkerama ๐Ÿ˜‰ 

Bahasan asyik lainnya mengenai kiasan binatang dalam aktivitas berbahasa Indonesia. Penulis mengkomparasikan hal tsb dengan bahasa Melayu yang dominan digunakan tetangga sebelah, Malaysia.

Kiasan macam "membabi buta" yang bermakna "kalut" tak berlaku di sana. Mereka lebih memilih "membuta tuli" sebagai kiasan untuk makna yang sama. Artinya, meskipun aktivitas berbahasa bersifat manasuka, penutur tak hanya berupaya mendatangkan keakraban, tetapi juga menghindari ketidaknyamanan. Kita punya banyak kiasan dengan kosakata binatang ya: kuda tunggangan, adu domba, cacing kepanasan, pun - sapi perahan ๐Ÿ„

Bahasan lain mengingatkan kita pula akan stigma atas suatu kata. Kosakata "seronok", misalnya, sering dimaknai tak senonoh. KBBI menyebut makna "seronok" ialah menyenangkan hati dan sedap dilihat/didengar lho! Jadi, jangan ragu memberi pujian kepada teman: "Wah, penampilanmu seronok sekaliiiii" ๐Ÿคช

*bahasan dalam buku ini sudah disampaikan pula dalam LSM-RRI bulan lalu ✌


GEN-AI LITERACY BUDDY: PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Gen-AI Literacy Buddy Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar sosialisasi dan pelatihan praktik baik ...