Senin, 28 Januari 2019

DIGITAL PARENTING UNTUK GENERASI MILENIAL


Sumber: Dokumentasi Pribadi

Anak zaman old bangun tidur tanya: “mama mana?”
Anak zaman now bangun tidur tanya: “hp mama mana?”

Demikian bunyi status salah satu sejawat di akun media sosial miliknya beberapa hari yang lalu. Status tersebut berisi pernyataan yang memaparkan kenyataan. Betapa generasi milenial kini sudah sedemikian “lengket” dengan perangkat digital, sehingga menjadi barang yang kali pertama dicari.  

Dalam keseharian kini, kita mudah mendapati anak-anak bermain gawai (gadget) dengan leluasa. Bahkan, aktivitas tersebut dilakukan oleh anak usia di bawah lima tahun (balita) dan saat berada di dekat orang tuanya. Nyaris pada setiap kesempatan yang ada, saat menunggu pesanan makanan datang misalnya. Bukan lagi pemandangan langka ketika kita mendapati dalam satu meja, anak-anak dan orang tua sibuk dengan telepon pintar masing-masing. Anak begitu familier dengan berbagai fitur yang ditawarkan, bebas berselancar, betah menunduk menatap layar dan diam. Mereka seolah punya “dunia lain” yang lebih mengasyikkan.

Pun sama, kini kecenderungan orang tua dilanda sindrom phubbing atau phone snubbing, situasi dimana mereka lebih asyik dan sibuk dengan gawai. Bila sampai pada taraf akut, tentu phubbing akan sangat membahayakan kehidupan sosial dan hubungan internal keluarga. Dalam kehidupan sosial, sindrom ini merekatkan kehidupan sosial dengan kehidupan pribadi, campur baur dan bebas dikonsumsi publik. Adapun dampak dalam hubungan internal keluarga ialah makin minimnya interaksi tatap muka antara anak dan orang tua, sehingga hilang rasa menghargai dan memiliki.  

Pengasuhan Digital (Digital Parenting)
Perkembangan teknologi digital yang pesat dewasa ini adalah sebuah keniscayaan. Era digital tidak bisa dihindari, harus dihadapi. Pada era ini, orang tua tidak bisa serta merta mengadopsi cara atau pola orang tuanya dulu dalam mengasuh atau mendidik anak. Pun tidak tepat pula bila membanding-bandingkan anak-anaknya kini dengan masa kanak-kanaknya dulu. Gencarnya penggunaan perangkat digital di lingkungan sekitar anak juga turut berpengaruh besar. Anak akan makin sulit diisolasi, apalagi hanya sekadar secara lisan dilarang menggunakan gawai.

Anak-anak yang lahir pada era digital ini merupakan digital native. Gaya hidup mereka berbeda. Menurut Arifin (2010), digital native lebih menyukai penyajian informasi yang user friendly, yang menarik (dengan gambar gerak dan suara), dan eksplorasi seluas-luasnya (bahkan tidak urut). Diantara banyaknya efek positif perkembangan teknologi, orang tua lah yang paling bertanggung jawab terhadap efek negatif mungkin yang ditimbulkan. Oleh karena itu, perlu pemahaman dan penguasaan literasi digital yang kuat.

Pengasuhan digital (digital parenting) memuat aturan bagi anak dalam berinteraksi dengan perangkat digital. Aturan tersebut berupa pembatasan yang jelas tentang hal-hal yang boleh maupun yang tidak boleh dilakukan saat menggunakan gawai. Beberapa prinsip dalam pola pengasuhan digital yang perlu diterapkan ialah pertama, pemberian izin penggunaan gawai disesuaikan dengan tingkat kematangan anak. Usia anak tidak selalu linier dengan kematangan emosional dan sosialnya. Orang tua lah yang harus jeli dalam menilai dan memutuskan. Hal ini vital karena akan sangat berpengaruh pada tanggung jawab saat penggunaan.

Kedua, kesepakatan waktu penggunaan. Kesepakatan tegas perlu dilakukan menyangkut alokasi waktu, komitmen anak, dan sanksi bila melanggar. Mengenai alokasi waktu, biasanya orang tua menjanjikan izin bermain gawai saat akhir pekan atau libur. Hal tersebut cukup riskan pula, anak akan defisit fokus pada hari-hari jelang akhir pekan karena secara psikis menunggu-nunggu kesempatan tersebut. Kondisi ini membutuhkan komunikasi yang intens dan efektif serta trik-trik kreatif untuk tetap berpegang pada kesepakatan awal.
 
Ketiga, terus melakukan pendampingan secara aktif. Pendampingan yang diharapkan sampai pada detail konten-konten yang bisa dan boleh diakses. Video viral beberapa waktu lalu, yang merekam seorang anak tengah membuka konten dewasa saat duduk di samping ibunya merupakan contoh nyata bahwa pendampingan bukan sekadar soal jarak pantau orang tua. Diskusi dan umpan balik setelah bermain gawai bisa dijadikan sarana penelusuran dan evaluasi. Bila diperlukan pemberian masukan (nasehat), orang tua perlu melakukannya di waktu yang tepat, dengan bahasa yang tidak menekan, dan memberi kesempatan anak untuk berpendapat.

Keempat, memastikan anak berada pada lingkungan yang mendukung implementasi literasi digital. Lingkungan keluarga menjadi yang pertama dan utama. Orang tua harus sadar diri, bahkan menjadi pionir dan penegak pengasuhan digital. Beberapa yang perlu dilakukan antara lain mengenalkan adab bermedia sosial, memastikan tidak ada konten pornografi di dalam gawainya, berada dalam friend list akun media sosial anaknya, tidak meng-install games yang tidak edukatif, memfasilitasi aktivitas lain misalnya olahraga, bermain di luar ruang, atau membaca, dan stop phubbing saat berkumpul dengan anggota keluarga.

Upaya pemenuhan hak dan perlindungan anak terus disuarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa). Hari Anak Nasional tahun 2018 ini mengangkat tema Anak Indonesia GENIUS (gesit, empati, berani, unggul, dan sehat). Sejumlah 83,5 juta jiwa anak atau 32,24% dari total penduduk Indonesia berhak hidup, tumbuh dan berkembang, serta berpartisipasi dalam situasi yang layak dan kondusif. Oleh karena itu, jangan sampai ada kerusakan moral dan mental anak yang justru dimulai atau berasal dari rumah (keluarga).

Selamat Hari Anak Nasional, mari berupaya menjadi orang tua bijak yang terus memperbaiki cara berinteraksi. Terus belajar memantaskan diri menjadi teladan bagi anak sehingga mereka tidak mencari panutan di luar rumah. Dan, terus bertugas mengawal keseimbangan pola pikir anak antara di dalam dunia digital (maya) dan dunia nyata.

*tulisan ini telah dipublikasikan di Harian Suara Merdeka, 24 Agustus 2018

MENYIAPKAN GENERASI LITERAT

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Ayah… Bunda… Bacakan aku buku
Baca buku… Membuat aku tahu

Penggalan lirik lagu tema (theme song) Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku) di atas menggambarkan keinginan anak untuk didampingi saat aktivitas membaca. Atau, bisa pula diartikan meminta keterlibatan orang tua untuk membaca bersama (shared reading). Gernas Baku diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, yang dicanangkan mulai 5 Mei 2018 lalu.

Gernas Baku mendesak digiatkan mengingat jarak yang makin jauh antara anak dan buku dewasa ini. Selain, memang sangat urgen untuk segera menyiapkan anak menghadapi tuntutan penguasaan kecakapan beragam literasi (multiliterasi), termasuk di dalamnya ialah literasi baca tulis. Kecenderungan opsi bermain gawai (gadget) yang lebih tinggi, mengharuskan berbagai pihak turut andil mencari solusi untuk mengalihkan, syukur dapat menjauhkan.

Kemudahan mengakses internet bagi anak berbanding lurus dengan terpaan konten-konten hiburan yang mengancam pula, khususnya melalui media sosial. Umumnya, akun media sosial mensyaratkan penggunanya berusia di atas 13 tahun. Karena secara emosional, kemampuan kontrol diri anak-anak yang berusia di bawahnya masih labil. Namun dalam praktiknya, banyak yang melanggar aturan atau etika. Bahaya yang nyata mengancam para netizen cilik ini di antaranya perundungan (cyberbullying), ujaran kebencian, sexting (mengirim, menerima, dan meneruskan pesan dan gambar berkonten seksual), serta terus meningkatnya kuantitas berita-berita palsu atau bohong (hoax).

Produk-produk hoax ditelan mentah-mentah oleh anak-anak (bahkan hingga dewasa) sebagai generasi pembaca instan. Dalam sekejap, bahkan hanya sekadar membaca judul dan penggalan berita yang tertangkap layar saja, mereka lantas menyetujui, menyakini, dan bahkan memutuskan akan suatu hal. Nyaris tanpa pembacaan dan pemaknaan yang mendalam. Pun bisa jadi tak jeli ada pemotongan pemaknaan, tanpa kejelasan sumber dan penjelasan yang menyeluruh.

Periode Kesiapan Membaca
Proses pendidikan anak bermula dari keluarga. Oleh karena itu, sangat perlu rancangan (by design) pola asuh orang tua dan atau orang dewasa di sekitar anak (kakek-nenek, om-tante, kakak, pengasuh) dalam mempersiapkan anak agar memiliki motivasi dan kecintaan terhadap aktivitas membaca. Tentu, dengan dukungan penuh pula dari satuan pendidikan dan masyarakat sekitar.

Sejalan dengan tingkat perkembangan potensial anak dalam Zona Perkembangan Proksimal (Zone of Proximal Development) yang dikemukakan Vygotsky, anak perlu bimbingan orang dewasa di sekitarnya dan atau teman sebaya untuk menyelesaikan masalah. Mengenai aktivitas membaca, rendahnya minat dan motivasi merupakan salah satu permasalahan utama. Namun, pada abad 21 ini tuntutan juga mengarah pada kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Artinya, anak-anak diharapkan tidak berhenti pada sekadar bisa dan suka membaca atau membunyikan huruf, tetapi nantinya juga mampu menyerap makna dari tulisan.

Di sinilah peran guru, masyarakat (lingkungan), dan utamanya orang tua dan atau orang dewasa di sekitar anak untuk memberi stimulasi atau rangsangan untuk masuk pada periode kesiapan membaca (reading readiness period). Mereka perlu menyadari besarnya manfaat membaca bagi anak, misalnya akan menambah kosakata baru, meningkatkan rasa ingin tahu dan kemampuan mengungkapkan ide, serta mengembangkan daya imajinasi anak. Selain itu, aktivitas membaca juga merupakan landasan penting untuk masa dewasa kelak, yang merupakan bagian dari literasi dasar sebagai kecakapan hidup selain literasi numerasi, finansial, digital, sains, serta budaya dan kewargaan.

Implementasi Gernas Baku
Ada tiga hal yang perlu dipersiapkan orang tua dan atau orang dewasa di sekitar anak untuk mendukung dan mengimplementasikan Gernas Baku. Pertama, mereka perlu memahami tahapan perkembangan membaca dan menguasai teknik menarik minat baca anak. Tahapan perkembangan membaca pada anak usia dini (Depdiknas 2007) dimulai dari tahap sekadar membolak-balik dan membawa-bawa atau menenteng buku kesukaannya (magical stage), tahap anak mulai merasa bahwa ia adalah pembaca, pura-pura membaca, menebak gambar dalam buku (self concept stage), tahap anak mulai mengenali abjad yang menyertai gambar (bridging reading stage), tahap anak mulai tertarik membaca (take off reader stage), dan tahap anak membaca berbagai jenis bacaan dengan lancar (independent reader stage).

Pemahaman terhadap tahapan perkembangan tersebut sangat penting untuk mengetahui “posisi” tahapan anak saat ini dan dalam menentukan teknik yang tepat dalam menstimulasi minat baca anak. Stephen D. Krashen dalam The Power of Reading (1993) menekankan agar sedari awal terbentuk pola pikir pada anak bahwa aktivitas membaca merupakan aktivitas yang menyenangkan (joyfull). Anak-anak melakoni aktivitas membaca karena mereka memang menginginkannya (free voluntary reading). Pada beberapa kasus, masih sering kita temui orang tua yang memaksa anak membaca. Dalih agar anak (lekas) berwawasan luas, merasa sudah membelikan banyak buku, atau pola pikir bahwa anak belajar harus melalui membaca sering menjadikan anak terintimidasi. Bila terus berlanjut, anak-anak tidak hanya akan malas, bahkan bisa jadi mereka akan membenci aktivitas membaca.

Untuk menarik minat baca, orang tua dan orang dewasa di sekitar anak harus menjadi teladan, menjadi pembaca yang baik. Anak tidak perlu dipaksa membaca karena pada dasarnya anak adalah peniru ulung. Mereka akan mengikuti aktivitas yang sering mereka lihat. Orang tua perlu pula belajar menjadi ‘pendongeng’ yang interaktif dan komunikatif. Penguasaan terhadap tema cerita dan bahasa lugas yang mudah diterima anak juga akan menambah ketertarikan. Bahkan bila ada gambar atau kata yang tidak mudah dijelaskan, jangan sungkan memperagakan untuk mendekatkan anak dengan makna.

Kedua, menyediakan bahan bacaan dari berbagai sumber yang sesuai dengan tahapan perkembangan membaca anak. Bacaan yang tepat merupakan modal awal anak untuk menjadi pembaca yang baik. Aspek fisik dan konten bacaan akan membawa pengaruh kuat. Aspek fisik bacaan meliputi pilihan (kombinasi) warna yang cerah, jenis huruf dan angka, penyesuaian jumlah kata atau kalimat yang muncul secara berjenjang, gambar-gambar dengan dimensi yang menimbulkan daya imajinasi, serta dibuat dari jenis bahan yang nyaman dibaca atau dipegang. Aspek konten meliputi alur cerita yang ringkas dan memenuhi rasa ingin tahu, bertema dekat dengan keseharian anak (hobi, binatang piaraan, benda-benda kesukaan, dll), serta penokohan yang berkarakter dan inspiratif. Lebih lanjut, Hernowo (2016) menyebut gairah membaca perlu didukung oleh asupan buku yang “bergizi”, yaitu buku yang tertata bahasa dan tampilannya, jernih alur kontennya, dan menggugah pikiran untuk memahami maknanya.

Ketiga, menyiapkan waktu dan tempat yang tepat untuk mendampingi anak membaca buku. Proses pendampingan diharapkan tidak berlangsung instan. Perlu rancangan waktu yang fleksibel sesuai kondisi anak, dengan tetap menjaga kontinuitas. Bila perlu, orang tua membuat beberapa kesepakatan dengan anak. Selain itu, perlu pula pengkondisian suasana atau lingkungan baca yang kondusif dan variatif agar ketuntasan tujuan aktivitas membaca dapat optimal.

Orang tua perlu memastikan masa emas (golden age) anak yang tidak terentang lama, tak terlewatkan begitu saja. Mendekatkan anak dengan bacaan bermutu berarti menyiapkan mereka menjadi pembelajar sejati. Buku adalah jendela dunia dan aktivitas membaca adalah kuncinya.

*tulisan ini telah dipublikasikan di Harian Suara Merdeka, 18 Mei 2018

AS AN EDITOR (2)


Judul: Metode Penelitian Kuantitatif (Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder)
Penulis: Nanang Martono, Ph.D.
Tahun Terbit: 2010
Penerbit: Rajagrafindo Persada
ISBN: 9797697495
Editor Bahasa: Santi Pratiwi Tri Utami, M.Pd.

Best Practices Keterampilan Dasar Mengajar Guru Bahasa Indonesia Berdasarkan Aspek Kualifikasi Pendidikan di SMP dan SMA

Sumber Gambar: http://ensiklopediaguru.blogspot.com/2016/08/keterampilan-dasar-mengajar.html

Abstrak

Penguasaan keterampilan dasar mengajar merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi kualitas proses pembelajaran. Penguasaan tersebut memungkinkan guru mampu mengelola kegiatan pembelajaran yang efektif, termasuk dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP dan SMA. Pemahaman dan penerapan keterampilan dasar mengajar guru bahasa Indonesia di SMP dan SMA masih beragam hingga kini. Terdapat perbedaan standar atau kaidah dalam implementasi keterampilan dasar mengajar, salah satunya bila dilihat dari sisi kualifikasi pendidikan. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini ialah bagaimanakah best practices keterampilan dasar mengajar guru bahasa Indonesia dilihat dari aspek kualifikasi akademik di SMP dan SMA?. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif dengan sumber data guru bahasa Indonesia SMP Negeri 13 Semarang dan SMP Negeri 21 Semarang. Pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan best practices keterampilan dasar mengajar guru di SMP dan SMA berdasar aspek kualifikasi akademik diklasifikasikan berdasar kualifikasi akademik sarjana dan magister. Best practices meliputi keterampilan membuka dan menutup pembelajaran, bertanya, melakukan variasi, mengelola kelas, memberi penguatan, menjelaskan, serta membimbing diskusi kelompok kecil. Adapun keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan belum tampak pada guru dengan kualifikasi akademik sarjana. Saran yang diberikan berdasar hasil penelitian ialah 1) guru, khususnya di SMP dan SMA, perlu meningkatkan pemahaman dan keterampilan dasar mengajar sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, 2) penelitian mengenai kompetensi pedagogis dan profesional guru perlu terus dilakukan sebagai upaya mengawal evaluasi dan perbaikan kinerja guru.

*Terpublikasi dalam prosiding Konferensi Bahasa dan Sastra 3, 16 Oktober 2018, Univ. Negeri Semarang

KONSEP LITERASI DIGITAL BAGI ANAK USIA PRAREMAJA DAN REMAJA

Sumber Gambar: https://www.slideshare.net/banyumurti/literasi-digital-untuk-remaja

Abstrak

Umumnya, akun media sosial mensyaratkan penggunanya berusia di atas 13 tahun. Namun dalam praktiknya, banyak anak yang berusia di bawahnya yang telah aktif menggunakan media sosial. Anak-anak usia praremaja (9-12 tahun) dan remaja (12-16 tahun) merupakan pengguna yang paling riskan terkena dampak negatif penyalahgunaan media sosial. Perilaku negatif akibat mengindahkan etika bermedia sosial akhir-akhir ini banyak ditemukan, antara lain perundungan (cyberbullying), ujaran kebencian, penyebaran informasi bohong (hoax), radikalisme, dan sexting (mengirim, menerima, dan meneruskan pesan dan gambar berkonten seksual). Dampak-dampak negatif itulah yang dikhawatirkan oleh para orang tua akhir-akhir ini. Sekitar 80% anak dan remaja mengalokasikan waktu untuk aktivitas bermedia sosial setiap hari. Mencermati kompleksnya dampak negatif aktivitas bermedia sosial, maka perlu inisiatif penyuluhan konsep literasi digital bagi anak usia praremaja dan remaja. Literasi digital merupakan salah satu komponen yang harus dikuasai setiap orang di zaman teknologi informasi ini karena bertujuan agar masyarakat menggunakan media sosial secara benar dan bermartabat.

*Terpublikasi dalam prosiding Seminar Nasional “Literasi Digital dalam Agama dan Sains untuk Mewujudkan Kecakapan Hidup Abad 21”, 9 Mei 2018, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

THE ANALYSIS OF PERFORMANCE SUB-PUBLISHING OF UNIVERSITY IN CENTRAL JAVA AS THE DEVELOPMENT OF TEACHING MATERIAL IN EDITING COURSE

Sumber Gambar: https://kafulamwila.com/toward-a-zambia-genre-publishing/

Abstract

Editing course aims to create educated workforce as editors who are a creative worker of publishing industry.  There is an opportunity in the open creative industry and the urgency of providing human resources as a creative worker is a challenge. Internally, there must be strengthening effort from the academic side with the development of teaching material. Sub-publication in every university is one of the stake holders that can be used as a reference source in the development and enrichment. The diversity of publishing specifications currently happens in-depth study. The issues study in this research is how is the flow performance of the sub-publication of university in Central Java? This study use qualitative descriptive design. The samples of the study were Muhammadiyah University UMS Surakarta Press, UPT of PGRI Semarang University Press, and Business Development Agency of Unnes Press. In conducting this study, the researcher use in-depth interview and observation. The data analysis technique takes flow model of analysis.  The results of the study show that 1) the system of receiving manuscript used independent line and procurement line of textbooks program; 2) manuscript feasibility standards include free plagiarism, a minimum of 200 sheets, on time, and through the editing process; 3) editing method focus on language errors (words and punctuation); 4) publication workflow starting from the manuscript received to the publisher, checking, copyeditor, layouter, confirmation, ISBN submission, printing; 5) do not use proofreader service; 6) sales cooperation with the profit sharing system. The result of the performance analysis was followed up as input for the preparation of teaching materials for editing course.

*Terpublikasi dalam prosiding The BASA International Seminar, 19-20 Oktober 2018, Univ. Sebelas Maret Surakarta

TINJAUAN KUALITAS KEBAHASAAN ARTIKEL ILMIAH TERPUBLIKASI SEBAGAI IMPLEMENTASI SURAT EDARAN DIKTI NO. 152/E/T/2012

Sumber Gambar:
https://www.dictio.id/t/apakah-hal-yang-penting-yang-diajarkan-crosby-mengenai-manajemen-kualitas/22005

Abstrak

Menulis karya ilmiah merupakan tuntutan formal akademik perguruan tinggi. Peranan paling mendasar ialah memperkaya khasanah keilmuan dan mengukuhkan paradigma keilmuan penulis, baik mahasiswa maupun dosen, dalam bidang keilmuan yang ditekuni. Saat ini, selain sisi kualitas, publikasi karya ilmiah juga digalakkan. Melalui SE Dirjen Dikti Nomor 152/E/T/2012, publikasi karya ilmiah merupakan persyaratan kelulusan bagi mahasiswa. Dalam hal ini, publikasi berbentuk artikel ilmiah. Terkait kebijakan tersebut, beberapa pihak mengkritisi kualitas artikel ilmiah yang dipublikasikan. Mereka menyangsikan tingginya kuantitas artikel ilmiah yang terpublikasi akan berkorelasi dengan kualitasnya.  Hal tersebut dapat dimaklumi, bila sekadar menggunggah saja, tentu capaian kuantitas saja yang didapat. Artikel ilmiah yang layak publikasi harus memenuhi beberapa persyaratan, salah satunya terkait kualitas kebahasaan. Kualitas kebahasaan yang mencakup aspek ejaan, diksi, kalimat efektif, dan pengembangan paragraf turut menentukan kualitas artikel ilmiah, selain kualitas isi. Kualitas kebahasaan sangat berpengaruh pada keterbacaan. Logikanya, ide/konsep dalam artikel tersebut dituangkan melalui bahasa tulis, sehingga apabila kualitas kebahasaan tulisnya rendah bisa dipastikan tingkat keterbacaannya pun rendah. Saat ini media yang digunakan untuk publikasi ialah e-journal. Media e-journal sangat leluasa diakses. Hal tersebut berimbas pada penilaian secara luas terhadap kualitas kebahasaan artikel ilmiah. Oleh karena itu, perlu kajian mendalam sebagai bentuk evaluasi mengenai kualitas kebahasaan artikel ilmiah terpublikasi.

*Terpublikasi dalam prosiding Seminar Nasional “Wacana sebagai Basis Pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013”, 15 Mei 2017, IKA Alumni PBI Program Pascasarjana Univ. Negeri Semarang


PELATIHAN PRESENTASI ILMIAH UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING DALAM KOMPETISI ILMIAH BAGI ANGGOTA EKSTRAKURIKULER KARYA ILMIAH REMAJA DI KOTA SEMARANG


ABSTRACT

The quality of human resources will increase with the mastery of science and technology. The school is obliged to provide a forum for developing these competencies, eg extracurricular. Extracurricular field which has been developed is the field of Scientific Work of Youth (KIR). KIR much in demand by students. However, as long as this assistance is only focused on the pattern of writing and scientific writing course content. In fact, there are other indicators that determine, for example: a scientific presentation skills and communicative. Formulation of the problem in this activity is how the application of scientific presentation training to improve competitiveness in scientific writing competition for members of the KIR extracurricular in Semarang? This activity was conducted in SMA Negeri 2 Semarang, Friday, October 21, 2016. The training was attended by 30 participants. The activities carried out by the method of the workshop in the form of materials, modeling, discussion, practice, and assessment. The results of these highly optimized service programs in an understanding of the importance of scientific presentations competence. All participants started practicing continuous scientific presentations. They are also more confident in following various writing competitions.

*Terpublikasi dalam Jurnal Semar Vol 5 No 1 Nov 2016, Univ. Sebelas Maret Surakarta

TEKNIK KOREKSI TIDAK LANGSUNG: MINIMALISASI KESALAHAN BERBAHASA DALAM PENYUSUNAN KARYA ILMIAH

Sumber Gambar: http://www.ruangfreelance.com/penulisan-kreatif/koreksi-tulisan-anda/

Abstrak

Sebagian besar mahasiswa masih mengeluhkan kesulitan mengorganisasikan isi dan menerapkan kaidah tulis ilmiah dalam tugas penyusunan karya ilmiah sehingga banyak kesalahan berbahasa yang timbul. Teknik Koreksi Tidak Langsung dapat menjadi salah satu solusi untuk meminimalkan kesalahan berbahasa dalam penulisan karya ilmiah. Teknik ini memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menginterpretasikan kode-kode (simbol) yang digunakan oleh dosen ketika menandai kesalahan-kesalahan dari karya ilmiah mahasiswa. Mahasiswa memperbaiki kesalahan sendiri kemudian menuliskan kembali karya ilmiah tersebut. Dengan penerapan yang tepat, ada tiga keunggulan yang didapatkan, yaitu (1) kesalahan berbahasa menjadi minimal atau berkurang, (2) penguasaan kaidah kebahasaan akan meningkat, dan (3) kualitas karya ilmiah yang dihasilkan pun meningkat.

*Terpublikasi dalam prosiding Seminar Nasional dan Launching Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI), 25 April 2015, Univ. Sebelas Maret Surakarta

MECHANICAL EDITING GROUP: SOROT KUALITAS KEBAHASAAN KARYA ILMIAH MAHASISWA

Sumber Gambar: https://www.royaleditorial.com/services-and-rates

Abstrak

Di dunia akademik, khususnya perguruan tinggi, menulis karya ilmiah merupakan sebuah tuntutan. Sebagian besar mahasiswa menyatakan bahwa menyusun karya ilmiah itu rumit dan susah. Produk karya ilmiah yang disusun oleh mahasiswa sebagian besar terdapat kesalahan kebahasaan tulis yang meliputi ejaan, pilihan kata atau diksi, penyusunan kalimat efektif, dan pengembangan paragraf. Berbagai kesalahan tersebut menurunkan kualitas karya ilmiah yang dihasilkan. Solusi cepat perlu dicari untuk mengatasi permasalahan tersebut. Apalagi saat ini, selain proses penulisan karya ilmiah, publikasi karya ilmiah juga mulai digalakkan oleh pemerintah. Bahkan, melalui Surat Edaran Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) Nomor 152/E/T/2012 tanggal 27 Januari 2012, publikasi karya ilmiah merupakan persyaratan kelulusan bagi mahasiswa jenjang S1, S2, dan S3. Padahal, karya ilmiah yang layak publikasi harus memenuhi beberapa persyaratan, salah satunya terkait dengan kualitas kebahasaan. Salah satu inovasi dapat yang dilakukan dosen ialah mengimplementasikan teknik pembelajaran yang melibatkan teman sejawat dalam grup. Dalam tahap pascapenulisan, salah satu hal yang harus dicermati benar ialah bagian mekanik tulisan, yang meliputi keseluruhan aspek kebahasaan. Proses yang dilakukan ialah mahasiswa yang telah menyusun tugas karya  ilmiah, kemudian saling bertukar karya ilmiah untuk diedit atau disunting mekanik tulisannya dalam grup-grup kecil (mechanical editing group). Penyuntingan yang dilakukan diharapkan dapat meningkatkan kualitas karya ilmiah mahasiswa.

*Terpublikasi dalam prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia (PIBSI) XXXVI,  11 Oktober 2014, Univ. Ahmad Dahlan Yogyakarta

SWASUNTING BAHASA DALAM PENULISAN KARYA ILMIAH

Sumber Gambar: http://picdeer.com/institutpenulis.id

Abstract

 Scientific work is one means of dissemination of science and technology. In the academic world, especially universities, writing scientific papers is an obligation. There is an assumption of some students that make it complicated and scientific work hard. When writing scientific papers, some students complained about the difficulty of organizing the content and apply the rules of writing scientific papers. Rules of procedure relating to writing, writing scientific papers follow two rules of standard writing conventions that are specific and general writing conventions. Writing rules that are specific rules about technical writing is agreed and applicable in a particular environment. As a general rule of writing is the rule of Indonesian raw and enhanced spelling (EYD). Thesis Writing courses given to VI semester students with the aim of providing food for the preparation of a thesis. Within the course students are required to produce some kind of scientific work product. To improve the quality of the products of scientific work, particularly in terms of linguistic rules, then the course of activities designed to involve language editing-private activity.

*Terpublikasi dalam prosiding Seminar Forum Ilmiah I FIB Univ. Andalas, 13 Nov 2012

MINIMALISASI KETIDAKEFEKTIFAN KALIMAT DALAM PENYUSUNAN ARTIKEL ILMIAH LAYAK PUBLIKASI DENGAN TEKNIK PEER EDITING WORKSHOP PADA MAHASISWA PESERTA MATA KULIAH MENULIS


Publikasi artikel ilmiah mulai digalakkan oleh pemerintah. Melalui SE Dirjen Dikti Nomor 152/E/T/2012 tanggal 27 Januari 2012, publikasi artikel ilmiah merupakan persyaratan kelulusan. Penelitian ini memberikan alternatif solusi dalam permasalahan pembelajaran menulis, khususnya artikel ilmiah. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah penerapan teknik peer editing workshop sebagai upaya meminimalkan ketidakefektifan kalimat dalam penyusunan artikel ilmiah layak publikasi? (2) Bagaimanakah tingkat minimalisasi ketidakefektifan kalimat dalam penyusunan artikel ilmiah layak publikasi dengan teknik peer editing workshop? (3) Bagaimanakah respon mahasiswa peserta mata kuliah Menulis terhadap penerapan teknik peer editing workshop?. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan teknik peer editing workshop sebagai sebuah teknik pembelajaran menulis, mengidentifikasi minimalisasi ketidakefektifan kalimat dalam penyusunan artikel ilmiah layak publikasi dengan teknik peer editing workshop, dan mengetahui respon mahasiswa terhadap penerapan teknik peer editing workshop. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain Penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara efektif teknik peer editing workshop diterapkan dengan cara koreksi sejawat atau koreksi silang dengan memberikan tanda-tanda koreksi, menunjukkan pula adanya penurunan tingkat ketidakefektifan kalimat pada penyusunan artikel ilmiah. Secara keseluruhan mengalami penurunan rata-rata sebesar 33,88%. Setelah diterapkan teknik peer editing workshop terdapat persepsi dan kesan positif dari mahasiswa. Mereka dapat meminimalisasi ketidakefektifan kalimat dalam penyusunan artikel ilmiah.

Terpublikasi dalam prosiding Seminar Nasional Literasi II 21 Desember 2017 Univ. PGRI Semarang

PENERAPAN TEKNIK KOREKSI TIDAK LANGSUNG UNTUK MEMINIMALKAN KESALAHAN BERBAHASA DALAM PENYUSUNAN KARYA ILMIAH

Sumber Gambar: https://www.accelainfinia.com/201/5-fakta-informasi-tentang-koreksi-pasar-market-correction/

Abstrak

Sebagian besar mahasiswa masih mengeluhkan kesulitan mengorganisasikan isi dan menerapkan kaidah tulis ilmiah dalam tugas penyusunan karya ilmiah sehingga banyak kesalahan berbahasa yang timbul. Penelitian ini bertujuan untuk meminimalkan kesalahan berbahasa dengan teknik koreksi tidak langsung. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tingkat kesalahan berbahasa baik pada tindakan prasiklus, siklus I, dan siklus II. Secara keseluruhan penurunan rata-rata sebesar 25,06%. Jumlah rata-rata kesalahan berbahasa pada tahap prasiklus sebesar 24%, pada siklus II jumlah rata-rata kesalahan berbahasa menurun menjadi 13,75%. Selain hasil tersebut, terdapat persepsi dan kesan positif dari mahasiswa pada perkuliahan MKU bahasa Indonesia.

Terpublikasi dalam Jurnal Lembaran Ilmu Pendidikan Volume 41, Nomor 1, 2012


-popular posts-