 |
| Sumber: https://digitalbisa.id/artikel/https-digitalbisaid-artikel-https-digitalbisaid-artikel-https-digitalbisaid-dashboard-article-create-6vzeg-6vzeg-6vZEg |
A child who reads will be an adult who thinks! (Proverb)
Kutipan di atas mengingatkan
kembali urgensi aktivitas membaca bagi anak, mengingat jarak yang makin jauh antara
anak dan aktivitas membaca dewasa ini. Literasi dasar membaca merupakan hak setiap anak. Oleh karena itu, perlu
rancangan pola asuh orang tua dan atau orang dewasa di sekitar anak dalam
mempersiapkan anak agar memiliki kecintaan terhadap aktivitas membaca. Pengembangan literasi
dasar membaca dimulai dari keluarga, serta wajib mendapat dukungan dari ranah
sekolah dan masyarakat. Artinya, pola upaya pengembangannya perlu sinergitas
antara ketiga ranah tersebut, tidak dapat dilakukan secara parsial oleh satu atau
dua pihak saja.
Dalam
ranah keluarga, pengembangan literasi dasar membaca dapat diupayakan dalam
bentuk penyediaan bahan bacaan dan pelaksanaan kegiatan literasi bersama
keluarga. Semua anggota keluarga bisa saling memberikan teladan dalam melakukan
literasi di dalam keluarga, dengan berbagai macam variasi kegiatan. Beberapa tantangan muncul dalam upaya mewujudkan hal
tersebut, salah satunya adanya pergeseran dan gap antargenerasi yang kentara
antara orang tua dan anak. Para generasi Z kini mempertontonkan cara
berkomunikasi yang berbeda. Bila Generasi Y cenderung berkomunikasi dengan
teks, generasi Z beralih pada gambar, foto, atau video sebagai medianya.
Mengapa demikian? karena tuntutan generasi kini yang serba cepat dan instan,
serta keintiman mereka dengan telepon pintar (smartphone) atau berbagai perangkat digital.
Kecenderungan opsi
bermain gawai (gadget) yang tinggi
mengharuskan berbagai pihak turut andil mencari solusi, alih-alih menyalahkan atau malah berupaya mengalihkan. Peralihan generasi Z dengan segala ciri
khasnya perlu mendapat perhatian serius. Bagi generasi Z, teknologi bagai
nyawa. Keniscayaan tersebut memosisikan orang tua untuk menghadirkan pemodelan
yang adaptif terhadap perubahan. Pun dalam berliterasi baca, upaya memelihara
lingkungan literasi anak mesti terus dilanjutkan tanpa membenturkannya dengan
tipikal zaman.
Tertarik Buku Elektronik, Terpesona Buku Suara
Desain adaptif tersebut yang coba penulis terapkan dalam
program pengabdian kepada masyarakat, dengan pendanaan dari Lembaga Penelitian
dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Semarang (UNNES) di
SD Negeri Podorejo 3 Semarang. Dalam beberapa sesi pertemuan orang tua dengan
pihak sekolah, kepala sekolah Ibu Dwi Setyowati, S.Pd., M.M, mendapati
kenyataan minimnya bahan bacaan yang dimiliki anak di rumah paling dominan
disampaikan. Sementara, kenyataan lain yang menyertai ialah durasi
“mengonsumsi” gawai yang begitu tinggi.
Menilik kedua fakta tersebut,
penulis dan tim pengabdian mencoba memformulasi solusi dengan mengenalkan buku
elektronik (electronics book atau e-book) dan buku suara (audio
book) yang notebene bisa diakses dengan gawai masing-masing. Pihak sekolah
sangat mendukung ide tersebut dan kami merencanakan pertemuan untuk memberi
pelatihan kepada orang tua dan guru. Pelatihan dikemas dalam suasana santai,
praktik langsung yang diawali dengan membilas ingatan bahwa aktivitas membaca
butuh keteladanan dari orang tua. Untuk menarik minat baca, orang tua harus
menjadi teladan dengan menjadi pembaca yang baik. Anak tidak perlu dipaksa
membaca karena pada dasarnya anak adalah peniru ulung.
Saat pelaksanaan pelatihan
tanggal 23 Juli 2022 lalu, beberapa orang tua dan guru mengkhawatirkan biaya
tambahan yang harus dikeluarkan untuk dapat mengakses buku elektronik dan buku
suara. Kekhawatiran tersebut dapat ditepis dengan pemberian pemahaman terhadap
buku elektronik dan buku suara yang masuk kategori creative commons lisence
books. Artinya, buku-buku tersebut bisa diakses secara bebas tanpa perlu
izin terlebih dahulu kepada penulis atau penerbit. Beberapa laman (website)
buku elektronik yang berisi ratusan bahan bacaan bagi anak yang diperkenalkan
antara lain https://literacycloud.org/,
https://buku.kemdikbud.go.id/katalog/buku-non-teks, dan https://ditpsd.kemdikbud.go.id/buku/kategori/cerita-anak-2.
Selain bebas akses, buku-buku yang disediakan oleh lembaga nonprofit Room to
Read yang bisa diakses di laman https://literacycloud.org/, misalnya, juga tersedia dalam berbagai bahasa
disertai keterangan perjenjangan buku (book leveling), dan pilihan
medium baca. Pilihan bahasa antara lain bahasa Indonesia, Inggris, Spanyol,
Arab, dsb. Adapun perjenjangan buku merupakan keterangan yang memberi arahan
kepada calon pembaca untuk mengetahui peruntukan buku tersebut berdasarkan tipe
atau klasifikasi isinya. Bagi pembaca dini, awal, lanjut, semenjana, atau
mahir. Arahan ini tentunya dapat menjadi petunjuk bagi orang tua dalam memilah
dan memilih bacaan yang sesuai dengan tingkatan anak. Pilihan medium baca yang
ditawarkan pun beragam, ada buku elektronik yang penuh warna dan buku suara
yang ekspresif dibacakan pengisi suara.
Pada akhir acara, orang tua
dominan menyampaikan relatif tidak menemui kesukaran saat mencoba mengakses dan
bersiap membangun interaksi dengan anak dalam aktivitas membaca. Buku
elektronik yang telah berlisensi umum tersebut dapat menjadi gudang bacaan yang
menjadi modal untuk membangun ekosistem literasi dalam keluarga. Kehadiran
medium lainnya berupa buku suara turut menambah alternatif dengan moda baca
lewat telinga. Seru untuk dieksplorasi lebih jauh dan senantiasa dicoba.
*sudah dipublikasikan di portal digitalbisa.id, 18 Agustus 2022
https://digitalbisa.id/artikel/https-digitalbisaid-artikel-https-digitalbisaid-artikel-https-digitalbisaid-dashboard-article-create-6vzeg-6vzeg-6vZEg