Sabtu, 21 Oktober 2017

MENJADI IBU PEMBELAJAR DALAM LIKU PENGASUHAN




Judul buku       : Happy Little Soul
                                                Penulis             : Retno Hening Palupi
                                                Penerbit           : Gagas Media
                                                Cetakan           : Keenam, 2017
                                                Tebal               : xiv+202 halaman
                                                ISBN               : 978-979-7808-86-0



There is no way to be a perfect mother, and million ways to be a good one.
(Jill Churchill)

Menyelami kasih sayang ibu kepada anaknya adalah proses tanpa ujung. Banyak usaha dikerahkan untuk memberi yang terbaik bagi si buah hati. Hal itulah yang dialami dan dituangkan dalam buku ini oleh Retno Hening, seorang ibu rumah tangga, yang dianugerahi putri bernama Kirana. Unggahan foto dan video sang ibu di media sosial Instagram, mampu menyedot perhatian netizen. Akun @retnohening yang memiliki 950 ribu lebih follower terus menebar pesona seorang bocah usia 3 tahunan yang menggemaskan. 

Layaknya yang tersaji dalam kategori buku-buku parenting, banyak tips dan trik dalam hal pengasuhan anak dimunculkan. Namun, ada yang membuat sajian kisah ini menjadi lebih istimewa. Kumpulan cerita ini dituturkan langsung oleh ibu muda, yang terus memberi energi positif, walau dalam keterbatasan pengetahuan dan pengalaman pula. Seolah pembaca diajak “belajar bersama” dalam memahami dunia anak dengan penuh cinta (hal. vii).  

Dalam buku pertamanya ini, Retno Hening memulai kisah dengan bagaimana Ia “merayu” Tuhan untuk segera diberikan momongan. Ini menarik. Tips baik dan sederhana digelontorkan kepada pembaca bahkan mulai dari adab berdoa dan berusaha. Dan ketika doa dikabulkan, keluh kesah selama masa kehamilan hingga menjelang persalinan dikisahkan apa adanya. Ya, sewajarnya ibu dengan kehamilan pertamanya. Antara bahagia, cemas, dan tingginya harapan segera bersua dengan cahaya hatinya.  

Setelah kelahiran Kirana, tantangan belum berhenti. Bahkan “petualangan” baru tersaji apik dengan segala kebimbangan dan kebingungan dalam melakoni peran sebagai ibu baru. Bagaimana pilihan keukeuh-nya untuk memberikan ASI eksklusif untuk new born baby, dibedong atau tidak, pakai atau tanpa bedak pasca dimandikan, digendong atau ditidurkan. Merasa banyak melakukan kesalahan, stres mendengar komentar-komentar sekitar, masih merasakan sakit pasca persalinan, sangat membuat tidak nyaman! Namun, Ia menyadari benar. Sebagai ibu, Ia adalah leader-nya (hal. 25). Ia harus belajar untuk kuat pada pilihan, terus mencari informasi, dan konsultasi kepada yang lebih ahli. Kemauan untuk terus belajar inilah yang dilakukan agar mampu menjadi role model yang baik bagi Kirana nantinya.

Tahap-tahap perkembangan Kirana dilalui dengan pendampingan penuh dari ibunya. Pengalaman Retno Hening sebagai pengajar preschool di Yogyakarta memberi asupan positif walaupun tak lepas dari keresahan dan bahkan ketidaksabaran dalam praktik pengasuhan. Mulai dari belajar merespons gerakan, memahami tangisan, mengajarkan berkomunikasi, membacakan cerita, hingga menyugesti diri sendiri bahwa Kirana akan merasa nyaman dengan perlakuan-perlakuan yang Ia terapkan (hal. 51). Lelah? pasti! Apalagi tanpa bantuan asisten rumah tangga dan tetap menunaikan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Cerita tahapan pengasuhan Kirana dalam buku terbitan Gagas Media ini memang bukan sebuah panduan mutlak. Mengasuh anak tidak selalu soal teori. Bukankah setiap anak itu istimewa? ada baiknya tidak memaksa anak menjadi master dalam semua hal. Mendampingi dan mengarahkan menjadi keniscayaan bagi setiap orang tua. Namun, praktik yang baik harus dipandu oleh teori yang mendukung. Oleh karena itu, belajar teori parenting kemudian disesuaikan dengan kondisi anak dan sekitarnya akan membantu memaksimalkan potensi anak.

Melengkapi kisah yang diselipkan tips pengasuhan, penulis juga mengajak pembaca untuk menjadi orang tua yang kreatif. Misalnya dengan membuat mainan sendiri dari bahan bekas yang ada di sekitar rumah, tentunya dengan turut serta mengajak anak terlibat dalam pembuatannya. Iringi dengan sikap santai, terus berkomunikasi sepanjang kegiatan, dan tidak memaksa. Kemudian, yang tidak kalah penting ialah menemani bermain, sambil memberi contoh kebiasaan-kebiasaan baik yang terlihat sepele namun sangat penting bagi anak kelak. Misalnya mengucapkan terima kasih, meminta tolong, dan menyampaikan permintaan maaf (hal. 114).



Menjadi ibu adalah tentang belajar. Meyakinkan diri penuh kesabaran untuk terus menggali pengetahuan baru dan menjalani tugas yang kadang melelahkan. Menjadi ibu yang sukses tidak lah cukup dengan capaian-capaian yang kasat mata ada dalam diri anak. Perlu diingat, menjadi ibu adalah sebuah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Yang Maha Kuasa adalah penguat langkah untuk mampu menjalani peran dengan rasa syukur dan bahagia. 

*dimuat di koran-jakarta.com, rubrik PERADI, 17 Oktober 2017
Klik 👇
http://www.koran-jakarta.com/cerita-tentang-lika-liku-mengasuh-anak/

**posting di blog adalah versi asli yaaa... 😊

Senin, 25 September 2017

-KANYA SAMADYANING RAYA-



Alhamdulillah… begitu bius mulai meresap, rasanya sudah merdeka… sudah pasrah saja… pejam mata dan doa…
**************************************
Benar. Perempuan identik dengan pertanyaan “kapan?”… ditanya kapan lulus? kapan nikah? kapan hamil? kapan hamil (lagi, hahaha)… dan sudah hamil anak kedua pun tetap dikejar tanya “kapan lahiran?” Kkkkkkkkkkk…

Pertanyaan terakhir itu yang lebih mengiringi momen lahirnya Raya (demikian Kami memanggilnya). Belum mencapai HPL sih, malah nyaris tepat HPL dari dokter. Namun sejak 3 minggu sebelumnya dokter wanti-wanti untuk bersiap, maka setiap ditanya teman dan kerabat, jawabanku “insyaallah segera”. Wajar, namun jawaban itu pula yang memicu ke-baper-an tingkat dewa.

Semacam rasa stres: “Kok belum kontraksi juga ya?”; “Ini beneran tidak perlu obat pacu?”; “Senam hamilnya kurang lama apa ya?”; atau komentar “Duh, belum lahiran (juga) ya?” tanya ibu-ibu perumahan yang kemarin dan kemarin lusanya lagi kuberi jawaban yang sama dari pertanyaan yang sama pula, hehehe… atau ibu penjual sayur yang tak pernah absen usap-usap perut saking besarnya :); belum lagi satpam perumahan yang ikut usil: “Buuu, tarik nafasssss, tahan sebentaaar….” hihhhhh; sampai simbah yang nongkrong di warung langganan berujar mantap sambil memandang lekat: “Ndhuk, iku lahire sesuk isuk…”. Aku dan suami serempak “aamiin…”, dalam hati senang, minimal ada yang mendukung jawaban “insyaallah segera” yang sudah ter-proklamirkan :)

12 September,
Yakin, perut mulai bereaksi. Masih (sok) santai walau pringas-pringis sendirian di kamar. Terpikir ilmu hypnobirthing warisan persalinan pertama untuk mulai diterapkan: GAGAL! Imajinasinya terlalu ngeri, hahaha. Pengalaman induksi saat melahirkan Kinash, terus terang bukan hal yang nyaman untuk disimpan lama-lama dalam ingatan. Belum menyerah, coba lagi. Masih sempat menidurkan Kinash, minta dipeluk, (sok) bergumam-gumam menyanyikan nina bobo’ padahal perut mulai terasa kaku, teratur waktu dan durasi, jelas mulai kontraksi!

Begitu Kinash angler, langsung mantap minta diantar ke RS. Tas perbekalan sudah siap sejak 3 minggu yang lalu, tinggal angkat. Nitip beberapa pesan ke budhe yang momong untuk menemani Kinash, masih sempat riweh: mulai bekal Kinash besok paginya, tolong antar sekolah - pesan Gojek, tidak perlu ikut daycare dulu, urusin kiriman kurir jatah extrafeeding September, wanti-wanti jaga kondisi Kinash karena mau imunisasi MR, sampai minta diambilkan beberapa potong brownies (mikir di perjalanan masih bisa makan-makan, hulalalala, mengakhiri diet karbo yang sudah cukup ‘menguras hati’ 3 minggu fulldudududu)

Sampai Roemani, pembukaan 3. Masih sempat telepon mbah Uti, kasih kabar, mohon doa. Begitu sampai bangsal perawatan, tak banyak yang bisa dilakukan selain menunggu pembukaan sempurna. Dannn… aku jelas tahu benar, sakitnya menuju level 10 itu akan terulang… ada tempo dan alokasi waktu yang dipastikan cukup lama untuk sampai paripurna. Masih bertahan (walau sudah tidak bisa sok calm lagi, :)). Coba memotivasi diri sendiri: Ah, sudah bukaan 3 sebentar lagi; come on Santi, kamu kan udah berjuang diet karbo (padahal donut tabur gula-nya Dunkin itu enyak, es teller-nya bakso kumis nan segeeeeer dah terlanjur dihindari lho, nasi lemak penang depan Wonder aja mbok tolak kan kemarin, ayolah… tahan dulu, habis itu makan deh sepuasnya, :)). Perjuangan “menurunkan” BB baby teringat lagi, mulai dari 3.8 menjadi 3.4 menjadi 3.7 menjadi 3.9 menjadi 4.4 (hahaha, rekor yang tak menyenangkan). Hanya 1 ucapan dokter yang masih kupegang: “Kalau kontraksi bisa di bawah 4kg, saya masih bisa usahakan persalinan normal”. Jreeeeng, begitu dicek akhir 3.8 kg, berarti bisa “diusahakan”. Malam rasanya sungguh lambat. Reaksi perut makin menguat. Istighfar. Keringat deras dan kaki tangan kebas.

13 September,
13 jam. Yaps, pembukaan 10. Maksimal. Air ketuban pecah manual, perut menggantung, posisi baby mulai berubah, dagu terangkat, dan rahim mendesak. SC? Aku dan suami mengangguk cepat! Dokter masih sempat meluruhkan emosi, mengapresiasi, lalu bergegas ke ruang operasi. Tidak sempat kecewa lama, yang terpikir adalah risiko bila mengambil keputusan terlalu lama atau ngeyel dengan tawaran yang ada. Kata suami: “Kita ‘damai’ saja!” sambil menghadiahi 2 jempol, buru-buru tanda tangan persetujuan keluarga.  

Begitu pintu ruang bedah ditutup, dejavu tontonan serial ER saat kecil dulu :). Mata boleh terpejam, tapi aku memastikan semua perawat bersiap dan menyiapkan segala sesuatu sesuai bagiannya… ada yang sesekali guyonan, melepas ketegangan, lumayan (ya, keadaan apapun, anggap saja lumayannnnn :)). Sayup-sayup sambil masih teriak peringisan (karena kontraksi masih jalan), seorang perawat mengatakan “siapp, Dok!”. Aku membayangkan 3 dokter yang menangani: dokter kandungan, dokter anestesi, dan dokter anak serempak membenahi sarung tangan (eitsss… ini drama bangets). Mata mulai layu, bius sudah tembus.

Buka mata. Suara “krek… krek…” masih sempat terdengar. Bius ulang. Lelap. Selang beberapa menit setelah membuka mata, suster mengendong baby dengan suara kenes-nya “Ibu, ini baby-nya, cium dulu dong!”. Rasanya “nyesssssss”, Alhamdulillah. Ia, beranjak pergi membawa baby menuju ruang tunggu untuk di-azan-i ayahnya dan bertemu mbah Uti. Saat Inisiasi Menyusui Dini (IMD), lekatnya kulit kami, kusertai dengan doa baik yang beruntun tak henti. Semoga salihah, itu yang paling pasti.

25 September,
Karena nama adalah doa. Setiap memanggilnya kelak, doa berulang turut terpanjatkan kembali. Kami sematkan kata Samadya yang artinya sederhana; secukupnya; apa adanya. Ingat pitutur orang tua urip iku sing samadya wae, udinen katentreman njaba-njero :). Kanya ialah perempuan; Virgo, secara astrologi menandakan ia yang lahir antara tanggal 23 Agustus – 22 September. Adapun Raya dapat diartikan besar dalam perspektif manfaat keberadaannya kelak. Doa kami Kanya Samadyaning Raya ialah representasi seorang perempuan sederhana yang memberi manfaat besar bagi orang-orang di sekitarnya. Aamiin.
                ***************************
There is no such thing as a perfect parent, so just be a real one (- Sue Atkins). Belajar lebih sabar, sabar, sabar, dan sabar :). Nggak capek? dalam ilmu parenting --- If you’re not tired, you’re not doing it right! hahaha.

Kradenan Asri – C1
*Kelak, semoga Ia membaca catatan Mamanya ini dengan bahagia – #ketjup sayang :)

-popular posts-