Jumat, 22 Februari 2019

SENI MENEMUKAN AHA MOMENT!



Ikatlah makna dengan menuliskannya! (Hernowo)
***catatan partisipatif dalam “Pelatihan Terintegrasi Penguatan Output Akademik Dosen” FBS Universitas Negeri Semarang di MG Semarang Town Square Hotel, 19-20 Februari 2019.

Day 1.
Research as a practice!
Demikan salah satu pernyataan pembuka Mr. Teguh Wijaya Mulya dalam paparan materi sesi “Pendalaman Teknis Metode Kualitatif” hari ini (19/2). Memaknai practice berarti harus bersiap mengatur diri. Bangunlah everyday habit sebagai peneliti! begitu petuah narasumber dari Fak. Psikologi Universitas Surabaya ini.
Habit apa saja? 6M: 1) mengatur waktu, 2) membaca, 3) menyusun reading note, 4) menulis, 5) mengedit, 6) membuat komitmen dengan diri sendiri, bahwa meneliti bukan suatu aktivitas instan!

Mengawali sesi, Mr. Teguh menyodori pertanyaan sederhana “Anda melakukan penelitian karena …”. Satu kata yang auto muncul dalam benak ialah KEWAJIBAN. Biasanya yang refleks muncul itulah yang paling jujur. Ada dua klasifikasi tujuan penelitian bagi dosen:
1) Penunjang performance profesi yaitu memaknai penelitian sebagai keharusan atau tuntutan tri dharma perguruan tinggi, untuk syarat kenaikan pangkat, dll.

2) Mastery yaitu keinginan untuk memberikan solusi atas suatu permasalahan, melakukan pembuktian terhadap suatu teori/konsep, mengulik suatu fenomena, dll.

Terkait tujuan kedua, diingatkan pula bahwa penelitian (dan pengabdian) merupakan pembeda aktivitas profesi dosen dengan profesi lain. Jadi, harus sebaiknya dilakukan dengan penuh amanah. eihhh… mulia!

Metode kualitatif membutuhkan literature yang spesifik. Satu poin yang saya garis bawahi dari “modal” publikasi kualitatif ialah insightfulness, apaan tuh? orisinalitas! Peneliti diharap mampu menyentuh atau mengulik sisi unik dari suatu permasalahan/fenomena. Insightfulness menyangkut kedalaman bacaan, keberakaran pemikiran, jeli membidik knowledge gap, dan kreativitas dalam menawarkan perspektif baru. Artinya bukan sekadar melaporkan data yang terkumpul. Dalam kualitatif, memperbanyak data tidak berbanding lurus dengan kualitas! Nah… mengulik-ulik insight merupakan sebuah “seni” – ada saatnya peneliti menemukan (ahaaa) moment tersebut. eihhh… semoga!

Berikutnya, narasumber membahas academic writing. Teknik P-E-R-L diketengahkan.
POIN - argumen
EVIDANCE – bukti/fakta
RELEVAN – argumen lanjutan
LINK – hubungkan!

Proses menulis tidaklah sekali jadi. Capek? iya! berpikir itu (memang) melelahkan sekali. Lho dalam menulis ada proses berpikir? yaps! constitutive not representative. So, bukan sekadar melaporkan. Dalam academic writing, proses menulis untuk menciptakan pengetahuan; menggodok pemahaman konseptual. Peneliti sangat perlu mengasah terus cara dan pola menulis. Caranya? balik pada rumus awal: practice! plus ditempa dengan peer review.

[practice makes perfect! ---- eihhh, cakeepp!]

           *********************************************************************
Sesi berikutnya mengenai literature review, research gap, submission, dan editing process disampaikan oleh Mr. Agus Wijayanto dari Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tidak banyak catatan. Why? cukup jelas transfer ilmu via slide-nya (uhuy!), plus dominan sharing pengalaman. Mengena. sharing is caring. Alasan yang kedua, karena saya mendahului meninggalkan sesi ini sebelum Magrib tiba, balik hotel lagi pas azan Isya (eihhh… pantesannnn!).

Day 2.
Sesi “Teori dan Implementasi Metode Kuantitatif”
w/ Mr. Andhi Wijayanto (teman prajab-tim “Keong Racun” 2010)

Install SPSS… uninstall SPSS (eihhh… kilaf!)… install SPSS (lagi)… #peace

Dominan praktik. Refresh. Bernostalgia dengan Likert, t-test, ANOVA, bivariate, regresi, dan teman-teman seperjuangannya. (sedikiiiiiit) bisa mempersepsi implementasinya dalam penelitian pengajaran bahasa.

Jadi, pelatihan ini efektif? Yaps, sangat!
Ingin pelatihan terus? hmmm… (sementara) cukup. Mau membidik Aha moment dulu (eihhh… gassss!).


Graha Sartika A/3
-00.51-

Jumat, 15 Februari 2019

MENAKAR RELEVANSI READ-ALOUD KINI

https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/167761/menakar-relevansi-read-aloud-kini

Literasi masih menjadi bahasan “empuk” hingga kini. Salah satunya, literasi dalam cakupan kecakapan berbahasa. Terbukti, gerakan literasi global diserukan setiap tanggal 1 Februari melalui World Read Aloud Day (WRAD). Aktivitas WRAD dilakukan untuk menyampaikan pesan utama bahwa literasi dasar (membaca dan menulis) merupakan hak setiap anak dan bertujuan meningkatkan kesadaran terhadap literasi.

Beberapa tantangan muncul dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut, salah satunya adanya pergeseran dan gap antargenerasi yang makin kentara. Era baby boomers, generasi X, generasi Y, beralih pada generasi Z kini. Dua generasi terakhir mempertontonkan cara berkomunikasi yang berbeda. Generasi Y cenderung berkomunikasi dengan teks, adapun generasi Z beralih pada gambar, foto, atau video sebagai medianya. Mengapa demikian? karena tuntutan generasi kini yang serba cepat dan instan, serta keintiman mereka dengan telepon pintar (smartphone) atau perangkat digital lainnya.

Peralihan generasi dengan segala karakteristiknya perlu mendapat perhatian serius dari orang tua. Kini orang tua mestinya bukan hanya terfokus pada bagaimana cara menjauhkan anak dari ketergantungan terhadap perangkat digital. Bagi generasi Z, teknologi informasi merupakan sebagian nyawa mereka (Jati, 2019). Keniscayaan tersebut memposisikan, bahkan menuntut, orang tua menjadi atau menghadirkan pemodelan yang adaptif terhadap perubahan. Pun dalam berliterasi, upaya memelihara lingkungan literasi anak mesti terus dilakukan tanpa membenturkan dengan tipikal zaman.

Membaca Lantang (Reading Aloud)
          
Bila menilik hasil beberapa survei mengenai minimnya minat baca anak di Indonesia, yang terasa seketika ialah nelangsa. Pemerintah tidak tinggal diam, melalui Peraturan Mendikbud No. 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, diimplementasikanlah Gerakan Literasi Nasional (GLN). Hanya saja, awam kemudian memaknai GLN hanya sekadar membudayakan aktivitas membaca yang berpusat di sekolah. Padahal, 2 (dua) unsur penting lainnya mesti turut berperan pula yaitu masyarakat dan keluarga. Keseluruhan rangka bangun GLN mesti terintegrasi; Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan Literasi Masyarakat (GLM), dan Gerakan Literasi Keluarga (GLK).

Dalam GLK, orang tua dan atau orang dewasa di sekitar anak menjadi penanggung jawab utama. Pengalaman membaca awal, yang dapat dinikmati dan menerbitkan rasa senang pada anak, harus ditumbuhkan mulai dari keluarga. Pada tahap awal ini, penekanan bukan tentang “bisa” melainkan mengenai “suka”. Untuk tujuan tersebut, membaca lantang (read-aloud) umum digunakan.

Jim Trelease (2008) dalam Read-Aloud Handbook mengemukakan bahwa metode ini mengkondisikan otak anak untuk mengasosiasi membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan. Membaca lantang jangan diasumsikan sekadar membacakan buku kepada anak dengan suara nyaring atau keras. Aktivitas membaca lantang perlu menghadirkan unsur teatrikal, penuh ekspresi, sesuai kadar cerita yang dibacakan. Ini akan menguatkan imajinasi anak mengenai tokoh, karakter, dan konten cerita. Selain, tentu lebih menarik perhatian dan mengembirakan. Bila orang tua masih membacakan buku dengan nada dan mimik muka datar, intonasi sekadarnya, atau bahkan masih muncul rasa malu dihadapan anak, hal tersebut mesti segera dienyahkan. Orang tua adalah pencerita terbaik bagi anak!

Pada tahap prabaca, ajak anak-anak untuk mengeksplorasi fisik buku. Misalnya, tanyakan apa warna sampulnya? gambar apa yang tampak pada sampul? gali pengetahuan awal anak terhadap gambar tersebut, pancing anak dengan kosakata baru. Selami tiap kosakata yang digunakannya untuk menjawab. Kemudian, untuk menstimulasi Higher Order Thinking Skill (HOTS), tuntun anak untuk membuat prediksi mengenai tema atau konten cerita yang akan dibacakan hari itu berdasar gambar sampul. Untuk memberi apreasiasi dan menstimulasi anak untuk aware terhadap buku, kenalkan pula penulis/ilustrator/penerbitnya.

Pada tahap membaca inti buku, ajak serta anak untuk aktif. Jangan biarkan anak sekadar diam; “anteng” mendengarkan. Misalnya, ajak anak turut menyentuh huruf atau kata yang sedang dibacakan. Bila sedang menggunakan buku bergambar, persilakan anak menunjuk gambar sesuai kosakata yang diucapkan. Keaktifan anak juga dapat distimulasi dengan melakukan jeda, diikuti pemberian pertanyaan terkait isi cerita. Bila perlu, ulangi dan tekankan beberapa bagian kosakata atau kalimat yang dianggap penting.

Pada beberapa praktik yang saya lakukan, terkadang justru anak yang meminta jeda atau secara sengaja “mencegat” aktivitas membaca, ketika ia mengalami kesulitan mencerna makna suatu kata. Suatu ketika, saya ditanya “Mah, sepoi-sepoi itu apa?”, ketika saya belum selesai membacakan kalimat “angin sepoi-sepoi membuat si kura-kura tertidur di …”. Hentikan dulu aktivitas membaca, jawab pertanyaan dengan memberi pemahaman dan penggambaran yang sedekat mungkin dengan pengetahuan anak.
          
Pada Kesempatan lain, saya harus mengulang-ulang kata “harus”, “haus”, dan “arus” karena muncul dalam satu paragraf. Pernah pula, saya harus mempraktikkan langsung, demi menuntaskan pertanyaan “Lolongan itu yang bagaimana, Mah?” ketika sampai pada kalimat “…terdengar suara lolongan serigala dari dalam hutan”. Memastikan anak terpuaskan atas pertanyaan dan rasa penasarannya akan memberi poin lebih dalam aktivitas membaca lantang berikutnya.

Adapun pada tahap pasca membaca, orang tua dapat mengajak anak mendiskusikan salah satu tokoh cerita, atau meminta anak menjelaskan hubungan antartokoh cerita. Beri kesempatan kepada anak untuk menyampaikan sudut pandang sederhana terkait esensi cerita. Bisa pula dengan meminta anak untuk menceritakan kembali isi cerita dengan kosakata yang telah dikuasainya.

Dalam implementasi yang tepat, membaca lantang tidak akan memunculkan kebosanan, stres, dan tidak memerlukan tempat khusus. Orang tua sebagai pemrakarsa harus menyiapkan diri. Selain kemampuan, tentu juga kemauan. Apalagi bila mengingat besarnya kebermanfaatan yang bisa didapatkan anak melalui aktivitas ini. Antara lain peningkatan kecakapan berbahasa, pemodelan cara membaca yang baik, stimulasi berpikir kritis, serta kedekatan dengan orang tua dan buku.

Bagi generasi Z, aktivitas ini bisa diinovasikan dengan penggunaan buku elektronik (walau tetap disarankan buku cetak, untuk meneguhkan consept of print pada anak). Bila menggunakan buku elektronik, anak akan terbawa dalam “suasana digital”. Pada tahap awal, biarkan anak mengeksplorasi fitur-fitur terlebih dahulu sampai pada kesiapan mulai membaca lantang. Selanjutnya, tahapan demi tahapan sama dengan ketika menggunakan buku cetak.

Inovasi lain yang bisa dihadirkan untuk generasi Z ialah mengekplorasi tahap pasca membaca lantang, dengan membuat video ketika anak menceritakan kembali cerita. Konten dan tampilan video yang telah teredit selanjutnya dapat diteruskan untuk diunggah dalam akun youtube, sehingga aktivitas ini mempunyai luaran. Membaca lantang masih relevan untuk terus diterapkan kini. Generasi Z diharapkan tidak lagi sekadar sebagai school-time reader, namun merupakan life-time reader.


*telah dipublikasikan oleh Harian Suara Merdeka
https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/167761/menakar-relevansi-read-aloud-kini

-popular posts-