Sabtu, 10 April 2021

POSTER - PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT LPPM UNNES 2020


 

DISEMINASI RISET LPPM UNNES 2019


 

DISLEKSIA - PERKEMBANGAN DI INDONESIA



Buku pada akhir minggu. Nemu buku ini di Gramedia Solo. Sudah kenal istilah disleksia sejak zaman kuliah. Namun, subjudul "perkembangan di Indonesia" -bikin penasaran juga. Eh, benar ternyata, isinya dominan hasil-hasil riset mengenai disleksia yang dibedah oleh sejawat dosen dari FIB UI, Mb Harwintha, dengan jeli dan menjadi bacaan yang bergizi πŸ˜„

Disleksia dipahami sebagai masalah membaca yang dialami anak-anak. Kesuraman bagi penderita disleksi muncul ketika ejekan dari teman-teman bertubi-tubi mengarah padanya. Belum lagi, cap negatif bahwa tidak lancar membaca = anak bodoh 🀒

Disleksia bisa ditelaah dari berbagai sudut: ilmu pendidikan, kedokteran, psikologi, dan studi bahasa (linguistik). Buku ini memberi gambaran ilmiah mengenai disleksia dari sudut pandang bahasa. 

Apa penyebab disleksia? Beberapa riset menyebut hipotesis defisit fonologis yang terkait kesadaran fonologis pada anak yang mestinya sudah dimiliki anak yang baru akan mulai belajar membaca. Ada pula riset yang mencermati kelainan struktur otak penderita disleksia pada belahan otak kiri (lobus temporo-pariental). Eh, ada pula hasil riset yang merujuk pada faktor bawaan/keturunan pula.

Bagaimana mendiagnosis disleksia? Berbagai tes terstandar dari luar negeri dan pengalaman implementasi alat tes tersebut dijelaskan lengkap dalam buku ini. Lalu, bagaimana dengan kondisi di Indonesia?

Penulis, yang juga peneliti, bersama-sama sejawat dari Departemen Linguistik UI sudah mengembangkan alat tes atau instrumen bernama Tes Membaca Satu Menit. Rancang bangun instrumen yang dikembangkan diatur berdasar jumlah dan kompleksitas suku kata.

Walaupun disleksia bukan soal kesalahan pengajaran membaca, kemungkinan orang tua atau pengajar yang terlalu menuntut anak untuk bisa membaca pada usia dini perlu diwaspadai. Mengapa? Sangat mungkin anak akan memaknai membaca sebagai kegiatan yang traumatis 😟

GS A/3

Sabtu, 13 Maret 2021

The Professors: Hikayat Begawan dari Kampus Sekaran (Bagian 3 - Akhir)

Sumber: Dokumentasi Pribadi


The Professors (bagian 3-akhir)
Hikayat Begawan dari Kampus Sekaran.

Tarik napas. Selesai. Butuh waktu lama untuk menggenapi pembacaan kisah para guru besar UNNES ini hingga purna, setelah bagian 1 dan bagian 2. Kali ini cukup banyak coretan, lupa bahwa ini buku pinjaman πŸ˜‚

Kisah Prof. Kasmadi (MIPA) membuat saya membaca ulang beberapa bagian. Bagi beliau, Kimia jelas bukan sekadar nama mata pelajaran. Saya belajar bagaimana pemaknaan terhadap objek  keilmuan berubah, dari sekadar kajian menjadi kecintaan mendalam.

Pun cerita bagaimana beliau 'nangis batin', saat menjadi dekan, beliau menandatangani hasil seleksi penerimaan dosen baru dan salah satu nama yang tidak lolos adalah nama anak sendiri. Menyakini bahwa itu jalan terbaik bagi ananda adalah selipan doa. Sederhana, tetapi buat saya, ini perilaku yang hanya bisa dilakukan oleh pribadi berkelas πŸ₯Ί

*****

Saya senang mendapati kisah Prof. Ani (MIPA). Menurut beliau, tekun dan telaten adalah senjata tajam untuk membedah ketidakbisaan. Bekerja dengan hati adalah takaran kinerja yang memuncakkan usaha. Ambisi positif akan banyak hal ditempatkan beliau dengan rapi agar tidak saling mendahului.

Bagi beliau, studi doktoral bukan sekadar soal capaian akademis. Ada keteladanan yang ingin dibagikan, utamanya bagi anak-anaknya. Bagaimana melumpuhkan pesimis, malas, dan putus asa yang kerap menyelinap dan menjelma menjadi 'sohib karib' πŸ˜„

Bagaimana belajar membangun kapasitas diri banyak ditanamkan para begawan dalam buku ini. Beberapa formula laku hidup kadang memang tidak relevan secara rasional, tetapi kerja keras dan doa bisa menjadi jawaban.

Keteladanan memang model pembelajaran paling klasik dan asyik. Oleh karena itu, 'ia' perlu dihadirkan dimanapun ❤


#diesnatalisunnes
#unnes
#unnesgemilanguntukindonesiamaju



Senin, 15 Februari 2021

AJAIB, ISTIMEWA, KACAU: BAHASA INDONESIA DARI A SAMPAI Z

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Jeda sebentar dari tugas terakhir semester awal. Selesai, 175 halaman pada akhir pekan. Bagi saya, nama AndrΓ© MΕ‘ller (Swedia) cukup familier setelah  beberapa kali membaca tulisannya di Kolom Bahasa Kompas beberapa tahun belakangan.

Ajaib, Istimewa, dan Kacau merupakan pilihan kata utama yang Ia pakai untuk mengambarkan kondisi dan posisi bahasa Indonesia saat ini. Yaps, hasil peneropongannya berwujud renungan kegelisahan, sentilan atau sindiran, ketakjuban, dan rasa gemaaaaas terhadap pemakai dan pemakaian bahasa Indonesia πŸ˜„

AJAIB, mendeskripsi keunikan bahasa Indonesia dari pandangan penutur asing sepertinya. Bahasa hidup yang sederhana untuk dipelajari, tetapi ampuuuuun ketika mulai bertemu reduplikasi, bentuk pasif, sapaan yang beragam, morfologi yang variatif, logat r dan h, serta singkatan dan akronim yang bertebaran dalam komunikasi πŸ˜‚

ISTIMEWA, merujuk pada posisi bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa nasional. Peran besarnya sebagai penanda identitas dengan tetap menggandeng bahasa-bahasa daerah sungguh jempolan. Jadi ingat tulisan di twibbon-nya Badan Bahasa: bahasa daerah terawat, bahasa Indonesia bermartabat. Wuih! πŸ’Ÿ

KACAU, mengkritisi bagaimana bahasa Indonesia digunakan secara serampangan oleh penuturnya sendiri. MΕ‘ller mencontohkan beberapa kekeliruan yang cukup frekuen, salah satunya penggunaan "di" sebagai preposisi dan "di-" sebagai prefiks. Berasa sepele, tetapi dalam bahasa tulis bisa jadi berakibat fatal. Dalam konteks lazim, contohnya

1. Salat boleh dilanggar.

2. Salat boleh di langgar.

Bagaimana? πŸ₯΄

Eksotis, Fantastis, Lucu, Sakti, Unik, dsb adalah pilihan kata lain yang digunakan MΕ‘ller dalam esai-esai pendeknya dalam buku ini. Penelusuran sila dilanjutkan! πŸ“–

Rabu, 03 Februari 2021

SELAMAT TINGGAL = RI JEONG HYEOK

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Akhir pekan dan jeda semester. Selesai baca dua hari ini. Buat saya, novel ini seperti Kapten Ri πŸ˜„. Saya memang bukan drakor mania. Namun, begitu nonton 'Crash Landing on You', satire-satire seru untuk menggambarkan konflik budaya antara Korut dan Korsel, serta sosok Ri Jeong Hyeok membuat saya nonton ulang lebih dari 5x 🀣. Saya pikir saya suka Hyun Bin, pemerannya. Namun, begitu nonton series lainnya dengan pemeran yang sama, eh B saja. Fixed, saya suka Kapten Ri, bukan Hyun Bin πŸ˜†


Pun sama, dari puluhan karya TL yang sebagian besar ada di rak-rak best seller itu, saya sangat hafal judul-judulnya. Namun, saya belum tertarik untuk jadi TL-ers. Topik sensitif mengenai PEMBAJAKAN BUKU lah yang membawa saya untuk menjadi pembacanya kali ini. Begitu membaca bookarazzi milik salah satu mahasiswa, judul novel ini langsung masuk 'wishlist'. Segera meluncuuuur ke toko buku, beli, baca.


Dengan dibantu co-author, saya cukup yakin TL mendesain novel ini sebagai ajang curhat pribadi πŸ˜„. TL tidak segan menampilkan satire di sana-sini. Dua favorit saya, "Lah kalau menurutmu Pram pantas mendapat penghargaan tinggi sebagai penulis, kenapa kamu menjual (dan membeli) buku bajakannya?" dan "Lihat saja, nama toko bukunya: Berkah. Dimana coba letak berkahnya menjual (dan membeli) buku bajakan?" πŸ˜† 


Selain curhat, poin utama yang ingin ditampilkan TL lewat novel ini ialah mengedukasi, bagi produsen maupun konsumennya. Yaps, saat ini yang bisa dilakukannya sebagai penulis yang karya-karyanya jadi sasaran empuk pembajakan, hanyalah sampai tataran mengedukasi saja. 


Melalui tokoh Sintong dkk, TL memberi gambaran betapa posisi penulis yang paling hancur-hancuran dalam lingkaran bisnis ilegal pembajakan buku. Miris, ketika TL mengatakan "Tentu saja murah. Di dunia bajakan, harga buku hanya dilihat dari tebal atau tipisnya saja. (mereka kan tinggal cetak/gandakan saja. Analoginya, mereka cuma ngrampok atau nyuri lah ya)" 🀣


Diksi 'selamat tinggal' dipakai sebagai sebuah ajakan pascaedukasi yang dilakukan. Ajakan untuk meninggalkan atau meminimalisasi kedekatan dengan akses buku-buku bajakan. Semoga berhasil πŸ˜‡

Kamis, 03 Desember 2020

MISKONSEPSI PENDIDIKAN LITERASI

 


Sekolah merupakan salah satu tempat penyemaian budaya literasi. Sejak tahun 2014/2015 pemerintah menggaungkan upaya penguatan budaya literasi di setiap jenjang pendidikan melalui program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 23 Tahun 2015 dinyatakan bahwa GLS juga diarahkan untuk memperkuat penumbuhan budi pekerti peserta didik. Hal tersebut urgen dan relevan dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan makin meningkatnya kuantitas informasi, perubahan format beberapa aspek kehidupan ke dalam lingkup digital, dan kebutuhan pengguna (user) akan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis dalam berbagai bidang kerja. Selang lima tahun berjalan, bagaimana progres implementasi program GLS kini?


Dalam pelaksanaannya, GLS mendapat dukungan penuh dari seluruh pemangku kepentingan (stake holder) penyelenggara, dalam hal ini sekolah yang mengimplementasikan program GLS. Berdasar observasi awal, sebagian besar pimpinan sekolah menunjuk guru mata pelajaran bahasa Indonesia sebagai pelaksana atau “komandan” dalam implementasi GLS. Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat aktivitas berliterasi diidentikkan dengan kegiatan membaca dan menulis, yang menjadi kompetensi dasar dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.


Pemahaman tersebut tidak salah, tetapi konsep literasi tidaklah sedangkal itu. Dalam desain induk pelaksanaan GLS dijelaskan bahwa literasi ialah mendayagunakan seluruh pikiran dan kemampuan/keterampilan untuk menjadi pribadi maju dan inovatif. Literasi mencakup input terhadap pikiran, kemudian upaya memahami atau berpikir kritis, dan muaranya ialah tindakan. Iya, hakikat literasi mestinya dimaknai seluas itu!


Dalam praktiknya, selama pembelajaran tatap muka (sebelum masa pandemi) program GLS terimplementasi dalam kegiatan 15 menit membaca sebelum jam pelajaran utama. Mengenai durasi, beberapa sekolah memiliki rentang waktu dan jumlah hari pelaksanaan yang berbeda-beda. Namun, pola yang dilakukan hampir sama yaitu duduk bersama, membaca senyap (silent reading), buku yang dibaca tidak ditentukan genre-nya, dan diakhiri pengisian jurnal baca harian. Sebagian besar sekolah menerapkan pola yang terus saja berulang, tanpa variasi, sehingga rentan eksploitasi/rasa paksaan dan menimbulkan kebosanan. Apalagi, bila mengingat kesadaran akan pentingnya habitus baca belum tertanam dengan baik dalam diri peserta didik. Oleh karena itu, label “diwajibkan” sering disematkan dalam implementasi program GLS.

 

Miskonsepsi Literasi

Riset terhadap pelaksanaan GLS jenjang SMP/SMA sederajat di Jawa Tengah yang dilakukan penulis dan tim peneliti menyisir beberapa temuan awal, antara lain (1) belum utuhnya pemahaman pihak penyelenggara, yaitu sekolah, terhadap desain GLS, (2) belum ada perencanaan tindak lanjut atau bahkan luaran yang jelas dari implementasi GLS, serta (3) dominan program literasi masih direduksi sebagai kegiatan membaca saja.


Temuan terakhir menunjukkan adanya miskonsepsi dalam implementasi program literasi di sekolah. Miskonsepsi merupakan struktur kognitif (pemahaman) yang berbeda dari pemahaman yang seharusnya. Miskonsepsi dapat membawa akibat yang cukup fatal yaitu terganggunya proses penerimaan ilmu pengetahuan yang baru. Implementasi program literasi yang mestinya menjadi mesin konsumsi dan produksi pengetahuan, saat ini baru sampai pada tataran awal.


Salahkah bila GLS diisi dengan kegiatan membaca? Tidak. Sebagai cakupan literasi dasar, membaca dan menulis merupakan aktivitas fundamental yang mengawali. Namun, bila selesai pada titik itu saja dan terus berulang dalam durasi panjang maka progres capaian peningkatan kecakapan literasi peserta didik akan stagnan; “jalan di tempat”. Pun bila dicermati, indikator pelaksanaan GLS baru berupa kelancaran dan kuantitas peserta didik yang mengikuti. Artinya, baru fase permukaan saja yang sudah dilalui. Sekolah baru menjalankan GLS sebagai sebuah replikasi untuk memenuhi tuntutan dan masuk dalam euforia aturan.

Upaya Refleksi dan Redesain

Miskonsepsi sebagai suatu interpretasi akan suatu konsep tertentu yang tidak akurat atau tidak sejalan dalam implementasi program GLS perlu direduksi. Penyebab miskonsepsi ada beberapa macam, antara lain pemaknaan peserta didik, pengetahuan penyelenggara, metode pelaksanaan program, dan konteks lain yang berpengaruh. Miskonsepsi ditandai dengan ketidakutuhan pemahaman konsep, ketidakberhasilan penyelenggara dalam menampilkan aspek-aspek esensi dari konsep tersebut, serta ketidakmampuan menunjukkan hubungan konsep satu dengan konsep lainnya pada situasi dan kondisi yang tepat.

Setelah proses identifikasi tersebut, dua tindakan yang bisa mulai dilakukan untuk meminimalisasi ialah refleksi kolektif dan redesain pola pelaksanaan GLS. Upaya refleksi kolektif bisa dilakukan dalam lingkup luas dan lingkup terbatas. Dalam lingkup luas, refleksi bersama dinas pendidikan, pemangku kepentingan, dan komunitas terkait diharapkan membuka cakrawala pemahaman. Dalam lingkup terbatas, refleksi bersama pimpinan sekolah, teman sejawat, dan peserta didik diharapkan sampai tataran perencanaan redesain pola implementasi GLS di sekolah tersebut.

Kern (2000) menyebut tujuh prinsip pendidikan literasi yang bisa dijadikan dasar pijakan redesain yang direncanakan. Prinsip-prinsip tersebut meliputi (1) keterlibatan interpretasi dalam program literasi; ada aktivitas lanjutan dari aktivitas dasar yang telah dilakukan (2) program literasi didesain dalam pola kolaboratif antarpihak yang terlibat, (3) implementasi program literasi disusun secara terstruktur, (4) pengetahuan budaya diintegrasikan dalam program literasi, (5) program literasi lanjutan diarahkan pula pada upaya-upaya pemecahan masalah, dan (6) ada aktivitas refleksi diri secara kontinu pasca pelaksanaan program.

Berdasarkan ketujuh prinsip tersebut, implementasi GLS sebagai perwujudan pendidikan literasi di sekolah dapat mulai menekankan aspek-aspek (1) penyesuaian pendidikan literasi dengan tahap perkembangan peserta didik di setiap jenjang, (2) bersifat berimbang; tidak sekadar aktivitas membaca saja, (3) terintegrasi dengan kurikulum; tidak dibebankan pada mata pelajaran bahasa Indonesia saja, (4) kegiatan membaca dan menulis dilakukan kapan saja, (5) aktivitas berliterasi disertai upaya mengembangkan budaya lisan pula, dan (6) rangkaian aktivitas berliterasi turut mengarah pada upaya kesadaran terhadap keberagaman.

Upaya redesain implementasi GLS mesti disertai kemauan dan ikhtiar berbagai pihak, khususnya pihak sekolah. Capaian besar berupa peningkatan kecakapan literasi, pengembangan karakter, dan tumbuhnya budaya baca mesti disertai keteladanan praktik literasi. Pendamping pelaksanaan GLS mestinya tidak sekadar sibuk memberi instruksi atau berhenti sebatas menasehati.   

Artikel telah dipublikasikan di Kalaliterasi, 30 November 2020
http://kalaliterasi.com/2020/11/30/miskonsepsi-program-literasi/  
    

GEN-AI LITERACY BUDDY: PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Gen-AI Literacy Buddy Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar sosialisasi dan pelatihan praktik baik ...