Minggu, 28 November 2021

LINTAS SEMARANG MALAM: RUPA-RUPA PERIHAL BERBAHASA INDONESIA KITA

 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Buku ini merepresentasi bahwa teropong aktivitas berbahasa (Indonesia) tak melulu didasari pada kajian teoretis saja. Ahmad Sahidah mengajak pembacanya untuk berwisata bahasa, tanpa menggurui. Bahkan, pembaca dipersilakan untuk mendiskusikan, pun mendebat hasil terokanya yang cermat.

Dari 34 esai kebahasaan yang disajikan, bahasan seru diantaranya soal upaya merawat bin pemertahanan bahasa Indonesia. Sepertinya ini bahasan yang tak bosan untuk terus dikumandangkan. Ajakan untuk meminimalisasi (bukan menolak/anti/alergi) campur aduk penggunaan bahasa asing - Indonesia, yang disebutnya sebagai sebuah "kegenitan" dalam bercengkerama 😉 

Bahasan asyik lainnya mengenai kiasan binatang dalam aktivitas berbahasa Indonesia. Penulis mengkomparasikan hal tsb dengan bahasa Melayu yang dominan digunakan tetangga sebelah, Malaysia.

Kiasan macam "membabi buta" yang bermakna "kalut" tak berlaku di sana. Mereka lebih memilih "membuta tuli" sebagai kiasan untuk makna yang sama. Artinya, meskipun aktivitas berbahasa bersifat manasuka, penutur tak hanya berupaya mendatangkan keakraban, tetapi juga menghindari ketidaknyamanan. Kita punya banyak kiasan dengan kosakata binatang ya: kuda tunggangan, adu domba, cacing kepanasan, pun - sapi perahan 🐄

Bahasan lain mengingatkan kita pula akan stigma atas suatu kata. Kosakata "seronok", misalnya, sering dimaknai tak senonoh. KBBI menyebut makna "seronok" ialah menyenangkan hati dan sedap dilihat/didengar lho! Jadi, jangan ragu memberi pujian kepada teman: "Wah, penampilanmu seronok sekaliiiii" ðŸĪŠ

*bahasan dalam buku ini sudah disampaikan pula dalam LSM-RRI bulan lalu ✌


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

-popular posts-