Kamis, 28 Oktober 2021

DARI TOKO BUKU KE TOKO BUKU

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Benar. Buku ini versi semi-internasional "The Bookstore Traveller"-nya Diomedia, tebakanku di awal baca lumayan tepat juga 😄 Semi? Iya, yang The Bookstore Traveller (cek bookarazzi-8) baru menjelajah dominan area Jawa. Lumayanlah ya sebagai sampel dunia perbukuan di Indonesia. 

Hmm... "Dari Toko Buku ke Toko Buku" mengajak kita melancong buku ke Inggris Raya, Belanda, Prancis, Spanyol, Italia, Slovenia, Bulgaria, Rumania, Austria, Ceko, Polandia, Yunani, dan Jerman. Menurutku perjalanan antarnegara ini cukup mendeskripsi bahwa antusiasme seseorang terhadap buku akan selalu lahir dalam format yang adaptif dengan masanya.

Bagi sebagian kita, toko buku adalah kebun aksara. Tempat ternyaman, tujuan suaka relaksasi pikiran dan (juga) kebahagiaan. Toko buku, tentu saja punya jiwa, tidak harus yang selalu kaku nan robotik. Di luar sana, ada pendapat bahwa menghidupkan toko buku hanya bisa dilakukan bila pengelolanya selalu “hidup” pula. Buku dihormati dalam kewajaran batas, tak sekadar dianggap komoditas: harga, tata, pangsa.

Senin, 18 Oktober 2021

STRATEGI PENDIDIKAN DIGITAL

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pola pendidikan digital tengah menjadi tren. Ia berevolusi dari pendidikan jarak jauh yang hadir nyaris tanpa masa perkenalan, khususnya bagi lembaga pendidikan jenjang dasar dan menengah di Indonesia. Kini, artefak digital tersebar, bebas, dan fleksibel dijadikan sumber belajar.

Selain persiapan peta jalan dan insfrastruktur, langkah strategis lain untuk mengembangkannya adalah memperkuat sumber daya, utamanya guru. Kunci penting pengembangan diri guru ialah sikap transformatif plus kemauan terus belajar. Yaps, guru adalah pengajar sekaligus pembelajar.

Secara kritis, Hambali (2021) menyebut "selain berjumpa dengan banyak murid yang tidak suka membaca buku, saya juga belum banyak berjumpa dengan guru yang memiliki kebiasaan baca buku". Peningkatan kompetensi diri guru mestinya dibarengi dengan aktivitas berliterasi (baca tulis) hingga taraf kritis dan reflektif terhadap isi bacaan.

Persepsi kritis, intepretasi, dan menuliskan kembali hasil bacaan bisa menjadi gerakan dinamis yang akan menopang pedagogi kritis. Mengingat, konfigurasi pembelajaran dengan pola digital akan berubah dan perlu penyesuaian. Ubiquitous adalah pembeda.

MENDIDIK GENERASI Z & A

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Buku ini bercerita banyak tentang generasi Z & A yang aromanya lekat dengan berbagai perangkat 😄

Relasi dan interaksi, dominan, terbangun melalui jaringan yang terkoneksi. 

Kondisi demikian menuntut orang tua, guru, atau orang dewasa di dekat anak berupaya untuk tak tertelan pergeseran zaman: to keep yourself relevant!

Lingkungan digital sebenarnya menyediakan jutaan lokus belajar. Namun, butuh ikhtiar agar anak-anak bisa berenang bersama arus teknologi tanpa terseret banjir informasi. Mereka tetap mesti punya ruang hati untuk berempati dan waktu untuk berbagi 💚

Para digital native ini mesti sadar bahwa mereka akan berhenti tumbuh, tepat, saat mereka memutuskan berhenti belajar. Memang, 'buta huruf' pada abad modern ini bukan lagi soal ketidakbisaan baca-tulis, melainkan soal keengganan belajar.

Sayangnya, masih banyak yang mengkerdilkan makna pendidikan hanya sebatas tentang sekolah. Padahal, sekolah hanya sementara tetapi pendidikan selamanya.

Membekali konsep belajar sepanjang hayat sebaiknya terus diupayakan. Mereka akan tetap 'dingin' saat masa depannya diragukan dan direndahkan ketika telah bersua dan yakin dengan potensi dirinya.


-popular posts-