Rabu, 25 Desember 2019

RUMAH KERTAS

Dok. Pribadi - Kampus Undip


Bacaan diantara koreksian. Yeay… selesai. Tahun lalu lihat novel ini di toko buku online JBS Jogja. Seperti biasa, cermati judulnya, mengintepretasikan isinya, berniat beli, dan baru berjodoh akhir tahun ini.

Ilustrasi “Le Libraire” karya Andre Martins de Barros menjadikan sampul novel ini apik dan eksotik! Secara fisik, novel terjemahan ini amat tipis untuk ukuran pembaca novel di Indonesia. Namun, kisah yang disampaikan tidak sedangkal yang ku kira. Novel berjudul asli La Casa de Papel ini kali pertama diterbitkan di Montevideo, Uruguay (2002).

Carlos Brauer adalah seorang bibliofil sejati (super parah –kalau menurut saya!). Baginya buku bukan sekadar alat belajar, yang layak untuk didiskusikan, atau sekadar dicokok untuk menambah wawasan. Di matanya, buku adalah benda diam yang menantang. Setiap lembarnya seolah menyeru-menyeru minta perhatian. Di tangannya, takdir buku seolah berubah menjadi peragaan indah sampul dan jilidan.

Dalam kegilaan terhadap buku, ia terus memburu dan menambah koleksi. Berapa pun uang yang ia punya, dialokasikan untuk belanja buku. Benar saja, koloni raksasa serupa perpustakaan pribadi telah mengambil alih lorong-lorong rumahnya dan menguasai setiap jengkal dinding tuanya. Fumigasi setiap enam bulan dilakukan sebagai wujud “pengasuhan”.

Ia bisa menghabiskan waktu sepanjang siang malam dengan buku. Baginya, pembaca buku adalah pengelana dalam lanskap buatan penyusunnya. Coretan berisi komentar dan catatan yang tak begitu rapi selalu memenuhi marjin-marjin buku yang dibacanya. Sepertinya, Ia tipe pembaca gaya lama! *eh, aku juga, hahaha.

Suatu pagi, ia mendapati asap dari lantai dasar rumahnya. Api telah menelan habis indeks buku yang ia susun mati-matian beberapa tahun ini. Semua ilusi untuk menata kembali perpustakaannya pupus dalam sehari. Ia merasa lenyaplah sudah sejarah diri pribadi.

Dalam brutalisme diri yang belum terkendali, ia memilih pergi. Pesisir Rocha yang sepi mungkin bisa memberi ketenangan tersendiri. Beberapa truk kontainer membawa serta koleksi-koleksi bukunya. Dalam proses pembangunan “rumah” baru di pinggir teluk itu, ia menyuruh kuli/tukang menjadikan buku-bukunya menjadi bata. Iya, bahan baku dinding penyangga!

Brauer ingin buku-buku itu terus menemani, melindungi, meneduhi, dan membentengi. Ia mengantarkan koleksi-koleksinya menemui takdir sepi, yang tak seorang pun akan membukanya lagi. Halaman demi halaman, jilid demi jilid, edisi demi edisi lebur bersama pasir dan kemudian diringkus dengan semen.

Brauer bilang “buku-buku adalah rumahku!”

Selasa, 24 Desember 2019

THE BOOKSTORE TRAVELER

Dok. Pribadi - Graha Sartika 

Liburan dan bacaan. Selesai. Membaca buku ini serasa diajak traveling beruntun, dari toko buku satu ke toko buku lainnya, lingkup Solo dan Jogja. Menyenangkan!

Beragam. Di area Solo, petualangan dimulai dari toko buku berkonsep kios macam TB Ar Royyan, yang berkonsep instagramable macam Susano Book, yang berkonsep lapak macam loakan di Gladak dan Busri (mburi Sriwedari), serta toko buku legend macam TB Sekawan dan Budi Laksana.

Traveling lanjut ke toko buku yang berkonsep wirausaha kampus macam UMS Store dan UNS Store, hingga retail modern macam Gramedia (Slamet Riyadi, Solo Square, Grand Mall, The Park, dan Hartono Mall) serta Togamas.

Sepanjang perjalanan di Solo, aku bernostalgia dengan loakan di Busri. Awal masuk kuliah, aku membeli KBBI, kamus sejuta umat John Echol dan Hassan Shadily, dan beberapa buku teks kuliah di sana.

Hal menarik kudapati saat cerita perjalanan singgah di UMS Store. Konsep belanja buku via voucher pada awal semester, yang diberlakukan bagi seluruh mahasiswa UMS menjadi kebijakan kampus yang seru, (mungkin) setengah memaksa, tapi (hampir pasti) manfaatnya terasa.

Traveling kian seru saat mulai beranjak ke toko buku lingkup Jogja. Transaksi niaga buku di kota itu beraneka rupa cerita. Mulai dari Rindu Buku, Raja Murah, Toko Budi, Berdikari, Buku Beta, Dema Buku, Ksatria Buku (Ambon), Taman Pintar Bookstore, Social Agency, dan Radio Buku a.k.a Warung Arsip.

Lawatan dalam buku ini membuka wawasan mengenai sejarah, strategi penjualan dan (bahkan) pemertahanan, konsep indie publishing, cerita "perkawinan" antara toko buku-cafe-co working space, praktik monopoli, hingga pembajakan buku yang ampung-ampunan kini!

Cerita perjalanan "bergizi" ini juga mempertontonkan proses berliterasi dari sisi belakang panggung. Semoga berkesempatan menapak tilas suatu hari nanti.

Rabu, 18 Desember 2019

BERUMAH DI BUKU

Doc. Pribadi - FBS UNNES


Yasss... hujan dan bacaan.
Salah satu koleksi -buku tentang buku- ini sudah lama kuintai lewat beberapa toko buku daring (online). Baru saat pameran buku Patjar Merah di Semarang kemarin nemu, baca backcover, masuk keranjang, bayar!

Selain coba meraup esensinya, modus lain untuk segera menuntaskan adalah mencermati pola nulis esai-nya mas Bandung Mawardi... dan asyik! 😊

By the way, baca kumpulan esai ini seperti membaca 25 buku lawas sekaligus. Sekali bungkus! Yaps, seluruh esai mengolah ihwal (buku) bacaan lawas yang ditemukan, dicecap, dan kemudian dilahap oleh penulisnya.

Proses "ditemukan" menjadi kekuatan tersendiri dalam tiap esai. Mengapa? Karena butuh feeling bin hati saat mengorek-orek diantara timbunan buku lawas lainnya di pasar loakan atau pedagang buku second-an. 

Proses "dicecap" mengedepankan kuatnya indera penulis dalam mengendus berbagai variasi tema buku lawas yang dihadirkan: politik, sejarah, bahasa, musik, sastra, dan sosial. Pun, dalam beragam bentuk: biografi, kamus, referensi, buku teks, dan antologi.

Aku menenggarai, hanya orang yang berjiwa gandrung-isme terhadap buku sajalah yang mampu menjadi omnilegent! Yaaa... seperti penulis buku ini.

Hingga bagian ujung buku, aku mendapati simpulan: bahasan buku-buku lawas yang "sakral" itu ternyata masih relevan dengan kondisi sekarang. Ia menjadi semacam rumah ingatan yang menampung rangkaian sejarah masa silam.

Ada nostalgia yang ingin dibagikan, mulai dari sebangsa hikayat hingga stensilan. Buku lawas adalah pengabaran waktu. Dan... akan terus begitu!

KELAS KAMI DI KEDAI KOPI (3)

Doc. Pribadi - Patemon


Semalam kami membaca karya dalam temaram. Mati listrik. Tapi cukuplah penerangan dari senter elektronik a.k.a gawai (modern -mode on 😊). Cukup lama. Yaaa... kira-kira sepanjang durasi pertandingan final cabang Sepak Bola SEA Games 2019 😃 

Kali ini giliran cerpen romance berlatar Gestapu milik bro Muvti yang didiskusikan. Karyanya keren? bangets. Tipikal tulisan yang runtut, lengkap kap kap kap, detail, dan nyaman-able.

Itu penilaian objektif. Yuks, lanjut sesi penilaian subjektif 😊. Menurutku karyanya ini cerita pendek yang tidak pendek. Masih masuk kategori cerpen? iyalah, pasti. Namun, kuantitas kata yang digunakan sempat membuatku tak sabar. Detail tiap laku tokohnya "berbunga-bunga" sekali. Aku memberi apresiasi tinggi pada kemauannya untuk membuat cerita itu "bersih" dari tafsir ganda.

Oleh karenanya, kurecoki dia dengan pertanyaan "Kok bisa setahan itu sih, Bro? Kayak gimana outline-nya?" Mungkin karena aku lebih suka yang gercep (dan percayalah ini 11-12 dengan tergesa-gesa bin instan) 😅

Proses penulisan dia ceritakan. Sederhana tetapi mengena. Walau tentu tak harus kutiru sama. Jujur saja di depan tulisan kita, katanya.

Di akhir, Kang Putu menambahkan "terhambat tidak sama dengan terlambat" kan ya? Hambatan dalam menulis itu ada saja. Dalihnya banyak, kesibukan misalnya (#eaaaa). Toh begitu, mestinya tidak membuat kita sudah merasa terlambat untuk memulai (menulis) lagi.

PENGHARGAAN KARYA JURNALISTIK DITJEN PAUD-DIKMAS

Dok. Pribadi - Balai Kartini Jakarta

Selamat teman-teman!


Senang menjadi salah satu penerima Penghargaan Karya Jurnalistik dari Ditjen PAUD Dikmas, Kemendikbud RI. 

Tahun ini ada 4 (empat) kategori apresiasi: feature, opini, blog, dan vlog dengan tema utama Budaya Literasi Keluarga.


Ada 3 (tiga) portofolio karya yang kuikutkan: Menakar Relevansi Read-Aloud Kini (Suara Merdeka, Februari 2019), Stop Bookshaming! (Kedaulatan Rakyat, Juli 2019), dan Menyiapkan Generasi Multilingual (Suara Merdeka, September 2019).



Sebagian besar nominator ialah teman-teman jurnalis: Galamedianews, Solopos, Harian Bhirawa, Harian Haluan, Aceh Trend, Suara Merdeka, Koran Sindo, Detik News, Radar Sampit, Harian Bisnis, Harian Surya, Sriwijaya Post, Sindo News, Suara Surabaya, Tribun News, Jember Post.

Keluarga HEBAT keluarga TERLIBAT!

Minggu, 08 Desember 2019

Bernostagia via... Na Willa!

Na Willa 1 - Cover (Dok Pribadi)

Yeay, barusan selesai baca. Mb Reda Gaudiamo melahirkan karakter Willa sebagaimana adanya anak, yang hanya mengenal "hitam-putih" saja.

Saya nyaman karena tak ada karakter super sempurna yang dihadirkan; di banyak buku cerita anak, saya sering menemukan karakter yang serba pintar, serba imut, serba bijak, atau serba hebat.

Pesan yang disampaikan menyatu dalam tokoh Willa, jauh dari kesan menggurui, bukan pesan yang maha berat, pun tidak selalu berakhir happy ending.

Willa bukan template orang dewasa di sekitarnya. Dia pribadi merdeka. Selayaknya sebagian besar anak di kehidupan nyata.

Membaca kisah Willa, Bud, Dul, Farida, Mak, Mbok, bu Tini, dan bu Juwita ini membawa saya bernostalgia dengan kenakalan, kecerobohan, keisengan, dan segala macam ketakutan bin kekhawatiran yang meyertai kehidupan masa kecil. Olala!

Oh ya, saya jadi teringat sohib kerens sedari TK nih, hahaha. Thankful kepada Post Santa yang sudah menerbitkan ulang. Hai Maesy Ang dan Teddy, saya turut jatuh cinta pada Na Willa nih! :)

Selamat berkeliling nusantara, wahai rombongan sirkus literasi Patjar
Merah. Always support U!

-popular posts-