Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

KECOLONGAN (LAGI)

Gambar
Sumber:  https://mediaindonesia.com Judulnya tidak asik! Biarlah, sepertinya kondisi memang sedang tidak asik. Belum juga kecewa yang berasal dari telinga itu lenyap. Lah... kemarin mesti kutelan kecewa yang dihadirkan oleh mata. Oh, bukan! Aku tak sedang menyalahkan telinga dan mata. Keduanya amat berfungsi sebagai indera. Lagipula, aku tahu keduanya tak mungkin bermuka dua. Memangnya ada yang bermuka dua? Sepertinya. Sanggup? Ya... buktinya begitu. Bisa jadi, itu memang sebuah keahlian. Kutenggarai butuh mental (yang sok) kuat, bedak tebal,  dan strategi lisan kelas dewa. Sempurna! Aku menyebut mereka Si Telinga dan Si Mata. Keduanya membuatku melongo amat lama kala fakta terdengar dan terbaca. Awalnya, aku merintih dan sangat prihatin. Namun, kemudian pelan menepuk dahi menyadari kehebatan peran yang dimainkan dengan rapi. Si Telinga, hmmm... aku amat sukar menemukan kekurangannya. Ia dikasihi banyak liyan, berterima saat bicara, tekun, dan sabar. Untaian kat...

BUKU YANG DIPENJARAKAN

Gambar
Sumber Foto: Dok. Pribadi Membaca memoar adalah membaca kisah lama yang dikabarkan. Buku ini kutemukan diantara tumpukan datar nan beragam, saat momen -Ketemu Buku Semarang- tahun lalu. Judul yang terkait dengan ‘dunia buku’, membuatku berbinar setelah hampir 90-menitan ‘nguplek-nguplek’ ratusan buku di dalam Gedung Wanita -Sriwijaya. Selesai baca narasi di bagian kover belakang, kupastikan buku masuk keranjang belanjaan. Rasanya tak asing dengan nama penulisnya. Nama belakangnya membuatku mengingat pelajaran sejarah (baca: IPS) sejak sekolah dasar silam. Iya, DN Aidit adalah “nama beken” yang masuk salah satu hafalan. Dulu orang menyematkan kata “gembong partai komunis” bila ditanya ia siapa.   Yang baru kemudian kutahu DN adalah kependekan dari Dipa Nusantara J . Penggantian nama yang tetap tidak meninggalkan nama keluarga: Aidit! Hmm… Sobron, penulis buku ini, adalah adiknya. Memoar terbitan Best Publisher ini mengantarkanku pada pengembaraan panjang Sobron Aidit. ...

PENDIDIKAN LITERASI

Gambar
Dok: Sumber Pribadi Pagi hari dan literasi. Agaknya, literasi masih terus menjadi bahasan empuk hingga kini. Ia masih terus dikaji dari berbagai perspektif, termasuk dalam esensi buku ini.  Prof. Sarwiji enggan mempersepsi literasi hanya sekadar tipis di area permukaan, yaitu seputar aktivitas membaca dan menulis saja. Beliau membawa perspektif literasi hingga ranah bermasyarakat dan berbangsa. Sudut pandang kajian tak pula melulu dijejali dengan pengertian yang deskripsional. Ada upaya pembangunan generasi literat yang disampaikan. Berharap para pemangku kepentingan ( stakeholder ) turut bahu membahu mengimplementasikan. Dalam konteks pendidikan, pembelajaran bahasa Indonesia (pun guru bahasa Indonesia) tidak terlepas dari aktivitas berliterasi di sekolah. Cukup rasional, karena anggapan awal bahwa literasi pasti berhubungan dengan membaca dan menulis. Dalam lingkup sekolah kemudian diejawantahkan dalam bentuk Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Namun, bila menelisik konsep ...