Kamis, 08 Oktober 2026

HARI RAYA & KABAR DUKA BU MILA

Alhamdulillah, Iduladha 1447 H tahun ini. Bangun pagi, bersiap, dan kami awal sampai lokasi. Sedikit terburu-buru karena ingin mendapat posisi terbaik, khususnya untuk Ibu yang harus salat sambil tetap duduk di kursi. Jeda tunggu kami isi sambil melafalkan takbir, mengikuti suara pelantang yang menembus telinga kami. 

اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ

Biasanya, kami sibuk dengan gawai: foto lokasi, wefie, cek pesan, dan unggah status semau sendiri. Namun, tidak kali ini. Kinash cenderung manut, Raya aman walau belum sarapan, Ibu tenang di atas kursi pada arah yang presisi, suami sudah menuju saf depan dengan langkah pelan, dan aku masih terus ndremimil melafazkan takbir semampuku, sambil sesekali melirik para jamaah putri yang membungkukkan badan tanda permisi, untuk masuk barisan saat lewat di depan kami.

Sumber: Dokumentasi Pribadi - AI Image Generator

Tepat 6.15 WIB, imam mulai memimpin salat. Selepas salat dan doa, ada pesan masuk dari teman jauh, sekaligus teman lama, Dr. Syaiful Bahri. Beliau sejawat dosen dari UIN Antasari. Penulis buku yang produktif ini menyapa via WA dan menanyakan kabar. Sungguh, teladan silaturahmi yang sangat menyentuh, mengingat kami hanya satu semester bersama saat mengikuti short course di UPI Bandung puluhan tahun silam. Dalam beberapa komunikasi sebelumnya, aku selalu menanyakan kabar sejawat lain yang satu institusi mengajar dengan beliau: Drs. Burdjani dan Dr. Mila. 

Pada kesempatan sebelumnya, beliau sudah menyampaikan bahwa Drs. Burdjani sudah purnatugas. Alhamdulillah beliau sehat. Baru pagi inilah, beliau memberi kabar bahwa Dr. Mila telah berpulang. 
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Seketika kenangan atas beliau menyeruak dalam ingatan. Aku memanggil beliau Bu Mila. Usia kami agak terpaut jauh, tepat bila aku menempatkan beliau sebagai kakak. Bu Mila pribadi yang sangat lembut, tidak banyak bicara, dan cerdas. Aku mengingat beliau pernah satu kelompok presentasi denganku saat program short course tersebut. Duduk juga sering bersama, di belakang kami kadang ada (sekarang sudah) Prof. Anas Ahmadi dari Unesa dan (sekarang juga sudah) Prof. Syamsul Ma'arif dari UIN Walisongo. Aku ingat juga, beliau memperkenalkan suami beliau saat menjenguk ke Bandung. Suami beliau ramah sekali pula. Saat di Bandung tersebut, Bu Mila sedang hamil trimester pertama sehingga sering ingin pulang ke Banjarmasin, tetapi suami beliau yang ngalahi jenguk ke Bandung. Aku lamat-lamat ingat, pernah dimintai tolong beliau berdua untuk memfoto, sekadar mengabadikan momen berada di Bandung tersebut. Suami beliau merangkul Bu Mila di depan Gd. Pacasarjana UPI kala itu, dan cekrekkk... momen berharga sekali 💙


Sumber: https://www.instagram.com/p/DTNIWoMkRm1/

Masih dalam suasana yang berkecamuk, kaget, walaupun sudah tidak saling berkabar dan belum berkesempatan bersua kembali, aku coba searching untuk memastikan kabar tersebut. Pasca-searching, aku makin kaget. Suami beliau ternyata sudah berpulang pula. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Dari takarir dan komentar di sebuah akun IG, kudapati suami beliau meninggal saat menunggui Bu Mila sakit, masyaallah. Beliau tertidur di samping ranjang RS dan tidak bangun lagi. Kemudian, sehari setelahnya, Bu Mila menyusul almarhum berpulang. Allahu Akbar. Bahkan sampai akhir hayat pun, beliau berdua masih memberi kesempatan untukku belajar dari kisahnya. 

Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa 'fu anhu.
Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa 'afihaa wa 'fu anhaa.

Ya Allah, aku bersaksi beliau berdua orang baik 💙 mohon Jannah-mu bagi beliau berdua. Aamiin ya rabbal alamin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HARI RAYA & KABAR DUKA BU MILA

Alhamdulillah, Iduladha 1447 H tahun ini. Bangun pagi, bersiap, dan kami awal sampai lokasi. Sedikit terburu-buru karena ingin mendapat posi...