MATA KATA
Horay... begitu reaksiku ketika kali pertama penulis buku ini @meinafebri memberi kabar kalau buku sudah selesai cetak dan sudah nangkring di meja kerjaku 101 😊 Tepat setahun lalu, sejawat kerenku ini mengirim draft awal dan meminta sekadar blurb dari keseluruhan tulisan. Tentu saja aku tidak keberatan. Kubaca pelan, persis dengan formasi 10 artikel (yang semuanya) andalan.
Seminggu kemudian, kukirimkan:
Esai-esai dalam Mata Kata adalah potret upaya Meina Febriani untuk menyuarakan ihwal bahasa, sastra, pendidikan, dan perempuan dari jarak dekat. Teropong kelekatan itu dibidik sesuai porsinya sebagai seorang Ibu, yang juga pengajar, pemerhati, dan peneliti. Tulisan-tulisannya adalah konstruk logika yang provokatif dengan sesekali menghadirkan pertanyaan retoris-kritis, didampingi telusur teoretis.
=========
Artikel ke-10 "Perempuan Akar di Tapak Pertanian Urban" tentu paling kukenal 😊 Ketika akan diikutkan dalam lomba esai awal tahun lalu, aku sempat lebih dulu membaca draft awal yang dikirimkan, lalu memberi sekadar komentar perbaikan sak nyandhake pikiran. Dinobatkan sebagai juara dalam lomba tersebut sangat mungkin ganjaran atas upaya baik menghadirkan PoV yang jelas plus argumen yang logis. Setelahnya, kusampaikan bahwa kemenangan tersebut pantas dirayakan.
Selamat. Ditunggu karya berikutnya, Dik!
Kata yang baru bagiku:
Kanon
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar