Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

RUMAH KERTAS

Gambar
Dok. Pribadi - Kampus Undip Bacaan diantara koreksian. Yeay… selesai . Tahun lalu lihat novel ini di toko buku online JBS Jogja. Seperti biasa, cermati judulnya, mengintepretasikan isinya, berniat beli, dan baru berjodoh akhir tahun ini. Ilustrasi “Le Libraire” karya Andre Martins de Barros menjadikan sampul novel ini apik dan eksotik! Secara fisik, novel terjemahan ini amat tipis untuk ukuran pembaca novel di Indonesia. Namun, kisah yang disampaikan tidak sedangkal yang ku kira. Novel berjudul asli La Casa de Papel ini kali pertama diterbitkan di Montevideo, Uruguay (2002). Carlos Brauer adalah seorang bibliofil sejati (super parah –kalau menurut saya!). Baginya buku bukan sekadar alat belajar, yang layak untuk didiskusikan, atau sekadar dicokok untuk menambah wawasan. Di matanya, buku adalah benda diam yang menantang. Setiap lembarnya seolah menyeru-menyeru minta perhatian. Di tangannya, takdir buku seolah berubah menjadi peragaan indah sampul dan jilidan. Dalam k...

THE BOOKSTORE TRAVELER

Gambar
Dok. Pribadi - Graha Sartika  Liburan dan bacaan. Selesai. Membaca buku ini serasa diajak traveling beruntun, dari toko buku satu ke toko buku lainnya, lingkup Solo dan Jogja. Menyenangkan! Beragam. Di area Solo, petualangan dimulai dari toko buku berkonsep kios macam TB Ar Royyan, yang berkonsep instagramable macam Susano Book, yang berkonsep lapak macam loakan di Gladak dan Busri (mburi Sriwedari), serta toko buku legend macam TB Sekawan dan Budi Laksana. Traveling lanjut ke toko buku yang berkonsep wirausaha kampus macam UMS Store dan UNS Store, hingga retail modern macam Gramedia (Slamet Riyadi, Solo Square, Grand Mall, The Park, dan Hartono Mall) serta Togamas. Sepanjang perjalanan di Solo, aku bernostalgia dengan loakan di Busri. Awal masuk kuliah, aku membeli KBBI, kamus sejuta umat John Echol dan Hassan Shadily, dan beberapa buku teks kuliah di sana. Hal menarik kudapati saat cerita perjalanan singgah di UMS Store. Konsep belanja buku via voucher pada...

BERUMAH DI BUKU

Gambar
Doc. Pribadi - FBS UNNES Yasss... hujan dan bacaan. Salah satu koleksi -buku tentang buku- ini sudah lama kuintai lewat beberapa toko buku daring (online). Baru saat pameran buku Patjar Merah di Semarang kemarin nemu, baca backcover , masuk keranjang, bayar! Selain coba meraup esensinya, modus lain untuk segera menuntaskan adalah mencermati pola nulis esai-nya mas Bandung Mawardi... dan asyik! 😊 By the way, baca kumpulan esai ini seperti membaca 25 buku lawas sekaligus. Sekali bungkus! Yaps, seluruh esai mengolah ihwal (buku) bacaan lawas yang ditemukan, dicecap, dan kemudian dilahap oleh penulisnya. Proses "ditemukan" menjadi kekuatan tersendiri dalam tiap esai. Mengapa? Karena butuh feeling bin hati saat mengorek-orek diantara timbunan buku lawas lainnya di pasar loakan atau pedagang buku second -an.  Proses "dicecap" mengedepankan kuatnya indera penulis dalam mengendus berbagai variasi tema buku lawas yang dihadirkan: politik, sejarah,...

KELAS KAMI DI KEDAI KOPI (3)

Gambar
Doc. Pribadi - Patemon Semalam kami membaca karya dalam temaram. Mati listrik. Tapi cukuplah penerangan dari senter elektronik a.k.a gawai (modern -mode on 😊). Cukup lama. Yaaa... kira-kira sepanjang durasi pertandingan final cabang Sepak Bola SEA Games 2019 😃  Kali ini giliran cerpen romance berlatar Gestapu milik bro Muvti yang didiskusikan. Karyanya keren? bangets. Tipikal tulisan yang runtut, lengkap kap kap kap, detail, dan nyaman-able. Itu penilaian objektif. Yuks, lanjut sesi penilaian subjektif 😊. Menurutku karyanya ini cerita pendek yang tidak pendek. Masih masuk kategori cerpen? iyalah, pasti. Namun, kuantitas kata yang digunakan sempat membuatku tak sabar. Detail tiap laku tokohnya "berbunga-bunga" sekali. Aku memberi apresiasi tinggi pada kemauannya untuk membuat cerita itu "bersih" dari tafsir ganda. Oleh karenanya, kurecoki dia dengan pertanyaan "Kok bisa setahan itu sih, Bro? Kayak gimana outline-nya?" Mungkin karena ...

PENGHARGAAN KARYA JURNALISTIK DITJEN PAUD-DIKMAS

Gambar
Sumber: Dokumentasi Pribadi Selamat teman-teman! Senang menjadi salah satu penerima Penghargaan Karya Jurnalistik dari Ditjen PAUD Dikmas, Kemendikbud RI.  Tahun ini ada 4 (empat) kategori apresiasi: feature, opini, blog, dan vlog dengan tema utama Budaya Literasi Keluarga. Ada 3 (tiga) portofolio karya yang kuikutkan: Menakar Relevansi Read-Aloud Kini (Suara Merdeka, Februari 2019), Stop Bookshaming! (Kedaulatan Rakyat, Juli 2019), dan Menyiapkan Generasi Multilingual (Suara Merdeka, September 2019). Sebagian besar nominator ialah teman-teman jurnalis: Galamedianews, Solopos, Harian Bhirawa, Harian Haluan, Aceh Trend, Suara Merdeka, Koran Sindo, Detik News, Radar Sampit, Harian Bisnis, Harian Surya, Sriwijaya Post, Sindo News, Suara Surabaya, Tribun News, Jember Post. Keluarga HEBAT keluarga TERLIBAT!

Bernostagia via... Na Willa!

Gambar
Na Willa 1 - Cover (Dok Pribadi) Yeay, barusan selesai baca. Mb Reda Gaudiamo melahirkan karakter Willa sebagaimana adanya anak, yang hanya mengenal "hitam-putih" saja. Saya nyaman karena tak ada karakter super sempurna yang dihadirkan; di banyak buku cerita anak, saya sering menemukan karakter yang serba pintar, serba imut, serba bijak, atau serba hebat. Pesan yang disampaikan menyatu dalam tokoh Willa, jauh dari kesan menggurui, bukan pesan yang maha berat, pun tidak selalu berakhir happy ending . Willa bukan template orang dewasa di sekitarnya. Dia pribadi merdeka. Selayaknya sebagian besar anak di kehidupan nyata. Membaca kisah Willa, Bud, Dul, Farida, Mak, Mbok, bu Tini, dan bu Juwita ini membawa saya bernostalgia dengan kenakalan, kecerobohan, keisengan, dan segala macam ketakutan bin kekhawatiran yang meyertai kehidupan masa kecil. Olala! Oh ya, saya jadi teringat sohib kerens sedari TK nih, hahaha. Thankful kepada Post Santa yang sudah mener...