REFLEKSI PEMBELAJARAN: RITUAL ATAU SUBSTANSIAL?

 


“Mengerjakan LKPD, Bu.”

Begitulah jawaban seorang murid yang duduk di bangku paling ujung belakang sebelah kanan ketika diminta guru melakukan refleksi pada akhir pembelajaran. Jawaban sederhana tersebut saya dapati saat melakukan visitasi mahasiswa praktikan di sebuah sekolah jenjang menengah. Tentu, tidak ada yang salah dengan jawaban tersebut karena hal itu memang menjadi salah satu aktivitas yang dilakukan murid dalam proses pembelajaran. Mereka menyimak bahasan materi, mencermati pemodelan, berdiskusi, mengerjakan lembar kerja (LKPD), dan mempresentasikannya. Namun, jawaban tersebut terus terngiang dan memantik jejalan pertanyaan: Apakah murid sudah benar-benar memahami makna refleksi? Apakah selama ini murid sudah pernah diajari cara melakukan refleksi? Apakah murid sudah benar-benar mampu merefleksi?

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut lahir sejumlah dugaan: Jangan-jangan guru menyebut aktivitas tersebut sebagai refleksi hanya karena tahapan ini ditempatkan pada bagian akhir pembelajaran? Jangan-jangan guru melakukan refleksi hanya sebagai ritual penutup aktivitas belajar? Jangan-jangan tidak ada tindak lanjut atas refleksi yang telah coba dilakukan? Rangkaian pertanyaan dan dugaan tersebut “mengganggu” pikiran karena menyentuh praktik yang begitu dekat dengan keseharian pembelajaran. Pertanyaan yang kerap diajukan guru, seperti: “Bagaimana pembelajaran hari ini?”, “Apa yang kalian dapatkan?”, “Apa yang sudah kita lakukan?” tentu tidak asing bagi murid. Mereka dengan segera akan memberi respons yang beragam: menyenangkan, bosan, seru, atau diikuti cerita telah belajar tentang materi tertentu. Jawaban-jawaban tersebut baru memberi informasi tentang apa yang dilakukan. Padahal, belajar bukan sekadar tentang apa yang dilakukan, melainkan juga tentang apa yang dipahami dan dimaknai.


Dari Melakukan, Memahami, hingga Memaknai

Refleksi bukan sekadar mengingat kembali kegiatan yang telah dilakukan. Lebih dari itu, refleksi mengajak seseorang melihat kembali pengalaman belajarnya: apa yang dipahami, apa yang belum dipahami, kesulitan apa yang dialami, bagaimana kesulitan itu diatasi, dan apa yang akan dilakukan setelahnya. Ada jarak antara “Mengerjakan LKPD, Bu” dan “Bu, saya baru paham manfaat teks anekdot aural setelah bertukar pikiran dengan teman.” Jawaban pertama menunjukkan aktivitas yang dilakukan. Jawaban kedua memperlihatkan kesadaran terhadap proses belajar. Nah, pada tahap ini refleksi menjadi penting. Murid tidak hanya mengingat apa yang dilakukan, tetapi mulai menyadari apa yang terjadi pada dirinya ketika belajar. Mereka tidak berhenti pada pengalaman, tetapi berusaha menemukan makna dari pengalaman tersebut. Sayangnya, refleksi berubah menjadi ritual, ketika diperlakukan sebagai penanda bahwa pembelajaran akan usai dan aktivitas kelas selesai.

Barangkali, salah satu sebabnya adalah cara guru mengajukan pertanyaan. Contoh pertanyaan yang kerap diajukan guru di atas memang dapat membuka ruang bagi murid untuk melihat kembali pembelajaran. Namun, pertanyaan yang terlalu umum juga memungkinkan murid berhenti pada jawaban yang paling mudah diingat: mengerjakan LKPD, misalnya. Setelah murid menjawab pertanyaan, guru kadang belum menghadirkan ajakan tindak lanjut untuk masuk lebih jauh hingga menyentuh pengalaman belajarnya.

Persoalan lainnya, murid terkadang tidak serta-merta mampu melakukan refleksi hanya karena diminta melakukannya. Artinya, kemampuan berefleksi perlu dibangun melalui pembiasaan dan pendampingan. Penelitian Elizabeth A. Davis tentang reflective learning menunjukkan bahwa pemberian scaffolding berupa pertanyaan atau panduan tertentu dapat membantu murid melihat kembali proses belajarnya secara lebih mendalam. Mereka perlu belajar mengenali apa yang telah dipahaminya, apa yang masih membingungkan, strategi apa yang membantunya belajar, bahkan kesalahan apa yang dapat menjadi pelajaran. Dengan demikian, refleksi bukan kegiatan yang tiba-tiba muncul lima menit sebelum kelas berakhir, melainkan bagian dari budaya belajar yang dibangun secara bertahap.


Pertanyaan Reflektif yang Efektif

Lalu, seperti apa pertanyaan reflektif yang efektif? Barangkali, pertanyaan yang baik bukanlah pertanyaan yang paling rumit, melainkan pertanyaan yang membawa murid untuk berhenti sejenak dan menengok kembali proses belajarnya. Bukan hanya “Apa yang kita lakukan hari ini?”, tetapi “Apa yang paling kamu pahami hari ini?”, “Bagian mana yang masih membuatmu bingung?”, dan “Apa yang membuatmu akhirnya memahami hal tersebut?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggeser perhatian murid dari sekadar kegiatan menuju pengalaman belajar. Dengan demikian, jawaban “Mengerjakan LKPD, Bu” dapat berkembang menjadi cerita tentang apa yang dipelajari murid melalui LKPD tersebut.

Tentu, tidak semua pertanyaan harus diajukan sekaligus. Guru dapat memilih pertanyaan sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik materi, dan kondisi murid. Yang terpenting bukan banyaknya pertanyaan, melainkan ruang yang diberikan kepada murid untuk melihat kembali proses belajarnya dan menemukan sesuatu dari pengalaman tersebut. Sebab, pertanyaan reflektif yang efektif bukanlah pertanyaan yang sekadar mendapatkan jawaban, melainkan pertanyaan yang mengantarkan murid menemukan pemahaman dan pemaknaan. Dari sana, refleksi tidak lagi sekadar menjadi kegiatan untuk menutup pembelajaran, tetapi menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri.


Guru Mengajar, Guru Belajar

Jika murid perlu belajar berefleksi, guru pun perlu melakukan hal yang sama. Bukan hanya merefleksikan materi yang telah disampaikan atau kegiatan yang telah dilakukan, tetapi juga merefleksikan bagaimana murid mengalami pembelajaran tersebut. Apakah pertanyaan yang diajukan sudah memberi ruang kepada murid untuk berpikir? Apakah jawaban yang muncul benar-benar menunjukkan pemahaman? Apakah refleksi yang dilakukan memberikan informasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki pembelajaran selanjutnya? Pada titik ini, refleksi tidak lagi sekadar menjadi urusan murid. Ia menjadi bagian dari budaya belajar bersama. Murid belajar melihat kembali proses belajarnya, sementara guru belajar melihat kembali proses pembelajarannya.

Refleksi tidak harus panjang. Tidak harus selalu ditulis atau diutarakan dalam paragraf. Tidak pula harus menjadi kegiatan khusus yang menunggu lima menit terakhir sebelum bel berbunyi. Refleksi dapat hadir dalam satu pertanyaan sederhana yang memberi kesempatan bagi murid untuk jeda, meninjau pengalaman belajarnya, lalu menyadari sesuatu tentang dirinya sebagai pembelajar. Sebab, pembelajaran yang baik bukan hanya meninggalkan tugas yang selesai, tetapi juga kesadaran yang tumbuh. Murid tidak hanya tahu apa yang telah dilakukan, tetapi memahami apa yang dipelajari dan memaknai mengapa hal itu penting baginya.

Maka, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi “Apakah refleksi sudah dilakukan?”, melainkan “Apakah refleksi benar-benar bermakna atau sekadar terlaksana?” Jika hanya hadir sebagai bagian dari tahapan pembelajaran, refleksi akhirnya hanyalah ritual. Namun, jika refleksi memberi kesempatan kepada murid untuk memahami dan memaknai pengalaman belajar, di sanalah refleksi menjadi substansial.


*telah dipublikasikan di melintas.id, 1 November 2026
https://www.melintas.id/literasi/347623695/refleksi-pembelajaran-ritual-atau-substansial-berikut-informasi-selengkapnya 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE USE OF ARTIFICIAL INTELLIGENCE IN TEACHING WRITING: IS IT A DYSTOPIA?

THE GHOST WRITER

POJOK BACA KELUARGA SEBAGAI PENDUKUNG HABITUS LITERASI