Kamis, 10 September 2020

50 KISAH TENTANG BUKU, CINTA, & CERITA-CERITA DI ANTARA KITA

 


Selesai. Buku tentang buku ini menjamu pembaca dengan berbagai sajian. Pilihan menunya beragam,

▪︎Masa depan perbukuan
▪︎Buku-buku yang merawat ingatan
▪︎Men-display buku di benak pembaca
▪︎Mengintai pasar buku digital
▪︎Sekolah perbukuan di Jerman
▪︎Mode bertahan para penerbit buku
▪︎Kiamat buku cetak
▪︎Kampanye zero defect para editor
Hmm... semuanya lezat untuk disantap 🥴

Menu yang terakhir cukup menawan. Sajian itu menggambarkan kinerja editor di balik layar penerbitan. Paradoksal, makin lama naskah 'dipelototi' makin tak berkurang kesalahan yang ditemui 😆

Meski cara kerja editor penuh kehati-hatian dan 'selalu curiga' di hadapan sebuah naskah, tetap saja konfirgurasi otak editor sering melakukan auto-correct sendiri.

Kadang kesalahan yang muncul memang hanya satu karakter. Namun, bila yang tidak lolos editing tersebut ternyata nama sebuah merek dagang, bagian dari judul di bagian sampul depan, atau mengakibatkan perubahan makna, celaka! Amatlah rugi bila mesti mengulang produksi.

Senin, 07 September 2020

REORIENTASI MAJALAH SEKOLAH

 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Proses pembelajaran tidak hanya dilaksanakan melalui kegiatan belajar mengajar (hardskill) saja, tetapi mesti ditunjang pula dengan pengembangan softskill peserta didik. Salah satu implementasi penunjang tersebut ialah kegiatan ekstrakurikuler. Setiap sekolah memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang beragam untuk kemudian ditawarkan kepada peserta didik. Bersifat tawaran karena peserta didik memiliki kebebasan menentukan pilihan. Beberapa yang ditawarkan, antara lain ekstrakurikuler bidang olahraga, bidang musik, bidang kepemimpinan, hingga bidang jurnalistik. Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler bertujuan untuk mengembangkan kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan di bidang-bidang tersebut di bawah binaan guru pendamping.

Ekstrakurikuler jurnalistik menjadi salah satu pilihan yang diminati peserta didik. Selain sebagai wadah pengembangan minat, ekstrakurikuler ini juga dapat dimanfaatkan untuk menampung ekspresi tulis, sinematografi, fotografi, dan ajang unjuk karya peserta didik. Wujud luaran pembinaan ekstrakurikuler ini dapat berupa pameran foto-foto jurnalistik, nonton bareng dan bedah karya hasil produksi video-video jurnalistik, majalah dinding, dan majalah sekolah.

Beberapa dekade lalu, masih banyak sekolah yang memfasilitasi ekstrakurikuler jurnalistik hingga penerbitan majalah sekolah cetak berkembang baik. Selain untuk media publikasi, terbitan berkala majalah sekolah juga dapat digunakan sebagai media komunikasi antarwarga sekolah dan bahkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) sekolah. Namun, eksistensi majalah sekolah kian terancam kini.

Ya, tidak banyak majalah sekolah yang bisa bertahan. Sebagian kecil memilih untuk mengurangi durasi terbit dan sebagian besar lainnya mati suri atau sama sekali tidak terbit lagi. Pilihan pengurangan durasi dilakukan untuk tetap memertahankan keberlangsungan terbitan majalah sekolah. Beberapa majalah sekolah yang awalnya terbit bulanan, kemudian memutuskan terbit triwulan, menjadi semesteran, hingga hanya setahun sekali, dan akhirnya berhenti terbit.

Beberapa hal yang menjadi kendala, antara lain (1) kurangnya pendanaan, untuk dapat menerbitkan majalah sekolah secara kontinu memang memerlukan dana untuk mencetak, (2) kurangnya pengetahuan dan kompetensi jurnalistik guru pendamping dan pengelola majalah sekolah, sehingga tampilan dan konten terbitan majalah sekolah menjadi monoton dan terkesan kaku, dan (3) format majalah sekolah cetak terkalahkan oleh paparan akses media digital, sehingga peserta didik hanya membaca-baca sekilas saja dan lebih dominan mengakses bacaan dalam format daring (online).

 

Pemertahanan Eksistensi

Upaya pemertahanan eksistensi majalah sekolah sudah pernah dilakukan, tetapi belum maksimal. Salah satu upaya yang pernah dilakukan ialah melakukan kunjungan ke redaksi-redaksi media massa regional. Kunjungan dimaksudkan untuk menambah kompetensi jurnalistik para pengelola majalah sekolah dengan melihat langsung proses produksi majalah dari proses pracetak hingga pendistribusian kepada pembaca. Selain itu, beberapa sekolah juga pernah menghadirkan awak redaksi media massa profesional untuk me-review dan memberi masukan pada terbitan majalah sekolah mereka. Namun, upaya tersebut belum menampakkan hasil yang maksimal sehingga eksistensi majalah sekolah kian tenggelam. Oleh karena itu, perlu telaah dan diskusi untuk mencari solusi yang tepat untuk mengatasi.

Berdasar kendala yang ditemui, upaya yang bisa dilakukan pertama, memproduksi majalah sekolah daring. Peralihan orientasi dari majalah sekolah bentuk cetak ke format daring akan dapat menekan biaya. Sebelumnya, memproduksi majalah sekolah cetak membutuhkan biaya produksi yang cukup tinggi untuk proses layout, desain sampul, dan utamanya percetakan. Dalam format daring, biaya yang diperlukan bisa ditekan, berupa pembelian domain dan pendanaan akses rutin. Bahkan, bila produksi majalah sekolah daring dimulai dari platform sederhana seperti Blogspot atau Wordpress maka tidak perlu pembelian domain atau gratis (Wintarto, 2019).

Bila akan menggunakan domain sendiri, pendanaan hanya dibutuhkan untuk membeli domain pribadi di awal, lengkap dengan hosting-nya dengan biaya yang sangat murah untuk saat ini. Untuk tahun berikutnya, tinggal memperpanjang paket hosting-nya saja. Selain menekan pendanaan, perubahan bentuk majalah sekolah daring juga akan membuka akses pembaca yang lebih luas lagi. Format daring juga mendekatkan majalah sekolah dengan generasi kini (peserta didik) yang lebih dominan mengakses gawai. Saat masih dalam bentuk cetak, jumlah pembaca hanya terbatas pada jumlah eksemplar yang dicetak oleh pihak sekolah saja.

Kedua, pengaturan rubrikasi pada platform daring. Peralihan orientasi menjadi majalah sekolah daring mesti dibarengi dan diimbangi dengan kompetensi jurnalistik daring para pengelolanya, khususnya dalam pengaturan konten. Update kompetensi tersebut bersifat mutlak sehingga hasil terbitan daring menjadi berbeda dan lebih menarik. Sebelumnya, majalah sekolah versi cetak masih dibatasi jumlah halaman dan menggunakan format rubrikasi yang kaku. Kini dalam format daring, konten majalah sekolah perlu berbagai penyesuaian dengan mengedepankan rubrikasi sesuai platform daring.

Pengaturan rubrikasi konten majalah sekolah bisa menjadi lebih luwes karena tidak ada pembatasan jumlah halaman. Selain itu, pengelola majalah sekolah juga perlu belajar mengidentifikasi dan mengevaluasi konten yang perlu dipertahankan dan yang perlu diubah berdasarkan jumlah “kunjungan” pembaca. Dalam jangka panjang, majalah sekolah daring dapat pula dirancang sebagai media yang mampu menangkap peluang komersialisasi, yang sinergis dengan pewujudan jiwa kewirausahaan peserta didik.

Formula solusi tersebut diharapkan dapat memberi andil dalam upaya pemertahanan eksistensi majalah sekolah. Eksistensi yang kian terpuruk akan menutup akses majalah sekolah dan membawa beberapa konsekuensi buruk, antara lain (1) menyempitnya wadah ekspresi tulis dan medium publikasi karya peserta didik, (2) menumpulkan peran ekstrakurikuler jurnalistik, dan (3) tertutupnya sarana komunikasi diantara warga sekolah, pemangku kepentingan, dan masyarakat luar sekolah.

*Telah dipublikasikan di Harian Suara Merdeka, 4 September 2020
https://suaramerdeka.news/reorientasi-majalah-sekolah/


-popular posts-