Kamis, 12 November 2020

MEMBIDIK KETUNTASAN TRI DHARMA DALAM RUANG VIRTUAL

Penetapan masa pandemi COVID-19 mulai bulan pertengahan Maret lalu membawa perubahan dalam tatanan pelaksanaan pendidikan, termasuk pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Saya masih ingat, ketika itu awal semester Genap 2019/2020 baru saja dimulai. Saya baru sempat dua kali melakukan perkuliahan tatap muka. Semangat dan optimisme sedang amat menyala dan tersurat jelas di setiap wajah mahasiswa.

Keputusan penyelenggaraan perkuliahan daring (online) oleh pemerintah mesti direalisasikan dengan amat segera, termasuk di Universitas Negeri Semarang (UNNES). Pihak kampus segera menyusun dan menetapkan berbagai kebijakan internal dengan mempertimbangkan berbagai aspek, khususnya terkait protokoler kesehatan. Tak berselang lama, rektor mengeluarkan surat keputusan bagi kami, seluruh civitas akademika. Hakikatnya, penyelenggaraan dan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pengajaran (perkuliahan), penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat tidak diberhentikan. Tri Dharma tahun ini mesti tetap dituntaskan meski melalui medium virtual.

Adaptif terhadap Perubahan

Perubahan pola yang cukup mendadak menuntut seluruh komponen dalam kampus untuk bersikap adaptif. Tentu saja, hal tersebut bukan sesuatu hal yang mudah. Berbagai kendala dan hambatan ditemui di sana-sini, baik yang bersifat teknis maupun nonteknis. Dalam penyelenggaraan perkuliahan misalnya, kendala teknis dijumpai saat penyesuaian pola perkuliahan daring berbasis learning management system (LMS).

UNNES telah cukup lama mengembangkan LMS bernama Electronic Learning Aid (ELENA). LMS mandiri ini telah disosialisasikan beberapa tahun belakangan karena memang Bidang Akademik telah membuat dan menjalankan rancangan awal perkuliahan dengan sistem blended learning (mixed antara perkuliahan tatap muka dan pola daring). Walaupun sosialisasi dan implementasi telah dijalankan sebelumnya, bukan berarti mudah mengaplikasikan ELENA hingga pada tataran nyaman. Sebagian dosen masih agak gelagapan ketika harus beralih dari pola penyampaian perkuliahan secara langsung dan atau pola blended learning ke pola full online learning. Banyak penyesuaian yang harus dilakukan, termasuk bahan ajar yang mesti berubah dalam format daring pula.

Dalam pola perkuliahan daring, dosen juga dituntut untuk menguasai teknologi informasi secara mumpuni. Pada masa ini, kecakapan berliterasi digital menjadi sebuah keniscayaan; tidak bisa dihindari lagi. Selain itu, tuntutan lainnya ialah penyesuaian pada hal-hal yang bersifat nonteknis. Contohnya penyesuaian terhadap perubahan jam kerja yang fleksibel dan manajemen diri yang sinkron antara urusan pekerjaan dan urusan pribadi karena pola bekerja dari rumah (work from home) turut menghadirkan suasana kerja yang berbeda pula.

Selain dosen, kendala perkuliahan daring pun dialami para mahasiswa. Pada akhir perkuliahan Genap awal Juli lalu, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES mengadakan survei intern terhadap 210 mahasiswa  dari dua program studi mengenai permasalahan dalam perkuliahan daring yang mereka temui selama satu semester terakhir. Hasil survei menunjukkan 1) mahasiswa merasa kurang mantap bila tidak melakukan perkuliahan tatap muka, 2) mahasiswa terbebani dengan kuota internet yang cukup mahal, 3) susah sinyal, 4) berharap tugas/instruksi dosen lebih diperjelas, dan 5) susah mengatur waktu selama berkuliah dari rumah.

Hasil survei tersebut sangat penting untuk dicermati oleh seluruh komponen sebagai bahan refleksi atau evaluasi untuk persiapan perlaksanaan perkuliahan daring semester ini. Keterbatasan anggaran dan ruang gerak selama pandemi menjadikan berbagai pihak terkait perlu membuat skala prioritas untuk meminimalisasi kendala-kendala tersebut.

Pelaksanaan Tri Dharma

Bagi dosen, selain penyelenggaraan perkuliahan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat juga mesti dituntaskan dalam waktu yang kurang lebih bersamaan. Masa pandemi ini membawa perubahan dalam pola riset dan pengabdian pula. Semua menjadi serba daring. Dalam proses pengambilan data penelitian, misalnya, saya menggunakan layanan Google form. Teman sejawat dari lain disiplin ilmu, teknik dan sains misalnya, dituntut lebih kreatif dan masif dalam proses pengambilan data riset mereka, yang idealnya mesti terjun ke lapangan/laboratorium secara langsung. 

Dalam proses pengabdian kepada masyarakat, karena anjuran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan pembatasan fisik maka pengabdi perlu mengganti pola pertemuan dengan mitra sasaran. Pelatihan/pendampingan dalam ruang virtual kemudian menjadi pilihan yang paling aman dan nyaman berdasarkan kesepakatan. Bisa jadi, hasilnya  memang tidak semaksimal ketika bertatap muka, tetapi minimal ada upaya untuk tidak membiarkan keadaan ini menurunkan tensi semangat mengabdi kepada masyarakat.

Saya meyakini, tumbuhnya berbagai ruang virtual tidak hanya sebuah the new normal tetapi juga the next normal. Fokus, semangat kerja, efisiensi strategi, dan bumbu integritas mesti terus dipupuk dalam mendukung kenormalan-kenormalan baru, sekaligus menjadi pijakan dalam membangun standar kepantasan kerja yang baru pula. Membimbing mahasiswa menjadi generasi muda yang produktif dan kompetitif melalui perkuliahan, terus mengembangkan ilmu pengetahuan melalui kerja ilmiah dalam penelitian, dan mengimplementasikan keilmuan untuk kebermanfaataan masyarakat sasaran dalam rangka pengabdian kepada masyarakat merupakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mesti dituntaskan walaupun sedang dalam keterbatasan.


*Dipublikasikan di Laman UNNES, 12 November 2020
http://unnes.ac.id/gagasan/membidik-ketuntasan-tri-dharma-dalam-ruang-virtual



Jumat, 09 Oktober 2020

PENELITI DAN PENGABDI BERPRESTASI 2020


 

Alhamdulillah. Agak kaget juga ini dapat info mengenai rilis nama Peneliti dan Pengabdi Berprestasi Universitas Negeri Semarang 2020. Tahun-tahun sebelumnya belum pernah ada.

Usut punya usut, ternyata ini semacam apresiasi atas kinerja peneliti dan pengabdi tahun 2019 lalu. Secara pribadi, tidak ada target apapun sih tahun lalu. Intinya menjalankan proses meneliti dan mengabdi semaksimal mungkin saja. Hanya, "energi internal" tahun lalu memang agak berbeda.
1. Observasi awal sebelum penelitian dan pengabdian amat maksimal, sehingga ketika proses menyusun proposal tinggal bikin mind mapping, ngembangin gaya "story telling" dalam menyusun latar belakang, dan cermati kembali tiap inci panduan penulisannya. 
2. Mencermati dan menerapkan ilmu yang diperoleh saat diskusi terpumpun mengenai penelitian dan pengabdian dengan para senior keren: Prof. Amin, Drs. Sunyoto, Dr. Isti, Dr. Nana, Prof. Ocky, dan hmmm... satu lagi dari Teknik Kimia - UNDIP (lupa nama beliau).
3. Selalu teringat ucapan Prof Tjetjep dalam buku Begawan dari Sekaran: "Siapapun atau apapun nantinya kamu, kejujuran adalah hal yang utama. Jangan pernah mengumpulkan hasil kerja ilmiah yang palsu. Manusia hidup yang dilihat adalah integritasnya".

Tahun ini? Be better lah ya!

#semangats

KOMPETISI PENULISAN ARTIKEL JURNALISTIK KEMDIKBUD RI

 


Alhamdulillah. Tahun ini finis di posisi 6 besar lagi. Masih sama seperti tahun lalu.
Not bad lah ya 😂

Ada 3 portofolio karya yang saya ikutsertakan.
1. Menjaga Ekosistem Perbukuan (Tribun Jateng)
2. Di Mana Mahasiswa Bisa Publikasi Karya? (linikampus.com)
3. Minimalkan Literacy Shaming (Tribun Jateng)

Panitia mengonfirmasi artikel terakhir lah yang masuk penilaian tahap akhir.
Artikel tersebut terpantik dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yang saya lakukan tahun lalu.

Tahun depan posisi berapa? Belum tahu lah 😆
Yang pasti saya akan terus membaca, membaca, membaca, dan menulis! 💛

Terima kasih, Biro Kerja Sama dan Humas Kemdikbud RI.
Terima kasih, Tribun Jateng.
Terima kasih, LPPM Universitas Negeri Semarang.

Kamis, 10 September 2020

50 KISAH TENTANG BUKU, CINTA, & CERITA-CERITA DI ANTARA KITA

 


Selesai. Buku tentang buku ini menjamu pembaca dengan berbagai sajian. Pilihan menunya beragam,

▪︎Masa depan perbukuan
▪︎Buku-buku yang merawat ingatan
▪︎Men-display buku di benak pembaca
▪︎Mengintai pasar buku digital
▪︎Sekolah perbukuan di Jerman
▪︎Mode bertahan para penerbit buku
▪︎Kiamat buku cetak
▪︎Kampanye zero defect para editor
Hmm... semuanya lezat untuk disantap 🥴

Menu yang terakhir cukup menawan. Sajian itu menggambarkan kinerja editor di balik layar penerbitan. Paradoksal, makin lama naskah 'dipelototi' makin tak berkurang kesalahan yang ditemui 😆

Meski cara kerja editor penuh kehati-hatian dan 'selalu curiga' di hadapan sebuah naskah, tetap saja konfirgurasi otak editor sering melakukan auto-correct sendiri.

Kadang kesalahan yang muncul memang hanya satu karakter. Namun, bila yang tidak lolos editing tersebut ternyata nama sebuah merek dagang, bagian dari judul di bagian sampul depan, atau mengakibatkan perubahan makna, celaka! Amatlah rugi bila mesti mengulang produksi.

Senin, 07 September 2020

REORIENTASI MAJALAH SEKOLAH

 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Proses pembelajaran tidak hanya dilaksanakan melalui kegiatan belajar mengajar (hardskill) saja, tetapi mesti ditunjang pula dengan pengembangan softskill peserta didik. Salah satu implementasi penunjang tersebut ialah kegiatan ekstrakurikuler. Setiap sekolah memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang beragam untuk kemudian ditawarkan kepada peserta didik. Bersifat tawaran karena peserta didik memiliki kebebasan menentukan pilihan. Beberapa yang ditawarkan, antara lain ekstrakurikuler bidang olahraga, bidang musik, bidang kepemimpinan, hingga bidang jurnalistik. Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler bertujuan untuk mengembangkan kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan di bidang-bidang tersebut di bawah binaan guru pendamping.

Ekstrakurikuler jurnalistik menjadi salah satu pilihan yang diminati peserta didik. Selain sebagai wadah pengembangan minat, ekstrakurikuler ini juga dapat dimanfaatkan untuk menampung ekspresi tulis, sinematografi, fotografi, dan ajang unjuk karya peserta didik. Wujud luaran pembinaan ekstrakurikuler ini dapat berupa pameran foto-foto jurnalistik, nonton bareng dan bedah karya hasil produksi video-video jurnalistik, majalah dinding, dan majalah sekolah.

Beberapa dekade lalu, masih banyak sekolah yang memfasilitasi ekstrakurikuler jurnalistik hingga penerbitan majalah sekolah cetak berkembang baik. Selain untuk media publikasi, terbitan berkala majalah sekolah juga dapat digunakan sebagai media komunikasi antarwarga sekolah dan bahkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) sekolah. Namun, eksistensi majalah sekolah kian terancam kini.

Ya, tidak banyak majalah sekolah yang bisa bertahan. Sebagian kecil memilih untuk mengurangi durasi terbit dan sebagian besar lainnya mati suri atau sama sekali tidak terbit lagi. Pilihan pengurangan durasi dilakukan untuk tetap memertahankan keberlangsungan terbitan majalah sekolah. Beberapa majalah sekolah yang awalnya terbit bulanan, kemudian memutuskan terbit triwulan, menjadi semesteran, hingga hanya setahun sekali, dan akhirnya berhenti terbit.

Beberapa hal yang menjadi kendala, antara lain (1) kurangnya pendanaan, untuk dapat menerbitkan majalah sekolah secara kontinu memang memerlukan dana untuk mencetak, (2) kurangnya pengetahuan dan kompetensi jurnalistik guru pendamping dan pengelola majalah sekolah, sehingga tampilan dan konten terbitan majalah sekolah menjadi monoton dan terkesan kaku, dan (3) format majalah sekolah cetak terkalahkan oleh paparan akses media digital, sehingga peserta didik hanya membaca-baca sekilas saja dan lebih dominan mengakses bacaan dalam format daring (online).

 

Pemertahanan Eksistensi

Upaya pemertahanan eksistensi majalah sekolah sudah pernah dilakukan, tetapi belum maksimal. Salah satu upaya yang pernah dilakukan ialah melakukan kunjungan ke redaksi-redaksi media massa regional. Kunjungan dimaksudkan untuk menambah kompetensi jurnalistik para pengelola majalah sekolah dengan melihat langsung proses produksi majalah dari proses pracetak hingga pendistribusian kepada pembaca. Selain itu, beberapa sekolah juga pernah menghadirkan awak redaksi media massa profesional untuk me-review dan memberi masukan pada terbitan majalah sekolah mereka. Namun, upaya tersebut belum menampakkan hasil yang maksimal sehingga eksistensi majalah sekolah kian tenggelam. Oleh karena itu, perlu telaah dan diskusi untuk mencari solusi yang tepat untuk mengatasi.

Berdasar kendala yang ditemui, upaya yang bisa dilakukan pertama, memproduksi majalah sekolah daring. Peralihan orientasi dari majalah sekolah bentuk cetak ke format daring akan dapat menekan biaya. Sebelumnya, memproduksi majalah sekolah cetak membutuhkan biaya produksi yang cukup tinggi untuk proses layout, desain sampul, dan utamanya percetakan. Dalam format daring, biaya yang diperlukan bisa ditekan, berupa pembelian domain dan pendanaan akses rutin. Bahkan, bila produksi majalah sekolah daring dimulai dari platform sederhana seperti Blogspot atau Wordpress maka tidak perlu pembelian domain atau gratis (Wintarto, 2019).

Bila akan menggunakan domain sendiri, pendanaan hanya dibutuhkan untuk membeli domain pribadi di awal, lengkap dengan hosting-nya dengan biaya yang sangat murah untuk saat ini. Untuk tahun berikutnya, tinggal memperpanjang paket hosting-nya saja. Selain menekan pendanaan, perubahan bentuk majalah sekolah daring juga akan membuka akses pembaca yang lebih luas lagi. Format daring juga mendekatkan majalah sekolah dengan generasi kini (peserta didik) yang lebih dominan mengakses gawai. Saat masih dalam bentuk cetak, jumlah pembaca hanya terbatas pada jumlah eksemplar yang dicetak oleh pihak sekolah saja.

Kedua, pengaturan rubrikasi pada platform daring. Peralihan orientasi menjadi majalah sekolah daring mesti dibarengi dan diimbangi dengan kompetensi jurnalistik daring para pengelolanya, khususnya dalam pengaturan konten. Update kompetensi tersebut bersifat mutlak sehingga hasil terbitan daring menjadi berbeda dan lebih menarik. Sebelumnya, majalah sekolah versi cetak masih dibatasi jumlah halaman dan menggunakan format rubrikasi yang kaku. Kini dalam format daring, konten majalah sekolah perlu berbagai penyesuaian dengan mengedepankan rubrikasi sesuai platform daring.

Pengaturan rubrikasi konten majalah sekolah bisa menjadi lebih luwes karena tidak ada pembatasan jumlah halaman. Selain itu, pengelola majalah sekolah juga perlu belajar mengidentifikasi dan mengevaluasi konten yang perlu dipertahankan dan yang perlu diubah berdasarkan jumlah “kunjungan” pembaca. Dalam jangka panjang, majalah sekolah daring dapat pula dirancang sebagai media yang mampu menangkap peluang komersialisasi, yang sinergis dengan pewujudan jiwa kewirausahaan peserta didik.

Formula solusi tersebut diharapkan dapat memberi andil dalam upaya pemertahanan eksistensi majalah sekolah. Eksistensi yang kian terpuruk akan menutup akses majalah sekolah dan membawa beberapa konsekuensi buruk, antara lain (1) menyempitnya wadah ekspresi tulis dan medium publikasi karya peserta didik, (2) menumpulkan peran ekstrakurikuler jurnalistik, dan (3) tertutupnya sarana komunikasi diantara warga sekolah, pemangku kepentingan, dan masyarakat luar sekolah.

*Telah dipublikasikan di Harian Suara Merdeka, 4 September 2020
https://suaramerdeka.news/reorientasi-majalah-sekolah/


Jumat, 19 Juni 2020

MEMASYARAKATKAN BUKU


Penyebaran virus Corona membawa perubahan yang cukup besar dalam pola kehidupan masyarakat saat ini. Setidaknya, imbauan dari pemerintah agar masyarakat melakukan pembatasan fisik (physical distancing) dan mengurangi aktivitas di luar rumah telah membentuk rutinitas baru. Hal tersebut juga memberi pengaruh pada ruang gerak fisik masyakarat. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk berinovasi dalam mengupayakan dan mengakses aktivitas edukatif dengan tetap menjaga jarak aman, termasuk dalam aktivitas berliterasi. Lalu, bagaimana cara menjaga keberlangsungan aktivitas berliterasi saat isolasi? Peralihan dengan penyesuaian perlu mulai digagas ulang kini.

Seperti halnya, momen peringatan Hari Buku Nasional beberapa waktu lalu yang dirayakan secara berbeda tahun ini. Perayaan dominan diselenggarakan secara daring (online) oleh banyak komunitas dan pegiat literasi, serta pelaku industri perbukuan. Berbagai sajian virtual dihidangkan dengan ramuan yang beragam. Diantaranya, kelas-kelas penulisan, bedah buku, diskusi dunia penerbitan, pembacaan karya, hingga program-program pengadaan buku untuk tujuan sosial.

Salah satu isu paling krusial yang dimunculkan ialah upaya memasyarakatkan buku (Budianta, 2020). Ini tantangan yang tidak ringan, terlebih di tengah penyesuaian terhadap kondisi kini. Sebenarnya, isu tersebut bukan hal baru. Jauh sebelum masa pandemi, sorotan terhadap hubungan masyarakat yang belum lekat dengan buku sudah sering dilontarkan. Lantas, mengapa hal tersebut kian menantang?

Momentum Transformasi

Saat ini masyarakat kian mesra dengan teknologi digital. Apalagi, dalam masa pandemi masyarakat kian adiktif terhadap notifikasi (addicted to notifications). Durasi bersama gawai (gadget) jauh lebih lama, selain memang untuk penyelesaian keperluan bekerja atau belajar dari rumah.

Perubahan orientasi masyarakat dari tatap muka ke tatap layar menjadikan komunikasi dengan sistem daring menjadi hal yang tidak asing lagi. Senyampang dengan hal tersebut, mestinya ini menjadi momentum bagi komunitas dan pegiat literasi, serta pelaku industri perbukuan untuk mendekatkan masyarakat dengan bahan literasi yang berbasis digital.

Digitalisasi buku bukan hal baru. Namun, sejauh ini proses pengadaan dan pemanfaatannya masih belum maksimal. Dalam masa rangkak yang sama, digitalisasi buku jauh tertinggal dengan digitalisasi di bidang musik (Lestari, 2020). Bentuk buku elektronik (e-book) atau buku audio (audiobook) sudah saatnya menjadi ranah yang harus dieksploitasi secara total. Selain, memang ditujukan untuk kebutuhan variasi dalam berliterasi.

Medium perantara menjadi penekanan penting kini. Namun demikian, penekanan paling krusial tetap kembali kepada permasalahan awal yaitu revolusi membaca. Kita mulai perlu membedakan antara peristiwa literasi dan praktik literasi. Peristiwa literasi menyasar pada agenda-agenda yang berkenaan dengan dunia literasi. Di dalamnya masyarakat mengamati nilai, norma, identitas, perasaan, atau pengalaman. Adapun, praktik literasi menitikberatkan pada keterlibatan masyarakat untuk menjadi pelaku, bukan sekadar sebagai pengamat. Peran aktif  masyarakat dalam revolusi membaca diharapkan sampai pada level keasyikan bercengkerama dengan ilmu dan terbentuknya budaya baca.

Secara kuantitas, terbitan sebagai sumber bacaan tidak perlu dikhawatirkan lagi. Tidak sedikit komunitas (bahkan multikomunitas) yang bergerak untuk mewujudkan sebuah terbitan, baik dalam versi cetak maupun mulai dalam medium digital. Siapa saja bisa dengan sangat bebas menghasilkan tulisan. Nah, praktik baik literasi mestinya tidak cukup sampai di sini. Perlu kiranya, merayakan esensi membaca dengan mengkonsumsinya.

*Telah dipublikasikan di laman kalaliterasi.com, 17 Juni 2020

http://kalaliterasi.com/2020/06/17/memasyarakatkan-buku/

Senin, 15 Juni 2020

PENGIDAP XENOMANIA BAHASA



Perkembangan zaman turut memberi pengaruh pada perkembangan bahasa Indonesia, terutama dalam penggunaannya sebagai media berkomunikasi. Dalam aktivitas berbahasa kini, bisa jadi sebagian besar pengguna bahasa Indonesia akan kebingungan memaknai, bila disodori kosakata: lokapasar, mancakrida, calir, atau takarir. Padahal, semua kosakata tersebut terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi V (terbaru). Bandingkan bila kosakata yang disodorkan ialah istilah asalnya: marketplace, outbound, lotion, atau caption. Lebih familier bukan?

Masyarakat memang pengguna bahasa yang merdeka. Celakanya, sebagian besar cenderung menyerap dengan “suka cita”. Mereka “menelan” mentah-mentah kosakata-kosakata asing dan tunduk dalam penggunaannya. Akibatnya, penggunaan kosakata-kosakata asing bertebaran dalam medium komunikasi apa saja. Sebuah kondisi yang cukup rawan di tengah-tengah upaya masif pengutamaan bahasa Indonesia.

Fenomena tersebut bernama Xenomania (Adib, 2019) atau Xenoglosofilia (Lanin, 2018), yaitu terlampau suka terhadap segala sesuatu yang asing, dalam hal ini kosakata asing. Bila Xenomania diumpamakan sebuah penyakit, saat ini fenomena tersebut bisa dikategorikan pada level kronis. Pun, para kaum Xenomania sudah masuk kategori penderita aktif.

Bagaimana tidak? berikut beberapa contoh kosakata atau istilah asing yang sering kita temui dan gunakan dalam komunikasi keseharian: workshop,  drive thru, hashtag, parenting, netizen, cyber, talkshow, personal branding, dan sebagainya. Bila dicermati, padanan kosakata dalam bahasa Indonesia untuk kosakata atau istilah tersebut sudah tersedia. Lalu, mengapa istilah-istilah dalam bahasa asing itu seolah lebih berterima?

Bila ingin menghakimi, alasan agar terkesan intelek, dinilai keren, atau alasan lain yang menimbulkan kebanggaan diri, bisa disangkakan dengan mudah dan cepat. Bila benar, maka kecenderungan mengarah pada sikap negatif masyarakat terhadap bahasa Indonesia. Namun, bukankah tidak tertutup kemungkinan ada penyebab lain? Jangan-jangan masyarakat belum mengenal kosakata baru dalam bahasa Indonesia sebagai padanan dari kosakata atau istilah asing tersebut, misalnya.

Mempromosikan Kata

Kosakata baru dalam bahasa Indonesia yang “bertugas” sebagai padanan dari kosakata atau istilah asing yang tengah membanjiri aktivitas berbahasa masyarakat perlu diperkenalkan. Ibarat barang dagangan, padanan kosakata atau istilah baru perlu dipromosikan, disebarluaskan, atau dipasarkan dengan tujuan utama: dikenali dan (kemudian) digunakan. Contohnya, padanan dari kosakata atau istilah asing yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu lokakarya=workshop, layanan tanpa turun (lantatur)=drive thru, tanda pagar (tagar)=hastag, pengasuhan=parenting, warganet=netizen, siber=cyber, gelar wicara=talkshow, penjenamaan pribadi=personal branding, dan sebagainya. Bagaimana, sudah pernah mengenal?

Selayaknya aktivitasi promosi barang pula, maka diperlukan agen iklan yang mumpuni sehingga dapat menarik minat “calon pembeli”. Dalam fenomena Xenomania bahasa ini, mestinya “pemasar” yang dibutuhkan tidak hanya dilihat dari sisi kualitas, tetapi juga kuantitasnya. Menimbang kualifikasi tersebut, perlu kerja “keroyokan” dari berbagai pihak, yang disertai kemauan besar. Rekan-rekan media massa (jurnalis), misalnya. Mereka diharapkan bisa memosisikan diri sebagai “pengiklan”, mengambil peran, dan turut berkontribusi dalam mempromosikan. Mereka memiliki kekuatan berupa kesegeraan dan keluasan jangkauan, walaupun rendahnya literasi baca juga bisa menjadi tembok penghalang. Selain itu, perlu keteladanan berbahasa yang baik dan benar pula dari para pemimpin (pada tingkat nasional hingga daerah), peran akademisi serta pelaku usaha, dan sebagainya.

Upaya nyata juga telah dilakukan pemerintah, dalam hal ini Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan menginisiasi Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik. Gerakan tersebut bisa menjadi “panggung” untuk menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Namun perlu diingat pula, walaupun memiliki kewenangan, jangkauan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui balai-balai bahasa yang ada di seluruh Indonesia tetap tidak akan bisa maksimal tanpa dukungan dari berbagai pihak tersebut.

Bila upaya-upaya mempromosikan padanan kosakata atau istilah baru telah dilakukan, sikap masyarakat penggunalah penentu pamungkasnya. Dalam komunikasi tulis, beberapa pengguna bahasa cermat memberi tanda cetak miring bila menggunakan kosakata atau istilah asing. Ya, sikap baik sebagai upaya menaati kaidah penyerapan. Namun, bila berhenti pada upaya itu saja, tidak akan ada peningkatan dalam upaya pemartabatan bahasa Indonesia. Pun sama, bila pengguna bahasa tak acuh dengan dalih yang penting mitra komunikasi mengerti.

Upaya nonkompromi dalam pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik juga belum bisa serta merta mengandalkan KBBI secara otoritatif. Sebagian besar pengguna bahasa masih nyaman menggikuti konsensus bahasa yang berkembang di lingkungannya. Lalu, perlukah tindakan yang bersifat mewajibkan? Sejauh ini, gerakan atau upaya yang dilakukan masih bersifat imbauan. UU No. 24 Tahun 2009 tentang penggunaan bahasa Indonesia (salah satunya), belum memuat aturan pemberian sanksi bila terjadi pelanggaran kebahasaan. Semoga segera ada kebijakan-kebijakan baru sebelum salah satu identitas bangsa ini mati di negeri sendiri.

*Telah dipublikasikan di republika.co.id tanggal 8 Juni 2020
https://republika.co.id/berita/qbku0y284/pengidap-xenomania-bahasa


GEN-AI LITERACY BUDDY: PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Gen-AI Literacy Buddy Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar sosialisasi dan pelatihan praktik baik ...