Kamis, 29 Januari 2026

GEN-AI LITERACY BUDDY: PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Gen-AI Literacy Buddy Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar sosialisasi dan pelatihan praktik baik (best practice) pemanfaatan AI dengan mempertimbangkan aspek etis secara luring bagi peserta didik SMK Negeri Jawa Tengah. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kecakapan (literasi) AI, khususnya dalam menghasilkan konten grafis dan multimedia. Bertempat di Ruang Ava SMK Negeri Jawa Tengah, Jl. Brotojoyo No. 1, Plombokan, Semarang Utara, pelatihan berlangsung pada Selasa (17/6) dan diikuti oleh 38 peserta didik, serta didampingi guru sebagai mitra pengabdian.


Tim pengabdian terdiri atas Prof. Dr. Rustono, M.Hum., Dr. Santi Pratiwi Tri Utami, M.Pd., dan Dr. Nadia Sigi Prameswari, M.Sn. dari Fakultas Bahasa dan Seni UNNES. Mereka menyosialisasikan pedoman etik penggunaan AI. Materi awal terkait studi kasus permasalahan-permasalahan etis, misalnya konten berbahaya, hak cipta, pelanggaran privasi, dan orientasi konten; serta aspek-aspek etika penggunaan AI, misalnya sikap kritis, kurasi dan validasi kerja AI, mindset produk AI adalah produk setengah jadi, dan sikap jujur dalam mengklaim konten berbantuan AI. Selain pelatihan, tim pengabdi juga memberi pelatihan praktik baik (best practice) pemanfaatan AI dengan mempertimbangkan aspek etis berupa konten-konten dalam format grafis dan multimedia.


Kepala SMK Negeri Jawa Tengah, Dr. Hardo Sujatmiko, M.Pd., yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi yang tinggi atas sinergitas antara SMK Negeri Jawa Tengah dan UNNES, serta berharap kegiatan memberi kebermanfaatan bagi peserta. Adapun, Tristianing Anindita, salah satu peserta menyampaikan kesan bahwa kegiatan ini memberi manfaat terhadap pemahaman bahwa AI bukan hanya terkait kecanggihan tetapi juga nilai-nilai moral bagaimana menggunakan AI. Ia juga berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan secara kontinu. Selain itu, peserta lainnya, Khoirul Huda, memberi testimoni bahwa kegiatan berlangsung seru karena dapat langsung menyimulasikan produksi konten dan berharap pedoman etis AI terus diimplementasikan agar terhindar dari penyalahgunaan.

Publikasi lainnya yang terkait program pengabdian ini dapat diakses pada:

https://www.youtube.com/watch?v=N1vOfsdvr68
https://www.jurnal.faperta-unras.ac.id/index.php/pakdemas/article/view/616


Senin, 26 Januari 2026

SAKIT, SEMBUH, DAN TUMBUH

 

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Selesai dalam sekali buka. Membaca halaman-halaman awal tulisan Dik Praba ini, ingatanku langsung connect dengan materi-materi inner game-nya Mr. Sony dan mindfulness-nya Mas Adjie. Lema "pemulihan" sepertinya tepat merepresentasikan muara akhir dari cerita yang dikisahkan.

Fase sakit, sembuh, dan tumbuh tentu saja bukan tahapan mudah. Sepanjang tuturan dalam 112 halaman, ada banyak pergolakan yang diwakili oleh diksi-diksi nggegirisi macam cemas, gelisah, sulit, tertinggal, sendiri, panik, takut, sepi, kabur, abai, kalah, hilang, sesak, lelah, curiga, terlambat, dan gagal hingga beralih ke diksi-diksi yang ngayemi macam tenang, sadar, bebas, selamat, belajar menunda, berhenti menawar, pasrah, berdamai, memaafkan, membangun, melangkah, menikmati, dan kemudian menghormati. 

Sekian lama pakai "kacamata" orang kupahami sangat melelahkan. Setiap laku berdesak-desakan disertai pikiran berlebih yang mewujud menjadi sepertinya, kayaknya, mungkin, bisa jadi yang parahnya diiyakan oleh hati. Wah, berisik sekali!

Beberapa bagian,

"Ada masa di hidupku ketika tidak ada yang memperhatikan.
Tidak ada yang menyebut namaku." 

"Ada masa ketika aku tidak ingin mendengar siapa pun.
Setiap nasihat terdengar seperti penghakiman.
Setiap doa terasa seperti penghinaan."

Dan, bagian epilog tentang kebaikan, sukses membuatku berlinang. Sesenggukan. Kembali mendekat dengan-Nya sepertinya jalan tepat. Mabruk walau jangan sampai mabuk. Saling mendoakan, agar hati dilembutkan. 

Selamat atas terbitnya karya ini, Dik. Turut senang. Paparan kaya yang tidak banyak "bunga-bunga". Selamat merayakan "penemuan" ini. Betul, setiap orang sedang dalam pertempurannya masing-masing. Yang tidak dekat, bukan berarti jahat (Hlm. 39).


Kamis, 11 Desember 2025

VOLUNTRIP: JELAJAH DESA DAN TANAM KOPI

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Alhamdulillah. Akhir bulan lalu, aku dan keluarga bisa menyempatkan waktu mengikuti kegiatan voluntrip, yang diinisiasi Lembaga Amil Zakat Solo Peduli dan Komunitas Mlipiria. Seperti namanya, agenda ini diadakan dengan format melakukan perjalanan, sekaligus menjadi volunter atau sukarelawan. Perjalanan dilakukan dengan menelusuri atau menjelajah Desa Samiran, di lereng Gunung Merapi-Merbabu, Kec. Selo, Boyolali. Adapun kegiatan volunter diwujudkan dengan menanam bibit kopi di beberapa titik seputaran desa tersebut. Kegiatan ini dibagi dalam 2 batch, kami mengikuti batch 1 pada Minggu pagi, 30 November lalu.

Kami sepakat berangkat H-1 sambil menikmati Selo terlebih dahulu. Menemukan penginapan di daerah ini tidak terlalu sulit, ada banyak homestay yang dikelola warga lokal, penginapan model waralaba, atau hotel-hotel skala nasional. Namun, kami tetap coba meminta rekomendasi panitia agar lebih efisien waktu saat menentukan. Setelah menghubungi beberapa penginapan, pilihan jatuh pada Luxcamp by Horison. Ada beberapa camp mungil yang disewakan, kami menempati Curve Camp bagian paling atas. Soal view? beneran Merapi seperti ditaruh di depan mata πŸ˜€


Sumber: Dokumentasi Pribadi


Bermalam di daerah dengan suhu 14 derajat celcius menjadi pengalaman yang menarik bagi kami. Semua menjadi pengalaman pertama bersama. Alhamdulillah, kami prepare kaos kaki dan baju lengan panjang walau tidak terlalu tebal. Sembunyi di balik selimut menjadi pilihan akhir sambil menikmati tayangan dari fasilitas smart TV di camp, setelah menyantap Indomie rebus bersama 😁 Kinash, sulung kami, sudah angler sejak sore. Lha... Raya, bungsu kami, matanya masih beniiiiing hingga jelang tengah malam. Berkali-kali ia mengubah channel, mulai dari akun yang materi kontennya unboxing mainan, sampai konten-konten cerita horor... hiiiii πŸ‘€tak apalah, anggap saja nemani mamanya yang liburan gitu masih juga bawa dan buka laptop πŸ˜‰

Paginya, kami bersiap mengikuti giat utama. Kami sempatkan sarapan dulu di sebelah lobi camp, tidak terlalu terburu-buru karena waktu cukup dan akan menyusul bila memang teman lain sudah mendahului ke titik pertama. Titik kumpul di pendapa desa sudah ditentukan panitia. Di sana kami disuguhi (lagi) sarapan berupa rebusan. Sayangnya, kami agak terlambat karena menunggu Raya, yang perlu waktu untuk mengumpulkan energi, karena bangun kesiangan, hahaha. Kami langsung menuju titik pertama, alhamdulillah. Teman-teman menyambut dengan baik, panitia pun ramah. Kami sarapan (lagi), hahaha, kali ini berupa jenang pati - bubur dari tepung pati kanji. Karena Kinash dan Raya masih kenyang, aku dan suami saja yang mengambil. Itupun cukup 1 piring berdua, takut tidak nyaman jalan bila perut terlalu penuh 😊 


Sumber: Dokumentasi Pribadi


Pada titik pertama inilah, kami diberi bekal satu bibit kopi. Pendamping menyampaikan jenis bibit kopi ini, tetapi aku lupa πŸ˜ƒ Kami mulai masuk ke area lahan tanam, perlahan-lahan karena jalan yang cukup sempit. Sesekali kami menyimak terlebih dahulu penjelasan pendamping, baik tentang cara tanam, perawatan yang selanjutnya akan dilakukan para petani kopi di sana, dan sedikit tentang kuantitas dan kualitas hasil panen yang biasa didapatkan. Kemudian, kami mulai berpencar, mencari titik tanam yang sudah disiapkan dan diberi tanda oleh panitia. Kinash dan Raya sangat excited sejak masuk area lahan tanam, hahaha, mungkin karena baru pertama dan cuaca sangat mendukung: teduh dan sejuk. Alhamdulillah ❤

Setelah proses tanam, kami menyusuri setiap liku Desa Samiran. Masyarakat dominan petani, baik kopi maupun sayuran, dengan dukungan lingkungan dan area yang subur. Jalan sekitar beberapa meter, kami mampir ke Jenar Kopi Merapi, salah satu industri kecil di desa tersebut. Kami diperlihatkan cara menumbuk hingga menjadi bubuk kopi siap seduh. Beberapa teman mencoba, hingga praktik seduh kopi pula. Di dalam rumah pemiliknya, panitia telah menyiapkan jamuan makan siang. Coba tebak menunya? sayur tumpang dan tempe bacem 😍 tentu saja aku dan suami girang sekali, nemu menu yang otentik begitu, hahaha. Setelah makan, kami bersiap pamit. Eh, ternyata ada pack sayuran kami bisa bawa pulang. Segaaaar semua: tomat, buncis, dan wortel. Alhamdulilah (lagi) πŸ’š

Kami jalan pelan ke camp kembali, beberes barang sebentar, dan checkout. Langsung pulang? tidak dong! Cari deh oleh-oleh khas daerah Samiran sebentar. Walau tertulis oleh-oleh, aslinya untuk kami makan sendiri sih, hahaha. Saat berangkat, kami melewati toko oleh-oleh yang cukup ramai pengunjung. Jadi, tidak pikir lama, kami menuju Omah Jadah Mbah Rubi. Aku memesan mix dalam 1 dus, plus beli enting-enting kacang. Oh, ternyata mix dalam 1 dus berisi: jadah srundeng, wajik, plus tempe dan tahu bacem. Walhasil kami jalan turun ke arah Semarang sambil cocol-cocol jadah ke sebungkus plastik serundeng πŸ˜‚ overall, aktivitas akhir pekan yang menyenangkan bagi kami. Happy, menikmati, dan kenyang sekaliiiii πŸ˜†



Kamis, 30 Oktober 2025

The Art of Reading - Membaca Buku tentang Cara Membaca Buku!

 

Sumber: @tb.lubukata

Menyimak webinar -lebih tepatnya booktalks- yang membahas buku The Art of Reading dua hari yang lalu memberiku beberapa wawasan baru. Buku ini dibahas plus dipromosikan oleh penulisnya langsung: Yogi Theo Rinaldi. Selain ketertarikanku yang besar mengenai literasi dasar baca dan tulis, rasa penasaran pada diksi “art” dalam judul buku itu pula, yang membuatku klik registrasi untuk gabung dalam acara ini. Aku cukup fokus menyimak paparan Pak Yogi sepanjang lebih kurang 40 menit, mencatat beberapa hal menarik, dan coba mengikat poin-poin penting versiku via tulisan ini.

Paparan diawali dari eksplorasi atas beberapa problem yang menghinggapi daya literasi masyarakat di Indonesia sampai dengan saat ini. Seperti biasa, data faktual yang sering dimunculkan untuk mengawali adalah data soal minat baca. Agak sedikit berbeda, Pak Yogi menambahkan kata “buku” setelah kata “baca”: minat baca buku! Artinya, bisa jadi aktivitas membaca hal lain, seperti membaca komentar dan takarir (caption) di media sosial, membaca tekstual minim yang menyertai unggahan video berita, membaca judul-judul click-bait di portal-portal media, yang memiliki banyak peminat, bahkan naik secara signifikan. Namun, kalau objek bacanya adalah buku, hmmm... belum tentu 😊 Beberapa bagian dari buku ini terinspirasi, diadaptasi, dan diintegrasikan dari How to Read a Book-nya Adler dan Doren. Secara anatomi tidak terlalu tebal, terdiri atas introduction dan 4 chapters.

Selain fenomena itu, pilihan kata “art” pada kajian buku ini mengingatkanku kembali bahwa membaca adalah sebuah keterampilan (skill). Pada tataran akademis, skill ini sepertinya belum diasah dengan tajam, baru sebatas pada tataran bisa (baca) belum sampai pada tataran mahir (baca). Oleh karena itu, banyak yang bisa baca, beberapa yang mau baca, tetapi tidak sampai pada pemahaman maksimal atas objek baca. Bahkan, belum ada sikap kritis pascabaca. Nah, “art”-nya baca atau teknik praktik baca seharusnya diajarkan, dikuasai, dan dipraktikkan sebagai alat atau modal untuk mencapai keterampilan membaca. Kita perlu membaca buku tentang cara membaca buku untuk sampai pada kelancaran metabolisme pikiran! πŸ˜Š

Sejauh ini, gap tersebut tidak serta merta diindahkan pemerintah. Hadirnya Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang merujuk pada tiga lingkup, yaitu keluarga (GLK), sekolah (GLS), dan masyarakat (GLM), yang salah satu programnya menekankan pada upaya peningkatan minat baca sudah coba diimplementasikan dan dikawal, walaupun hasilnya (diakui) belum cukup maksimal. Selain soal kebijakan, aktivitas membaca juga butuh sosok untuk dihadirkan. Artinya, kesiapan diri-individu pembaca lah solusi utama dari stimulan baca, yang ditenggarai efektif membawa pergerakan diri ke arah kemauan. Mampu memaknai terlebih dahulu bahwa membaca bukan sekadar aktivitas mata, melainkan juga bagian dari siklus belajar dan berpikir. Hal lain seperti buku yang "bernutrisi", lingkungan baca, pengalaman baca, dan keteladanan orang-orang sekitar adalah amunisi tambahan. 

Minggu, 31 Agustus 2025

JALAN RUHANI SEORANG IBU

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Selesai sekali baca. Buatku, isi buku ini bukan pemahaman baru. Namun, justru berperan amat besar sebagai pengingat akan banyak hal. Pengingat akan ruang dalam diri yang perlu kontinu dibersihi dan waktu yang perlu dikosongkan, bukan sekadar diluangkan.

Jalan rohani seorang ibu, dalam konteks ini, tidak butuh panggung dan pengakuan. Ikhtiar via kelekatan dengan mushaf, doa, dzikir, saum, sedekah, dan bakti atas orangtua pun suami - bisa jadi senjata tak terlihat, jalur cepat, penjaga, sekaligus bagian dari kelayakan diri menjadi tempat turunnya rahmat dan dicukupkan-Nya pertolongan.

Laku ini butuh niat, konsistensi, dan ketulusan dalam gerak yang rutin, berulang, dan bermakna. Apalagi, era ini menghadirkan pribadi yang kadang butuh alasan untuk patuh, pribadi yang mesti ditempa untuk memaafkan berkali-kali, pribadi yang terus diuji: akankah dia akan terus memohon atau berhenti.

Sabtu, 26 April 2025

THE USE OF ARTIFICIAL INTELLIGENCE IN TEACHING WRITING: IS IT A DYSTOPIA?


Sumber Foto: https://www.qiteplanguage.org/majalah


Nowadays, technology is required in the learning process. The integration of technology in a classroom shows that there is a transformation in the pattern of learning. This is in line with the educational development process in Indonesia, which follows the development of the era. Asides, students‘ learning necessities become an influential factor. Several technological-based learning tools come along with the transformation, including artificial intelligence (AI). AI is an intelligent system design which could mimic humans‘ work in the form of automatisation of digital media (Clark, 2020). People’s responses towards AI could be classified into three parts, which are sceptical, flat, and supporting (Tegmark, 2017). The sceptical group acknowledge AI's existence, yet they are pessimistic about its implementation of it. The flat group tends to welcome AI, yet they must adapt to the technology. The supporting group of AI are the most active in exploring its potential, conducting an experiment, and practising its implementation with several further evaluations.

Some issues arise with the emergence of AI, including how the automatisation system offered in the learning process will shift teachers’ roles. This assumption is wrong if we see teachers’ pedagogical skills and experiences, the students’ learning necessities, and the role of teachers in providing contextual and social guidance to their students (Holmes, 2019). The other issue related to (1) AI is the additional costs required to access and subscribe the technology, (2) people deem it not humanistic since the technology views students as having the same characteristics (homogenous), (3) limiting physical or psychomotor activities, (4) making the students more addicted to staying in front of the screen, and (5) being temporarily viral, especially with the existence of the sensational ChatGPT. The growing responses and issues on technology make AI a dystopia in learning. Is it true?

The Implementation of AI in Teaching Writing

Although AI is or is not welcomed by the community, it is pervasively used in all learning contexts, including language teaching. AI becomes a learning tool based on natural language processing, speech recognition, computer-aided language learning, games, translation, and intelligent agent (Pokrivcakova, 2019; Ali, 2020). Some researches show that AI helps in building a learning environment which complies with modernity, improving the engagement with the students, and providing flexibility in learning (Pikhart, 2020; UNESCO IITE, 2020; Miller, 2021). AI has different forms, including various applications.

The implementation of AI’s integration in learning, especially in teaching writing, could be done by using different applications, such as AI Writer, Smodin, Eskritor, Grammarly, AI Kaku, Poem Generator, Plot Generator, etc. Fitria (2021) recommends that the students can use Grammarly since it helps them in proofreading, starting from the spelling, sentence structure, to the grammar of the texts. Yet, the free version of Grammarly has limited features. Plot Generator offers the students different plots of short stories that could help them in comprehending the theoretical concepts in writing, getting through the writing process, and helping them in checking the grammar and vocabularies written in their texts (Sumakul, 2022). Other researches‘ in-depth analysis states that AI is a tool. Hence, teachers is the determining factors in the design of AI utilization in teaching writing. In this case, Utami (2023) mentions that the use of AI writing tools helps the students in writing academic texts, especially in planning and writing phase. Besides, AI writing tools are deemed having flexible accessibility, yet their accuracy and high plagiarism rates should be taken into further account.


From the researches above, the features offered by AI in learning can help the students in learning how to write, despite not being able to help them comprehensively. Teachers are still highly required, especially in strengthening students’ writing competence and giving them systematic feedback. The writing skills should be strengthened, and AI can be used as a supporting tool in learning. Besides, Kleiman (2023) suggests on the use of SPACE framework for the integration of AI in teaching writing. The framework is explained in further details as follows. Set - Setting the objective in writing. Prompt - Prompting AI to produce the required outcome. Asses - Assessing the accuracy, comprehension, bias, and writing quality. Specifically, we cannot trust and depend on AI 100%. To say the least, AI could help us in producing alternative texts which could be use in the next phase of writing. Curate - Curating the produced texts offered or made by AI and deciding the proportion of use in percentage as required. Edit - Editing the AI-produced texts with human power to ensure that the final product is the a good quality text. Hence, we should understand the limited ability of AI in the writing process.


From the discussion, the initial synthesis should affirm that AI gives positive impact in teaching writing, yet it requires a good pedagogical design based on the learning necessities and objectives. In its use, teachers and students are not expected to be trapped on its novelty. Apart from that, we should be strongly resistant that we do not use AI for an instant and forced objective. In this case, the use of AI should not be based on a rushed decision due to its fast development. We should be evaluative to AI by auditing the use of AI in assisting students in learning how to write. In the end, the decision on deeming AI a utopia or dystopia is based on our volition as the user. Trying not to be passive with AI’s development is still in line with understanding that AI’s existence will become mainstream later on.

 

References

Ali, Z. (2020). Artificial intelligence (AI): A review of its uses in language teaching and learning. IOP Conference Series: Materials Science and Engineering, 769. IOP Publishing. https://doi.org/10.1088/1757-899X/769/1/012043

Clark, D. (2020). Artificial intelligence for learning: How to use AI to support employee development. London: Kogan Page.

Fitria, T. (2021). Grammarly as AI-powered english writing assistant: Students’ alternative for writing english. Metathesis: Journal of English Language, Literature, and Teaching, 5(1), 65-78. http://dx.doi.org/10.31002/metathesis.v5i1.3519.

Holmes, W., Bialik, M., & Fadel, C. (2019). ArtΔ±fΔ±cΔ±al Δ±ntellΔ±gence Δ±n educatΔ±on: PromΔ±ses and Δ±mplΔ±catΔ±ons for teachΔ±ng and learnΔ±ng. Massachusetts: Center for Curriculum Redesign.

Kleiman, G. M. (2023). Teaching students to write with AI: The SPACE framework. https://medium.com/@glenn_kleiman/teaching-students-to-write-with-ai-the-space-framework-f10003ec48bc.

Miller, L & Wu, J. G. (2021). Language learning with technology: Perspectives from Asia. Singapore: Springer. https://doi.org/10.1007/978-981-16-2697-5.

Pikhart, M. (2020). Intelligent information processing for language education: The use of artificial intelligence in language learning apps. Procedia Computer Science, 176, 1412–1419. https://doi.org/10.1016/j.procs.2020.09.151.

Pokrivcakova, S. (2019). Preparing teachers for the application of AI-powered technologies in foreign language education. Journal of Language and Cultural Education, 7(3). 135-153. https://doi.org/10.2478/jolace-2019-0025.

Sumakul, D. T. Y. G., Hamied, F. A., & Sukyadi, D. (2022). Students’ perceptions of the use of AI in a writing class. Proceedings of the 67th TEFLIN International Virtual Conference & the 9th ICOELT 2021 (TEFLIN ICOELT 2021), 52-57. https://doi.org/10.2991/assehr.k.220201.009.

Tegmark, M. (2017). Life 3.0: Being human in the age of artificial intelligence. New York: Knopf.

UNESCO IITE. (2020). AI in education: Change at the speed of learning. UNESCO IITE Policy Brief. Author: Steven Duggan. Editor: Svetlana Knyazeva.

Utami, S. P. T., Andayani, Winarni, R., & Sumarwati (2023). Utilization of artificial intelligence technologi in an academic writing class: How do Indonesian students perceive?. Contemporary Educational Technology, 15(4), ep450. https://doi.org/10.30935/cedtech/13419.



*Published LINGO, Vol 4(2) Oct 2024

https://www.qiteplanguage.org/majalah 

Senin, 15 Juli 2024

PELABUHAN TERAKHIR

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Baca beberapa jam, selesai. Salah satu buku hasil nitip dipesankan Pak Suami di lapak online, selain Pak A.R. dan Jejak-Jejak Bijaknya dari Penerbit Imania dan Islamic Montessori Reading & Writing-nya Bentang Pustaka. Subtittle-nya begitu tersurat, kisah kasih dua figur publik, yang kubaca setelah kisahnya Ditto Percussion dan Ayudia Bing Slamet.

Pertama tahu dari IG penulisnya, refleks: "Kenapa judulnya itu sih?" Berasa jadul!😁 tapi spill tipis-tipis di kontennya  berhasil bikin penasaran untuk baca versi lengkapnya.

Kisah kasih Arda NAFF dan Tantri KOTAK menguatkan, tetapi kisah hidup penulis plus keluarganya yang lebih mencuri perhatian. Selalu kagum dengan cara hidup orang-orang sederhana macam bapak ibunya. Bikin iri dengan cara beliau mengajari adab, cara laku diri, dan memperlakukan orang lain.

Sebagai karya pertama, cara menyampaikan cerita sama persis dengan para narablog yang memulai mengisi lamannya. Aroma bertutur semampu, sejujur, dan senyaman penulisnya jelas terasa. Apresiasi tinggi telah berkenan berbagi: bagaimana sesak, perih, stagnan, dan senang harus disikapi. Sambil baca, tak terasa emoticon :) dan :( banyak nempel di sudut-sudut bagian tulisan.

Kosakata yang baru kutahu:
*rungsing πŸ˜€

Selasa, 04 Juni 2024

MENGEDIT NASKAH DENGAN MARKAH

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Buku ini super tipis 🫠 seri pertama dari 12 buku Mr. BT a.k.a Bambang Trim, praktisi di bidang editing. Sejak nerima kiriman buku, baca sekilas, sepertinya merujuk pada materi-materi webinar beliau yang dibukukan πŸ™ƒ Manual editing dengan markah sudah banyak ditinggalkan untuk saat ini. Peralihan ke pola on-screen editing dinilai lebih efisien, bahkan beberapa fitur menyediakan anotasi perbaikan oleh beberapa editor sekaligus secara real time. Namun, pengenalan penggunaan markah bagi calon editor atau editor pemula dirasa penting untuk menajamkan intuisi. Manual editing dengan markah dilakukan bertahap mulai dengan mengenali tanda atau simbol yang digunakan, menyiapkan naskah yang akan digarap, dan penggunaan alat sederhana (pensil warna, spidol, dsb). Markah biasanya dibubuhkan dalam teks dan pada margin. Markah bisa coba diramban dengan kata kunci copy editing mark atau proofreading mark.

HATI YANG GEMBIRA ADALAH OBAT

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Buku ini hidupnya Sophie banget, yang kali pertama kudengar dari sang suami -Pongki Barata- di siniar All U Can Hear πŸ˜€ Seperti tipikal ujian bagi manusia lainnya, Sophie diberi kesempatan oleh Tuhan untuk banyak belajar dari 'pertempuran' hubungan internal dalam keluarga.

Sophie banyak cerita bagaimana harus berpanjang sabar, melembutkan hati, dan menormalisasi sengatan ketidaknyamanan sebagai langkah awal untuk mengenali penerimaan. Bagiku, kesediaan untuk tidak menyimpan kesalahan orang lain ialah deskripsi cerita yang paling terasa 🀍

HIDUP SEDERHANA

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Membaca buku ini mengulang pengalaman yang sama dengan laku baca buku Desi Anwar sebelumnya. Penuh catatan sederhana, 53 tulisan seperti disepuh dari buku diary: dekat, lekat, tanpa sekat. Siklusnya pun agak beragam, ada cerita masa kecil hingga era dewasa yang penuh muatan.

Kisah 'Menjadi Kanak-Kanak' terfavorit, mengajak berefleksi untuk tidak angkuh mengakui kebodohan diri, mengonfrontasi dengan mengecilkan volume selirih mungkin, mundur sebentar, membiarkan diri pada proses yang tidak instan agar tidak terulang. Dunia orang dewasa yang mudah melakukan penghakiman bisa jadi memang monokromatik (Hal. 16). Pengingat diri pula bahwa mengetahui aib seseorang tidak otomatis menyulap diri menjadi suci.

Kisah 'Sakit' mengajak pembaca peka atas alarm diri. Tubuh, perilaku, sikap orang lain adalah alat pengingat atas hal-hal yang sangat mungkin salah karena abai, kengototan, ketidaktahuan, atau kekhilafan (Hal. 91). Jalan pelan-pelan, menangkap momen, lalu menyederhanakannya, bisa menjadi pilihan untuk mendapatkan energi baik kembali.


Minggu, 04 Februari 2024

SEKOLAH TANPA JURUSAN

Sumber: Dokumentasi Pribadi



Begitu selesai baca buku ini, satu hal yang terpatri: bikin coretan etnografi kelas gini ternyata seruuuu sekali! 🫠 iyaps, buku ini cerita tentang bagaimana teman-teman Sanggar Anak Alam (SALAM) di Yogyakarta meracik kurikulum sendiri: berdaulat penuh atas pokok bahasan, sumber informasi, media belajar, dan bahkan indikator keberhasilannya secara mandiri. Laku sinau yang organik dan fleksibel tersebut diceritakan langsung oleh tangan pertama: penulis, yang juga fasilitator di SALAM.

Catatan-catatan penulis detail dan menegaskan bahwa anak-anak di sana tak melulu menjadi objek pendidikan, sebaliknya, mereka ialah subjek pencari pengetahuan. Oleh karena itu, diksi-diksi: kesepakatan, keterlibatan, diskusi, kesadaran diri, konsekuensi, dan refleksi sering muncul. Alur belajar berbasis riset-riset sederhana mengawali penjelajahan pengetahuan dengan keingintahuan, keprihatinan, dan kerisauan. Riset bagi mereka bukan sekadar soal teknik/keterampilan, apalagi hanya sekadar soal suka atau tidak suka.

Peristiwa belajar dituturkan penulis dengan jujur, ada banyak poin kendala, kesulitan, hingga hal-hal minus yang ditemui. Fasilitator tidak mutlak berperan sebagai juru narasi. Mereka menempatkan diri sebagai pemelajar pula, tentu saja termasuk belajar sabar πŸ˜„ Mereka senantiasa mengarahkan bahwa bacaan tidak melulu dari buku. Ruang interaksi, peristiwa-peristiwa, orang-orang yang ditemui adalah ruang belajar bagi anak untuk mampu menjadi tuan atas diri sendiri. Oleh karena itu, anak juga dituntun membangun ruang bicara dan ruang dengar dengan sesamanya.


@gernatatiti πŸ‘˜
@bukumojok πŸ‘‹

Kamis, 11 Januari 2024

UJIAN TERTUTUP PROMOSI DOKTOR

 


THE DOOR-TO-DOOR BOOKSTORE

 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Membaca kisah Carl Kollhoff seperti menemukan sosok ideal(is) pencinta buku. Tugasnya sebagai juru antar buku tidak dimaknainya sekadar memindahkan buku dari rak di Toko Buku Gerbang Kota ke tangan para pelanggan. Ia seolah sedang membagi-bagikan makanan, yang masa kedaluwarsanya sangat panjang.

Dalam hidupnya, Carl merasa berkeluarga dengan buku. Ia berbagi rumah dengan rak-rak, kertas-kertas berjilid, dan tinta-tinta. Baginya, memulai patroli pengantaran buku sebanding dengan memulai kehidupan setiap harinya. Bila konon dikatakan bahwa buku akan bertemu dengan pembacanya, Carl mencoba memosisikan diri sebagai penunjuk jalannya.

@penerbitbaca πŸ‘‹

THE TEMPERATURE OF LANGUAGE

 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Bahasa kita adalah bahasa yang tipikal. Satu saja kata yang berbeda bisa mengubah arti. Pun, bahasa memiliki suhu tersendiri. Tingkat hangat dan dinginnya berbeda-beda: bisa merangkul kelelahan ataupun membakar perasaan.

Sorry seems to be the hardest word. Lirik lagu itu kadang masih relevan untuk kehidupan sekarang. Mungkin, ada yang masih ingin mencoba membuktikan kebijakan sosial kuno bahwa suara yang lebih lantanglah yang akan menang.

Lee menyebut ada beberapa kata (ucapan) yang harus sengaja diabaikan. Ya, semua orang tidak akan mengarungi laut dengan cara yang sama. Lebih penting memastikan diri sendiri paham saja, bahwa tanggal kedaluwarsa setiap kesulitan itu berbeda-beda.

*nemu kata baku yang baru 'ngeh' πŸ˜„
terbersit ❎
tebersit ☑

pedesaan ❎
perdesaan ☑

@bukugpu πŸ‘‹

Sabtu, 09 Desember 2023

PRIBADI-PRIBADI PEMBUKA CAKRAWALA

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Buku ini ialah bagian dari serial biografi intelektual terbitan @bukukompas yang menyajikan 'significant person' di bidang pendidikan dan penelitian. Tokoh-tokoh kampus yang punya bobot 'human interest' menjadi kriteria seleksi.

Tentu saja... gaya penulisan jurnalistik sangat kental, cenderung berorientasi historiografi. Selayaknya pascabaca biografi, beberapa catatan penting mengenai jaringan kerja kampus dan 21 profil tokoh lintas geopolitik dengan pergulatan ilmiah masing-masing bisa ditemui. Beberapa nama tidak asing, Prof. Ir. Eko Budihardjo, M.Sc. dari UNDIP yang paling kukenali 😊 

Mereka mewakili idealisme ilmuwan yang membangun kontrol dari kedalaman diri, sekaligus mencoba tidak terpolusi oleh semangat egoistis. Perjalanan sarat ilmu dan pengalaman mereka akhirnya memang butuh dokumentasi tertulis seperti ini.

Rabu, 15 November 2023

-PURNATUGAS-

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi


"Assalamualaikum, Ibuuu..." πŸ˜„

Sapaku untuk Bu Prapti setiap masuk ruang perpustakaan @pascasarjana_unnes, tempatku nebeng 'bersemedi' sekitar 2-3 semester ini. Biasanya, seketika beliau akan mendongak, senyum berseri, dan sesekali rumpi pagi πŸ˜†

Dalam sebulan ini, entah sudah berapa kali beliau menambahkan kalimat "Wah, aku tinggal beberapa hari lagi ya bisa ketemu Mbak Santi..." pascajawab salamku. Iya, beberapa hari ini beliau akan mengakhiri pengabdian sebagai pustakawan di sini. Purnatugas 🏑

Tanggapanku pun selalu sama. Beberapa kali pula kusampaikan betapa senang dan bersyukurnya aku, bila nantinya bisa masuk masa purna dalam kondisi SESEHAT beliau πŸ˜„ Biasanya, beliau akan langsung mengamini dan memberi doa-doa baik yang menentramkan hati.

Selamat menikmati masa purna, Bu Prapti. Semoga rencana buka warung makan, atau nerima jasa katering dan pesanan kudapan, seperti yang selalu Ibu ceritakan dengan wajah berbinar, bisa terealisasi dengan lancar ❤


#humanism
#pribadibaik

Selasa, 14 November 2023

AJARAN BERNAS DARI BU NAS

 

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Tidak usah berlebihan ya… ini peristiwa biasa, yang akan dilalui siapa saja…

Begitu pesan Bu Nas, jelas kudengar dari bilik sebelah. Beliau sedang berbincang dengan ketua jurusan ihwal “perayaan” purnatugas. Kami bertiga di ruang dosen siang itu. Aku tidak sedang mencuri dengar, ketua jurusan sengaja memintaku untuk “bersaksi” atas apa yang menjadi kesepakatan. Sepanjang obrolan, aku lebih sering diam, manggut-manggut, dan berusaha cermat menyimak isi pembicaraan. Pada beberapa bagian obrolan, aku mendapati penegasan atas nilai baik yang telah lama kusematkan kepada Bu Nas: tanggung jawab dan kesederhanaan.

*** 

Aku mengenal Bu Nas sejak akhir 2008. Iya, sudah cukup lama. Menuliskan pengalaman berinteraksi dengan beliau seperti mengingat kembali masa-masa memulai belajar menekuni profesi ini. Beberapa momen baik, terutama dalam kebersamaan di kampus masih terekam hingga saat ini. Pernah pada tahun-tahun awal, aku agak bingung memberi jawaban atas pertanyaan mahasiswa mengenai nilai akhir yang diterimakan. Mahasiswa tahun pertama tersebut mengirim pesan hingga 3x dan bertanya apakah masih bisa mendapat kesempatan perbaikan nilai dengan tugas tambahan. Aku kekeh bahwa durasi dan instruksi tugas yang kusampaikan sebelumnya sudah cukup jelas.

Pagi itu, kulihat Bu Nas rehat di ruang kerja (sebelum renovasi), dalam bilik yang memunggungi jendela. Setelah memulai obrolan ringan, aku bertanya ihwal bagaimana harus menyikapi permintaan mahasiswa yang demikian. Bu Nas memberi arahan berdasarkan pengalaman. Beliau menyampaikan bahwa kontrak perkuliahan di awal pertemuan amat penting untuk dasar menyelesaikan masalah-masalah demikian. Artinya, kontrak perkuliahan bukan sekadar aktivitas awal yang rutin untuk memulai pembelajaran, melainkan pegangan terkait berbagai aturan sampai dengan akhir perkuliahan, termasuk soal penilaian. Bu Nas juga menegaskan bahwa yang disebut kontrak berarti harus disepakati kedua belah pihak, dosen dan mahasiswa.

Kemudian, Bu Nas menceritakan pula pengalaman ketika menemui permasalahan yang sama. Selain ketegasan sesuai kontrak perkuliahan, prinsip keadilan juga perlu digengam saat memberi penilaian. Pemberian kesempatan perbaikan bagi semua mahasiswa dan menggunakan alat ukur penilaian yang sama, misalnya, termasuk ketika mempertimbangkan akan memberi bonus nilai kepada beberapa mahasiswa.

***

Kesempatan belajar dari Bu Nas, aku dapatkan juga ketika turut mengkoordinatori program kuliah kerja lapangan (KKL). Beberapa kali kami memberi pendampingan ke Bali, Malang, Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Pengalaman yang paling kuingat saat pendampingan program KKL tahun 2015. Ketika itu, tujuan program KKL ke Malang-Bali bersama sekitar 170-an mahasiswa dan 8 dosen pendamping. Alhamdulillah agenda berjalan lancar. Namun, sampai dengan hari keempat di Bali, kami mulai menyadari ada ketidakberesan dengan penyedia jasa perjalanan wisata yang kami gunakan. Biro perjalanan tersebut tidak menepati beberapa kesepakatan dengan pihak ketiga yang turut berimbas kepada kami serombongan. Salah satu bus tertahan di penginapan selama beberapa jam sebagai dampak ketidakberesan. Bu Nas memberi arahan kepada kami para dosen pendamping agar tetap tenang, terus mengupayakan solusi, dan meminta keseluruhan agenda KKL tetap dijalankan.

Dalam fokus yang mulai kacau, kami masih tetap menyelesaikan kunjungan akhir di Balai Bahasa Provinsi Bali. Bu Nas berpesan agar pemberitahuan kepada para mahasiswa mengenai kondisi ketidakberesan tersebut ditangguhkan, agar tidak menimbulkan kepanikan. Aku pribadi cukup terpukul ketika itu, mengingat selama bertugas sebagai koordinator, tahun 2015 adalah kali pertama aku terlibat langsung di lapangan. Saat makan malam bersama, Bu Nas mencoba menenangkanku bahwa ini hal baik untuk dijadikan pembelajaran. Beliau mengingatkan bahwa proses pemilihan biro perjalanan ini dilakukan bersama-sama oleh tim. Oleh karena itu, tanggung jawab bukan tanggung jawab pribadi melainkan tanggung jawab bersama yang harus dituntaskan sampai dengan akhir program. Alhamdulillah, rombongan sampai di Semarang sesuai rencana awal dan pihak biro perjalanan bersegera pula menyelesaikan semua permasalahan.

***

Pengalaman mencermati pola kerja Bu Nas pernah kutuliskan pula dalam catatan ringan di Instagram. Kutulis ulang dengan berbagai penyesuaian tanpa mengubah esensi. Ketika itu, (hampir) seluruh dosen jurusan diminta untuk simulasi menggunakan learning management system (LMS) Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai salah satu persiapan sebelum diimplementasikan. Kami dibagi dalam beberapa tim. Aku dan Bu Nas tidak berada dalam satu tim, tetapi tim kami hampir selalu bekerja bersama dalam satu ruangan.

Kegiatan bersama tersebut berlangsung 3-4 hari. Selama kegiatan, aku mencuri-curi amatan dalam beberapa kesempatan. Dalam kinerja hampir seminggu, menurutku pilihan sikap Bu Nas cenderung berbeda. Saat yang lain berburu dengan kecepatan (termasuk aku), beliau konsisten dengan ritme kerja sendiri. Bu Nas selalu mengawali dengan mencermati instruksi yang muncul dari setiap poin tugas. Kemudian, respon yang diberikan pada setiap isian tugas benar-benar hasil diskusi tim. Sepertinya, asumsi ah... paling tugas sekadar formalitas itu tidak berlaku bagi beliau. Apalagi, yang cuma model salin tempel jawaban teman. Beliau bertanggung jawab penuh atas tugas yang sudah di-iya-kan.

Selang beberapa hari setelah kegiatan, jelang dini hari, aku nekat mengirim pesan kepada Bu Nas. Tentu saja, isi pesan kuawali dengan permohonan maaf atas ketidaksopanan. Dalam pesan yang terkirim, aku menyampaikan terima kasih atas inspirasi baik yang beliau berikan. Iya, yang seperti ini: tentang integritas yang dijaga dengan amat pantas. Benar, aku meyakini tidak ada pribadi sempurna. Oleh karena itu, menemukan sisi baik dari seseorang adalah sebuah anugerah dan peluang. Iya, peluang baik untuk meneladani.

***

Sebagai junior, setiap mengingat Bu Nas, aku langsung teringat Bu Prapti pula. Iya, Almarhumah Ibu Dra. Suprapti, M.Pd., yang sudah lebih dahulu purnatugas. Bagaimana tidak, beliau berdua adalah “ibu jurusan” yang perannya tidak melulu soal dunia perkuliahan. Salah satu hal yang masih terasa sampai sekarang adalah ajaran untuk guyup sosial antarsesama warga jurusan. Oleh karena itu, aku senang sekali ketika mendapati momen Bu Nas dan Bu Prapti bersua saat takziah putra pertama Bu Prapti. Kuangkat ponsel segera, cekrek! Berharap jadi dokumentasi atas jalinan pertemanan baik antara beliau berdua.

Dalam durasi yang tidak lama, aku berkesempatan mencermati dan menikmati bagaimana beliau berdua saling bertatap muka, menepuk pundak secara perlahan, dan berbagi tingkah nyaman yang sarat penguatan. Tutur kata keduanya dalam tempo lamban, saling mengingatkan banyak hal lampau dengan menyenangkan. Namun, bagiku yang paling terasa dari komunikasi singkat itu adalah ketenangan. Barangkali, hal itu adalah salah satu indikator persahabatan: yang sebenarnya. Tidak terasa ada kerisauan, tanpa beban, dan riang mengekspresikan perasaan.

***

Sumber Gambar: https://e-katalog.lkpp.go.id/

Mb Santi… Bu Nas pamit ya, besok sudah Kamis…

Rabu terakhir bulan November lalu, Bu Nas berseru demikian sesampai di bilik beliau. Aku segera berdiri, melongok ke kiri, dan mendapati bilik Bu Nas sudah “bersih”. Beliau menyampaikan barang-barang sudah diangkut ke rumah dan esok hari adalah TMT masa pengabdian beliau sebagai pegawai negeri sipil. Berbatas sekat bilik, kami mengobrol sebentar. Kusampaikan terima kasih berulang dan permohonan maaf atas hal-hal yang kurang berkenan selama berinteraksi. Kusampaikan pula serangkaian doa sederhana untuk Bu Nas dan keluarga. Senang sekali mendapati Bu Nas menyelesaikan masa pengabdian dengan sangat baik dan dalam keadaan sehat. Terakhir, beliau menyampaikan rencana-rencana setelah purnatugas. Dalam haru, aku turut mengamini, semoga rencana-rencana baik Bu Nas terwujud dan manfaat. Amin.

*telah dipublikasikan pada Kumpulan Esai "Ajaran Bernas dari Bu Nas"
Penerbit Cipta Prima Nusantara, Januari 2023

GEN-AI LITERACY BUDDY: PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Gen-AI Literacy Buddy Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar sosialisasi dan pelatihan praktik baik ...