Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2010

RESENSI NOVEL SERIBU TAHUN CAHAYA

Gambar
Judul Buku : Seribu Tahun Cahaya Penulis : Mad Soleh Penerbit : Pustaka Bimasakti Cetakan : I, April 2009 Tebal : vi + 246 halaman Hmm…jujur aku menarik nafas panjaaaaaaaaang setelah menuntaskan “tugas mulia” membaca kitab ini (kitab yang lebih manjur daripada kitab primbon,kweeek). Mungkin rasa lega para antariksawanti yang selamat dari zarah belum sebanding dengan rasa lega yang kualami saat ini. Gilaaa bayangin aja, selama 245 lembar, aku harus bertualang ke alam bebas yang tidak jelas juntrungane. Begitu banyak pengorbanan untuk bisa memahami apa maksud Si’mad Soleh (jenis nama yang tidak jauh dari bau soto) dalam membuat fiksi yang uaneeh ini. Aku harus rela darahku naik turun (prosotan kaleee, emang ada ya merosot naik?he..) membayangkan para antariksawanti yang ‘sok penting’ itu melaju menembus cakrawala untuk sowan ke planet yang gak ada dalam pelajaran fisika itu,- Sepanjang membaca novel ini, beberapa kali aku mengucapkan Amiiiiiiiiin, Karena banyak juga khayalan yang tosit...

:) n :( - 28 Maret '10

Gambar
Kawan,, ada kisah bahagia,, dan aku lah yang sedang merasakannya,, saat ini,, di sini,, sendiri… sepertinya aku memang harus menyediakan berjuta-juta rasa syukur [bahkan lebih… lebih…],, atau memang aku yang terlalu bandel untuk merasakan kesedihan? Bukan karena aku tak pernah merasakan kesedihan, tapi… Ahhh, tenang saja… sangat kuyakini bahwa semua berjalan dengan rotasi dan formasi yang luar biasa dahsyaaaat, hmmm… karena sang pengatur hidup adalah arsitek yang SUPER mahir, yang bahkan tahu “kekuatan dan porsi” masing2 umatnya… Kemampuan mengolah kebahagiaan dan kesedihan itu seperti mengolah mie instant [hahaha, efek terlalu banyak mengkonsumsi mie instant kie,, pikiran jadi ikut mbuleett, :D]— sebelum bergulat dengan bumbu utama, minyak sayur, dan bubuk cabenya,, perlu ditambahkan bumbu penyedap berupa kewajaran,, apabila pengolahan tidak dilakukan dengan sewajarnya, terlalu ingin cepat matang dan terburu-buru, lalu mengolahnya dengan api yang relatif besar, maka hasil olahan pu...

MENGHABISI "SANG PRESIDEN" ITU - 18 Januari '10

Gambar
Masih ada yang tersisa… belum terhapus karena kujaga dengan kunci sebesar palu seharga satu enam satu… masih rapi… tetap urut… dan begitu “membaca” serasa melemparkan diri ke dalam ruang penuh tulisan: “AKU BENAR TAPI AKU BODOH”… Ya… dan dengan alasan apapun akhirnya aku memang memilih yang “benar”… benar menurutku belum tentu menurutmu… tapi tak kulihat air matamu,, tak kudengar rengekanmu,, dan tak kurasa perih itu… ahhh kau memang pandai menyembunyikan… bahkan sangat ku yakini,, kau akan lebih memilih berjemur menatap sang raja siang atau menantang delik liar serigala lapar daripada harus bicara satu kata tentang rasa yang tengah kau tutupi dalam-dalam… dan aku “benar” karena logika harus tetap jalan walau hati berontak karena tak ingin dinomorduakan… tenangg,, sudah kuperhitungkan benar-benar langkah kakimu yang kutahu berat meninggalkan ‘medan perang’… --- ;;;; --- Ya… dan aku “bodoh” telah mencoba membunuh ‘sang presiden’ masa depan… aktor intelektual yang tak mengedepankan ...

AWAL 2009 DI PELATARAN JEMURAN - 30 Desember '09

Gambar
Tahun baruku lalu kuawali dengan doa di bawah kerdip kembang api di sebuah pelataran jemuran,, hmmm… sungguh ada ketidaksengajaan yang mengintipku lewat menara masjid yang menjulang seakan menantang terbangnya si kembang… ahhh,, tak kupedulikan karena mukaku tebal untuk tetap berteriak menyambut harapan yang belakangan kuketahui memelukku sedemikian erat… Alhamdulillah… Masih ingat, kuawali bulanku dengan duduk manis di sebuah ruangan penuh tatapan keingintahuan… weww,, kuberi senyuman termanis yang bisa kulakukan, dengan sedikit anggukan sebagai tanda kesopanan, karena mereka akan menjadi bagian dari hari-hari panjangku di sebuah rumah baru yang tidak “kubeli”… hmmm rumah ini ternyata perlu “dibersihkan”, sebab setelah kutempati beberapa minggu, barulah kutahu ada lalat yang pandai memberi senyuman masam, kecoa yang berbincang dengan candaan berbau bawang, kadal yang berpandangan dengan binar lalu berpaling dengan ceracauan, dan banyak tikus-tikus pintar yang saling adu kemunafikan...

RUPA-RUPA PURA-PURA - 3 Desember '09

Gambar
Kugelengkan kepala serasa tak percaya… atau jangan-jangan aku sedang menghindari fakta di depan mata? atau bisa jadi sedang sembunyi dari hati yang mengirimi rasa ini? Ahhh… kubiarkan sajalahh… pura-pura tidak tahuu hal-hal begituu… Bayangannya menjajah tanpa ampun,, bahkan kadang menusuk tepat di saat yang tidak tepat… ini mengenaskan kawannn…!!! tapi bukankah aku sedang berpura-pura? Konsisten pada ketidakkonsistenan itu perlu ketika ‘urusan muka’ lebih utama… Ahhh… lewati sajalaahhh… tohh seleksi ‘alam’ lebih handal dari sekedar perhitungan rinci yang sok diklaim sebagai nurani… Hatiku kalah tapi mukaku menang… uppsss jangan dulu ‘berteriak’ kawannn…!!! Bukankah aku sedang berpura-pura? Sungguh aku tak bersungguh-sungguh –ini gila, tapi aku gila (ber)gila-gilaan--!!! Agar lepaaaass - please sediakan aku ‘RUANG’, jangan beri aku tubuhmu karena aku tak mau memaksanya mengeluarkan darah atau memberi lebam pada aksesoris kulit nan eksotis itu… tapiiiiiii kalau kau ikhlas,, hehehe...

BUDAYA MENGECOH - 19 November '09

Gambar
Buaya dan tikus sedang komunikasi Dimana akan bersua untuk transaksi Buaya bilang jangan lupa akan imbalan Karena moral sudah tak jalan Saat sua mereka kaget Buaya berjubah raja Dan tikus memakai mahkota Wah…sungguh mengecoh mata Orang pikir buaya adalah panutan Orang kira tikus adalah teladan Padahal kalau topeng ditanggalkan Sungguh, kebusukan yang akan dikenang Nb: * ............ sebagai buaya ** ............ sebagai tikus *** jangan Kau tanya cicak dimana... karena Kau pasti sudah tahu jawabnya,, ;D (hehehe... PEACE ya bapak-bapak yang terhormat [eh, ada wanita-nya juga denkk-tapi masih 'sembunyi'...;D)

TA DA JUDUL - 12 November '09

Gambar
Heii… ketika hati mulai ‘berwarna’—akan sangat sulit membendungnya… Atau aku yang belum berusaha keras untuk mengekangnya…? Tapi bukankah mengekang rasa ituuu tak semudah mengikat tali sepatuuu…? Sungguh tak ingin Camry seperti milik ‘tuan-tuan bersafari’… Tak berkhayal punya wajah secantik Miyabi,, ;))) Pun tak mimpi berlimpah harta layaknya Aburizal Bakrie… Apalagi punya kekuatan mirip Ponari, (hwahahahaha…) Sudaahhh… seadanya sajaaa… Tohh kita dianugerahi kaki… Tohh wajah kita tak terlalu ‘ngeriii’… Tohh masih bisa makan minimal sekali sehariii… :-) + kalo ada traktiran,, hehehe… Tohh masih kuat bangun pagi… (Alhamdulillah…) Ber’gulat’ dan maknailah dengan kata C.U.K.U.P Terasa berat?? Ya… iyalahh… Namun bukankah bisa diatasi dengan niat diri,,? Kalau belum ‘sekarang’ – minimal cobalah duluu Kalau pesimis menang – minimal peranglah duluu (yang ini kutipan saran dari ‘seseorang’, hehe)

DI BALIK PUNGGUNG KATA-KATA...!!! - 27 Oktober '09

Gambar
Aku tak ingin bangun, namun apa daya bila Tuhan menghendaki aku terjaga. Aku tak ingin baca, namun rupanya Tuhan ingin menunjukkan satu fakta untuk perjalanan selanjutnya. Temaaaan, sungguh ini bukan pujian melainkan makian… sungguh bukan kesengajaan melainkan kesalahpahaman… oke,, ku kuatkan hati untuk menghadapi walau tanpa senjata api… Siapa bilang makian hanya sumpah serapah yang memerahkan kuping gajah? Siapa sangka semut pun harus menerima muntahan kata yang busuk baunya. Hmmm… atau biarkan saja asal mereka tak tergoda? Atau perlu bertindak karena sudah tahu harus bagaimana? Namun bukankah keserakahan muncul karena godaan jiwa untuk membungkus dua atau beberapa rasa dalam satu kantong yang belum tentu berukuran raksasa? Aku tak ingin bersumpah karena bukan itu esensi sebuah klarifikasi. Aku juga sedang menghindari keserakahan karena itulah awal mula cerita ini. Mohon tahan diri untuk tidak memperpanjang persoalan apalagi menghakimi. Percayalah, Tuhan mengatur kita dengan c...

PESAN DALAM SAKU - 17 Oktober '09

Gambar
Satu malam ada yang mengetuk pintu usang. Wah, sepertinya melewati beranda depan penuh semangat tak terbantahkan. Ketukan sopan membuatku beranjak walaupun awalnya agak menolak. Tenang… telah kusiapkan jawaban dari salam yang kuyakini akan diucapkan. Sama sekali tak kurasakan kekagetan. Justru ketakjuban yang sempat hinggap walau harus segera kutepis demi kenormalan. Titipan pesan yang disampaikan sangat sederhana, namun bila disuarakan kucing pun akan menoleh karena mencium ketidakberesan. Apakah sesuatu yang tersurat harus diawali dari hal-hal yang tersirat? Ahh… kurasa buang waktu bila harus menjawab, karena semua misteri lebih hangat bila diresapi dalam hati. Cukup dalam hati. Cukup dalam hati. Minimal untuk saat ini. Minimal sampai detik ini. Penyampai pesan ini riuh sekali. Sungguh, aku tak sempat berlari, hanya sekedar untuk melindungi luka yang masih basah, agar tak terinfeksi. Namun, abu-abu ini mulai memutih dan abu-abu itu mulai menghitam, ketika pesan telah tersamp...