TERUS BERKARYA DENGAN TEKNOLOGI SUARA!

https://www.ahead.ie

Type with your voice! 

Begitu moto (tagline) yang diusung dictation.io, salah satu produk kecerdasan artifisial (artificial intelligence) berupa fitur pengenalan suara (speech recognition) tanpa bayar yang akan membantu kita menulis berbantuan narasi suara tanpa perlu mengetik. Yaps, otomatis dan gratis! Diksi dictation yang berarti “dikte” memberi penegasan bahwa aktivitas mendikte gagasan/ide/hal apapun yang ingin disampaikan (dengan suara) bisa dilakukan dan fitur speech to text ini akan membantu menuliskannya. Kok bisa?

Fitur yang didukung teknologi suara ini “dilatih untuk mengenal, mengolah, menginterpretasi, dan mengonversi suara manusia menjadi tulisan dengan berbagai perangkat pintar, seperti telepon pintar (smartphone), tablet, laptop, atau komputer. Kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi ini dapat dimanfaatkan oleh sekretaris, notulis, jurnalis, guru/dosen, reviewer buku, blogger, dan profesi lainnya.

Bagaimana cara mengaksesnya?

1.  Kunjungi www.dictation.io ya!

2. Klik launch dictation dan pengguna akan diarahkan ke sebuah halaman seperti halaman pengetikan yang memiliki tools pengatur tulisan: bold, italic, underline, dan lain-lain.

3. Pada halaman tersebut, pengguna dapat menentukan pilihan bahasa sesuai kebutuhan hasil teks (ketikan) yang diinginkan. Beberapa pilihan bahasa yang familier, yakni bahasa Indonesia, Sunda, Jawa, Inggris, Spanyol, Prancis, Italia, dan lain-lain.

4. Tekan tombol start, kemudian pengguna akan diminta mengaktifkan pelantang (microphone) di halaman tersebut. Setelah muncul notifikasi aktivasi, pengguna dapat langsung klik izinkan.

5. Hapus semua teks ucapan selamat datang yang ada di halaman pengetikan, mulailah bicara, dan biarkan mesin pengetik otomatis bekerja.


https://www.komando.com/

Selain cara akses fitur yang cukup simpel, bagi saya kelebihan mengetik via perintah suara ini adalah fleksibilitasnya. Dalam kondisi tertentu, menangkap ide/gagasan/review dari buku yang saya baca/dengar (audiobook) dalam perjalanan, misalnya, dapat saya lakukan dengan menarasikan beberapa bagian esensial buku yang menjadi poin, menarik, atau quote-able agar tidak lupa.

Atau, saat perlu observasi langsung di kelas untuk kebutuhan awal penelitian/program pengabdian, misalnya, saya mengamati objek/responden dengan mulut yang ‘ndremimil’ terus untuk menarasikan apa yang saya lihat dan rasakan, hahaha, tanpa perlu mengetik sehingga fokus pengamatan lebih terjaga. Hasilnya bisa langsung di-posting atau digunakan sebagai data pengamatan? Bisa. Namun, saya biasa mengintegrasikan terlebih dahulu potongan-potongan narasi yang telah menjadi teks, sesuaikan dengan bahasa tulis, dan… jadi! 😊

Komentar

Postingan Populer