Rabu, 25 Desember 2019

RUMAH KERTAS

Dok. Pribadi - Kampus Undip


Bacaan diantara koreksian. Yeay… selesai. Tahun lalu lihat novel ini di toko buku online JBS Jogja. Seperti biasa, cermati judulnya, mengintepretasikan isinya, berniat beli, dan baru berjodoh akhir tahun ini.

Ilustrasi “Le Libraire” karya Andre Martins de Barros menjadikan sampul novel ini apik dan eksotik! Secara fisik, novel terjemahan ini amat tipis untuk ukuran pembaca novel di Indonesia. Namun, kisah yang disampaikan tidak sedangkal yang ku kira. Novel berjudul asli La Casa de Papel ini kali pertama diterbitkan di Montevideo, Uruguay (2002).

Carlos Brauer adalah seorang bibliofil sejati (super parah –kalau menurut saya!). Baginya buku bukan sekadar alat belajar, yang layak untuk didiskusikan, atau sekadar dicokok untuk menambah wawasan. Di matanya, buku adalah benda diam yang menantang. Setiap lembarnya seolah menyeru-menyeru minta perhatian. Di tangannya, takdir buku seolah berubah menjadi peragaan indah sampul dan jilidan.

Dalam kegilaan terhadap buku, ia terus memburu dan menambah koleksi. Berapa pun uang yang ia punya, dialokasikan untuk belanja buku. Benar saja, koloni raksasa serupa perpustakaan pribadi telah mengambil alih lorong-lorong rumahnya dan menguasai setiap jengkal dinding tuanya. Fumigasi setiap enam bulan dilakukan sebagai wujud “pengasuhan”.

Ia bisa menghabiskan waktu sepanjang siang malam dengan buku. Baginya, pembaca buku adalah pengelana dalam lanskap buatan penyusunnya. Coretan berisi komentar dan catatan yang tak begitu rapi selalu memenuhi marjin-marjin buku yang dibacanya. Sepertinya, Ia tipe pembaca gaya lama! *eh, aku juga, hahaha.

Suatu pagi, ia mendapati asap dari lantai dasar rumahnya. Api telah menelan habis indeks buku yang ia susun mati-matian beberapa tahun ini. Semua ilusi untuk menata kembali perpustakaannya pupus dalam sehari. Ia merasa lenyaplah sudah sejarah diri pribadi.

Dalam brutalisme diri yang belum terkendali, ia memilih pergi. Pesisir Rocha yang sepi mungkin bisa memberi ketenangan tersendiri. Beberapa truk kontainer membawa serta koleksi-koleksi bukunya. Dalam proses pembangunan “rumah” baru di pinggir teluk itu, ia menyuruh kuli/tukang menjadikan buku-bukunya menjadi bata. Iya, bahan baku dinding penyangga!

Brauer ingin buku-buku itu terus menemani, melindungi, meneduhi, dan membentengi. Ia mengantarkan koleksi-koleksinya menemui takdir sepi, yang tak seorang pun akan membukanya lagi. Halaman demi halaman, jilid demi jilid, edisi demi edisi lebur bersama pasir dan kemudian diringkus dengan semen.

Brauer bilang “buku-buku adalah rumahku!”

Selasa, 24 Desember 2019

THE BOOKSTORE TRAVELER

Dok. Pribadi - Graha Sartika 

Liburan dan bacaan. Selesai. Membaca buku ini serasa diajak traveling beruntun, dari toko buku satu ke toko buku lainnya, lingkup Solo dan Jogja. Menyenangkan!

Beragam. Di area Solo, petualangan dimulai dari toko buku berkonsep kios macam TB Ar Royyan, yang berkonsep instagramable macam Susano Book, yang berkonsep lapak macam loakan di Gladak dan Busri (mburi Sriwedari), serta toko buku legend macam TB Sekawan dan Budi Laksana.

Traveling lanjut ke toko buku yang berkonsep wirausaha kampus macam UMS Store dan UNS Store, hingga retail modern macam Gramedia (Slamet Riyadi, Solo Square, Grand Mall, The Park, dan Hartono Mall) serta Togamas.

Sepanjang perjalanan di Solo, aku bernostalgia dengan loakan di Busri. Awal masuk kuliah, aku membeli KBBI, kamus sejuta umat John Echol dan Hassan Shadily, dan beberapa buku teks kuliah di sana.

Hal menarik kudapati saat cerita perjalanan singgah di UMS Store. Konsep belanja buku via voucher pada awal semester, yang diberlakukan bagi seluruh mahasiswa UMS menjadi kebijakan kampus yang seru, (mungkin) setengah memaksa, tapi (hampir pasti) manfaatnya terasa.

Traveling kian seru saat mulai beranjak ke toko buku lingkup Jogja. Transaksi niaga buku di kota itu beraneka rupa cerita. Mulai dari Rindu Buku, Raja Murah, Toko Budi, Berdikari, Buku Beta, Dema Buku, Ksatria Buku (Ambon), Taman Pintar Bookstore, Social Agency, dan Radio Buku a.k.a Warung Arsip.

Lawatan dalam buku ini membuka wawasan mengenai sejarah, strategi penjualan dan (bahkan) pemertahanan, konsep indie publishing, cerita "perkawinan" antara toko buku-cafe-co working space, praktik monopoli, hingga pembajakan buku yang ampung-ampunan kini!

Cerita perjalanan "bergizi" ini juga mempertontonkan proses berliterasi dari sisi belakang panggung. Semoga berkesempatan menapak tilas suatu hari nanti.

Rabu, 18 Desember 2019

BERUMAH DI BUKU

Doc. Pribadi - FBS UNNES


Yasss... hujan dan bacaan.
Salah satu koleksi -buku tentang buku- ini sudah lama kuintai lewat beberapa toko buku daring (online). Baru saat pameran buku Patjar Merah di Semarang kemarin nemu, baca backcover, masuk keranjang, bayar!

Selain coba meraup esensinya, modus lain untuk segera menuntaskan adalah mencermati pola nulis esai-nya mas Bandung Mawardi... dan asyik! 😊

By the way, baca kumpulan esai ini seperti membaca 25 buku lawas sekaligus. Sekali bungkus! Yaps, seluruh esai mengolah ihwal (buku) bacaan lawas yang ditemukan, dicecap, dan kemudian dilahap oleh penulisnya.

Proses "ditemukan" menjadi kekuatan tersendiri dalam tiap esai. Mengapa? Karena butuh feeling bin hati saat mengorek-orek diantara timbunan buku lawas lainnya di pasar loakan atau pedagang buku second-an. 

Proses "dicecap" mengedepankan kuatnya indera penulis dalam mengendus berbagai variasi tema buku lawas yang dihadirkan: politik, sejarah, bahasa, musik, sastra, dan sosial. Pun, dalam beragam bentuk: biografi, kamus, referensi, buku teks, dan antologi.

Aku menenggarai, hanya orang yang berjiwa gandrung-isme terhadap buku sajalah yang mampu menjadi omnilegent! Yaaa... seperti penulis buku ini.

Hingga bagian ujung buku, aku mendapati simpulan: bahasan buku-buku lawas yang "sakral" itu ternyata masih relevan dengan kondisi sekarang. Ia menjadi semacam rumah ingatan yang menampung rangkaian sejarah masa silam.

Ada nostalgia yang ingin dibagikan, mulai dari sebangsa hikayat hingga stensilan. Buku lawas adalah pengabaran waktu. Dan... akan terus begitu!

KELAS KAMI DI KEDAI KOPI (3)

Doc. Pribadi - Patemon


Semalam kami membaca karya dalam temaram. Mati listrik. Tapi cukuplah penerangan dari senter elektronik a.k.a gawai (modern -mode on 😊). Cukup lama. Yaaa... kira-kira sepanjang durasi pertandingan final cabang Sepak Bola SEA Games 2019 😃 

Kali ini giliran cerpen romance berlatar Gestapu milik bro Muvti yang didiskusikan. Karyanya keren? bangets. Tipikal tulisan yang runtut, lengkap kap kap kap, detail, dan nyaman-able.

Itu penilaian objektif. Yuks, lanjut sesi penilaian subjektif 😊. Menurutku karyanya ini cerita pendek yang tidak pendek. Masih masuk kategori cerpen? iyalah, pasti. Namun, kuantitas kata yang digunakan sempat membuatku tak sabar. Detail tiap laku tokohnya "berbunga-bunga" sekali. Aku memberi apresiasi tinggi pada kemauannya untuk membuat cerita itu "bersih" dari tafsir ganda.

Oleh karenanya, kurecoki dia dengan pertanyaan "Kok bisa setahan itu sih, Bro? Kayak gimana outline-nya?" Mungkin karena aku lebih suka yang gercep (dan percayalah ini 11-12 dengan tergesa-gesa bin instan) 😅

Proses penulisan dia ceritakan. Sederhana tetapi mengena. Walau tentu tak harus kutiru sama. Jujur saja di depan tulisan kita, katanya.

Di akhir, Kang Putu menambahkan "terhambat tidak sama dengan terlambat" kan ya? Hambatan dalam menulis itu ada saja. Dalihnya banyak, kesibukan misalnya (#eaaaa). Toh begitu, mestinya tidak membuat kita sudah merasa terlambat untuk memulai (menulis) lagi.

PENGHARGAAN KARYA JURNALISTIK DITJEN PAUD-DIKMAS

Dok. Pribadi - Balai Kartini Jakarta

Selamat teman-teman!


Senang menjadi salah satu penerima Penghargaan Karya Jurnalistik dari Ditjen PAUD Dikmas, Kemendikbud RI. 

Tahun ini ada 4 (empat) kategori apresiasi: feature, opini, blog, dan vlog dengan tema utama Budaya Literasi Keluarga.


Ada 3 (tiga) portofolio karya yang kuikutkan: Menakar Relevansi Read-Aloud Kini (Suara Merdeka, Februari 2019), Stop Bookshaming! (Kedaulatan Rakyat, Juli 2019), dan Menyiapkan Generasi Multilingual (Suara Merdeka, September 2019).



Sebagian besar nominator ialah teman-teman jurnalis: Galamedianews, Solopos, Harian Bhirawa, Harian Haluan, Aceh Trend, Suara Merdeka, Koran Sindo, Detik News, Radar Sampit, Harian Bisnis, Harian Surya, Sriwijaya Post, Sindo News, Suara Surabaya, Tribun News, Jember Post.

Keluarga HEBAT keluarga TERLIBAT!

Minggu, 08 Desember 2019

Bernostagia via... Na Willa!

Na Willa 1 - Cover (Dok Pribadi)

Yeay, barusan selesai baca. Mb Reda Gaudiamo melahirkan karakter Willa sebagaimana adanya anak, yang hanya mengenal "hitam-putih" saja.

Saya nyaman karena tak ada karakter super sempurna yang dihadirkan; di banyak buku cerita anak, saya sering menemukan karakter yang serba pintar, serba imut, serba bijak, atau serba hebat.

Pesan yang disampaikan menyatu dalam tokoh Willa, jauh dari kesan menggurui, bukan pesan yang maha berat, pun tidak selalu berakhir happy ending.

Willa bukan template orang dewasa di sekitarnya. Dia pribadi merdeka. Selayaknya sebagian besar anak di kehidupan nyata.

Membaca kisah Willa, Bud, Dul, Farida, Mak, Mbok, bu Tini, dan bu Juwita ini membawa saya bernostalgia dengan kenakalan, kecerobohan, keisengan, dan segala macam ketakutan bin kekhawatiran yang meyertai kehidupan masa kecil. Olala!

Oh ya, saya jadi teringat sohib kerens sedari TK nih, hahaha. Thankful kepada Post Santa yang sudah menerbitkan ulang. Hai Maesy Ang dan Teddy, saya turut jatuh cinta pada Na Willa nih! :)

Selamat berkeliling nusantara, wahai rombongan sirkus literasi Patjar
Merah. Always support U!

Kamis, 14 November 2019

MINIMALKAN LITERACY SHAMING!

Tribun Jateng, 13 November 2019


Keterampilan menulis merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru profesional. Selain sebagai upaya Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), menulis juga merupakan bentuk aktualisasi diri, episentrum peningkatan kualitas pembelajaran, dan simpul profesionalisme guru dalam berkontribusi secara konstruktif bagi peningkatan kualitas pendidikan secara luas. Dalam menjalankan tugas profesi pun, aktivitas menulis selalu dilakukan guru. Aktivitas tersebut dimulai dari mempersiapkan silabus, menyusun program tahunan dan semester, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, saat pelaksanaan proses pembelajaran, serta dalam proses evaluasi.
Namun, problem mulai muncul ketika guru dituntut untuk menyusun karya tulis ilmiah (KTI), dalam bentuk apapun. Contohnya penyusunan artikel ilmiah populer, artikel konseptual, esai, artikel hasil penelitian, atau jenis tulisan ilmiah lain. Penyusunan karya tulis ilmiah bagi guru berkaitan dengan pengembangan profesi, aktualisasi diri, dan mendukung kegiatan literasi bermakna. Belum cakapnya guru dalam penyusunan karya ilmiah tergambar pada data Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) yang menyatakan 30,4% guru terhambat kenaikan pangkatnya karena kendala penyusunan dan publikasi karya ilmiah (Sulistiyo, 2014).
Sebenarnya, para guru menyadari benar pentingnya aktivitas menulis. Namun, presentase guru yang telah memproduk tulisan ilmiah, khususnya bentuk artikel ilmiah populer masih sangat minim, itupun belum dilakukan secara kontinu. Selain itu, sebenarnya para guru juga memahami teori-teori menulis dengan baik, mengetahui tahapan-tahapan menulis, serta mengerti arti penting aktivitas menulis bagi kebutuhan profesi guru. Namun, keengganan untuk menulis artikel ilmiah populer tetap saja besar.
Literacy Shaming
Keengganan tersebut mengarah kepada perilaku literacy-shaming, yaitu merasa tidak mampu menulis meskipun sudah menguasai teori menulis dan memahami berbagai bentuk tulisan (Dewayani dan Retnaningdyah, 2017). Perilaku literacy-shaming akan membawa akibat buruk apabila tidak ada upaya masif untuk meminimalisasi.
Salah satu dampaknya, para guru seolah melegitimasi bahwa tugas profesinya hanya sekadar menjalankan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dalam proses belajar mengajar saja. Kemudian, para guru cenderung mengabaikan makna dan tugas guru yang sesungguhnya yaitu memberi keteladanan, termasuk dalam hal berliterasi. Tiga kendala utama yang menyebabkan perilaku literacy-shaming, yaitu kendala kesulitan menemukan ide, kesulitan mengeksekusi ide (no action), dan kesulitan mendapatkan media publikasi.
Pertama, kendala kesulitan ide sering dialami para guru utamanya ketika hendak memulai menulis. Sebagian besar guru merasa blank, tidak tahu apa yang akan ditulis, ide dan imajinasi tiba-tiba “mampet”. Setelah berlama-lama tanpa arah tujuan tulisan, para guru biasanya kemudian memutuskan berhenti menulis. Produk tulisan ilmiah tersebut akhirnya hanya sebatas angan-angan saja.
Kedua, kendala sulitnya mengeksekusi ide. Ketika ide atau gagasan sudah muncul, para guru tidak percaya diri untuk memulai menuliskan ide tersebut. Selain referensi yang dangkal, sering kali para guru mengalami writer block, kondisi dimana aktivitas menulis berhenti karena tidak siap untuk menuliskan ide yang sudah ditemukan.
Ketiga, kendala berkenaan dengan media publikasi. Beberapa guru pernah mengirimkan artikel populer ke media massa, tetapi tidak dimuat atau dinyatakan tidak layak muat. Setelah beberapa kali mencoba dan gagal, para guru cenderung putus asa. Bila menilik jumlah kolom atau halaman yang disediakan bagi penulis lepas, memang seleksi pemuatan artikel populer di media massa cetak sangat ketat dengan jumlah kompetitor yang tidak sedikit pula. Keterbatasan media publikasi tersebut kemudian menjadi kendala besar yang memengaruhi semangat para guru untuk menulis artikel populer secara kontinu.

Upaya Meminimalisasi
Kendala-kendala tersebut belum teratasi dengan baik hingga kini. Hal tersebut diperparah pula dengan manajemen waktu kinerja yang belum dikelola dengan baik oleh para guru. Sebagian besar dari mereka belum menyediakan waktu khusus untuk menulis. Selain itu, selama ini partisipasi aktif dalam mengikuti pelatihan menulis masih minim, walaupun berbagai aktivitas pelatihan dan pendampingan kepenulisan sering diadakan.
Untuk meminimalisasi literacy-shaming, beberapa alternatif solusi perlu diterapkan. Alternatif solusi tersebut antara lain mengasah daya stimulasi ide, pemantapan materi artikel ilmiah populer, dan menjalankan strategi publikasi artikel populer melalui media daring (online). Pendampingan stimulasi ide perlu dilakukan karena sebenarnya ada berlimpah ide yang bisa dituliskan oleh guru, mulai dari berbagi (sharing) keilmuan, hingga sikap kritis atas kebijakan-kebijakan pendidikan.
Adapun pemantapan materi penulisan artikel populer perlu diterapkan kembali untuk me-refresh pola penulisan artikel populer yang memiliki karakteristik berbeda dengan bentuk tulisan ilmiah lainnya. Terakhir, strategi publikasi melalui media daring perlu dikuasai oleh para guru mengingat sangat terbukanya peluang publikasi melalui media tersebut. Media daring membuka ruang tanpa batas terhadap berbagai gagasan atau ide yang ingin disampaikan. Apalagi pada era digital saat ini, akses terhadap media-media daring sangat cepat dan mudah.

Telah dipublikasikan di Harian Tribun Jateng, 13 November 2019

Kamis, 07 November 2019

LITERASI MEDIA GURU PROFESIONAL



Perkembangan informasi dan teknologi merupakan sebuah keniscayaan. Bahkan, kini Indonesia telah memasuki media saturated era, yaitu era dimana media mengalami perkembangan yang sangat pesat, khususnya media berbasis digital. Secara umum, perkembangan media digital dapat dilihat dari sisi medium maupun kontennya.
Khusus medium digital, saat ini terdapat hampir 330 juta situs internet yang dapat diakses dengan mudah (Noor, 2017). Jumlah yang sangat besar tersebut tentu berbanding lurus dengan peningkatan jumlah informasi pula. Hal tersebut perlu diwaspadai karena tidak semua informasi memberikan ekses yang positif bagi penggunanya.
Penetrasi beberapa jenis media digital telah merambah ke berbagai kalangan tanpa membedakan strata sosial, termasuk pada kalangan guru. Penggunaan media digital telah bergeser menjadi gaya hidup. Dalam artian, media digital telah mengambil peran pada bagian-bagian penting dalam keseharian guru, termasuk ketika menjalankan tugas profesinya.
Sebagai profesional, guru harus memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan. Ia memiliki kewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Selain itu, guru merupakan profesi yang memiliki persyaratan khusus, antara lain 1) menuntut adanya keterampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam, 2) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya, 3) menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai, 4) adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakan, dan 5) memiliki komitmen yang kuat untuk tidak hanya melakukan transformasi ilmu pengetahuan, melainkan sampai kepada upaya pembentukan karakter individu yang dapat menjadi modal terbentuknya karakter bangsa.
Mendasari tugas dan fungsi yang tidak ringan tersebut, media saturated era menuntut kalangan guru untuk tidak sekadar mampu mengoperasikan media. Namun, mereka perlu kritis pula terhadap konten-konten yang ada di dalamnya. Para guru mulai mengakses media digital (internet, media sosial, telepon pintar, dsb) dan mulai meninggalkan media konvensional (televisi, radio, handie talkie, dsb).
Akses terhadap berbagai media digital tidak selalu dibarengi dengan tingkat kesiapan guru dalam menggunakannya. Badan Kepegawaian Negara (BKN) mendapatkan pengaduan resmi bahwa 6,4 juta akun pengguna yang berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk guru, merupakan penyebar hoaks (Perkasa, 2018). Jumlah tersebut merupakan jumlah akun profesi sebagai penyebar hoaks terbanyak di Indonesia. Sungguh sebuah ironi mengingat salah satu tugas guru ialah sebagai penggerak dan ujung tombak aktivitas literasi di dunia pendidikan.
Pemerintah mengimbau dengan tegas bahwa guru harus melek terhadap literasi media. Saat ini baru 25% guru yang memiliki kecakapan literasi media (Budi, 2017). Dari jumlah yang minim tersebut, diketahui sebagian besar diantaranya baru menguasai ruang lingkup kecakapan sebatas mengenai media pembelajaran saja. Padahal, cakupan literasi media sangat luas, termasuk dalam kontribusi antisipatif terhadap penyebaran berita bohong (hoaks). 
 
Literasi Media Baru                                                                                                 
Literasi media merupakan suatu rangkaian gerakan media, yaitu gerakan melek media yang dirancang untuk meningkatkan kontrol individu terhadap media yang mereka gunakan untuk mengirim dan menerima pesan. Hal serupa dipaparkan oleh European Commision (2009), yang menyatakan bahwa literasi media merupakan kemampuan untuk mengakses, menganalisis, dan mengevaluasi makna gambar, suara, dan pesan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Literasi media merupakan bagian penting dalam budaya kontemporer, serta untuk berkomunikasi secara baik pada media yang digunakan secara pribadi.
Komponen paling umum dari literasi media ialah adanya kesadaran dari banyak pesan media dan kemampuan kritis dalam menganalisis dan mempertanyakan  hal-hal yang dilihat, dibaca, dan ditonton. Dalam era keterbukaan informasi saat ini pertumbuhan media mengalami perkembangan yang signifikan. Era literasi media baru (new media literacy) telah menguasai dan bahkan telah membudaya. Oleh karena itu, sangat perlu kecakapan literasi media dengan tujuan untuk “berdaya” di tengah terpaan arus informasi yang sedemikian masif, memproteksi dampak negatif media, dan mengubah cara pandang hidup secara integral menjadi lebih adaptif pada perubahan.
Literasi media baru telah membawa pengaruh kepada khalayak dengan beragam cara. Sehingga muncul simpulan bahwa masyarakat, termasuk guru, kini tidak dapat dipisahkan dari teknologi digital lagi. Gempuran informasi yang sangat beragam kini, perlu diimbangi dengan kecakapan literasi media sebagai budaya tangkal atas dampak negatif yang sangat mungkin muncul. Selain itu, literasi media juga bertujuan untuk melindungi konsumen informasi yang rentan dan lemah terhadap dampak penetrasi media digital.
Tingkat kecakapan literasi media guru profesional perlu diketahui secara pasti. Konsep pengukuran kecakapan literasi media guru hakikatnya mengukur tingkat kemampuan guru dalam menggunakan dan memanfaatkan media. Diantaranya, kemampuan untuk menggunakan, memproduksi, menganalisis, dan mengkomunikasikan pesan melalui media. Pengukuran kecakapan tersebut dapat didasarkan pada kompetensi personal dan kompetensi sosial. Kompetensi personal merupakan kemampuan guru dalam menggunakan media dan menganalisis konten-konten media. Adapun kompetensi sosial merupakan kemampuan guru dalam berkomunikasi dan membangun relasi sosial lewat media serta mampu memproduksi konten media.
Hasil pengukuran tingkat kecakapan literasi media guru profesional dapat dikategorikan dalam 3 tingkatan atau level yaitu rendah, medium, dan tinggi. Ketiganya memiliki indikator pengukuran yang jelas. Tingkatan yang telah ditetapkan dapat difungsikan untuk memastikan kondusivitas pembelajaran yang vital dalam tuntutan keterampilan abad 21, acuan Higher Order Thinking Skill (HOTS) peserta didik, dan evaluasi internal guru. Media literacy is not just important, it’s absolutely critical (Linda Ellerbee).


*telah dipublikasikan di Harian galamedianews.com, 7 November 2019

Minggu, 20 Oktober 2019

KELAS KAMI DI KEDAI KOPI! (2)

Kelas Menulis - Kedai Kopi Kang Putu
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi


Minggu ke-6. "Menurutku ending-nya diberi simpulan saja, Kang" kata salah satu teman di kelas menulis kami minggu ini, begitu selesai membaca cerita pendek karyaku.

Tanggapan. "Mengapa harus begitu? Kita tidak harus memaksakan formula tunggal dalam menyampaikan ending cerita. Lagian, akan tidak nyaman pula bila konklusi justru menutup ruang dialog dengan pembaca. Biarkan, merdeka saja!" Ujar Kang Putu.

Minggu ini memang giliranku setor karya. Dibaca, dan teman-teman bebas memberi tanggapan atau masukan. "Kalau mb Santi mau menaruh ending-nya di awal pun tak masalah kan? Pakai plot kilas. Siapa yang akan melarang?" Ujarnya lagi.

Diskusi kami berlanjut mengenai keragaman. Hakikatnya pemaknaan terhadap karya memang tidak harus selalu seragam. Tak serupa. Hindari menilainya dengan takaran yang melulu sama. Baik bagi kita, belum tentu bagi orang lain. Sikap yang harus disiapkan adalah kerendahan hati. Menerima secara terbuka dan terus meniti.

Dalam dunia kepenulisan, kita bukan konpetitor liyan. Ah ya! 💕

Minggu, 29 September 2019

POJOK BACA KELUARGA SEBAGAI PENDUKUNG HABITUS LITERASI

Sumber Foto: http://gambarilus.blogspot.com/2018/11/90-gambar-ilustrasi-orang-sedang-membaca.html


-Children are made readers on the laps of their parents (Emilie Buchwald)-

“Mam, ‘ranum’ itu apa sih?” Begitu pertanyaan Kinash, putri saya, ketika baru saja selesai mendengar kalimat “Si monyet dengan tidak sabar menyambar buah pisang yang ranum itu”. Di bagian yang lain, ia kembali bertanya. “Mam, ‘menyemut’ itu yang bagaimana sih?” ketika saya membacakan cerita dan sampai pada kalimat “Antrean mulai menyemut saat Ibu Rimba akan membagi makanan”.

Bila pertanyaan dari Kinash terlontar, secara otomatis aktivitas membacakan buku, saya hentikan sebentar. Si sulung berusia 6 tahun ini kerap meminta jeda dengan cara “mencegat”. Kemudian, ia mengajukan pertanyaan bila mengalami kesulitan mencerna makna suatu kata. Dengan senang hati, saya akan menjawab pertanyaannya terlebih dahulu, dengan memberi pemahaman dan penggambaran yang sedekat mungkin dengannya. Bahkan, bila diperlukan, biasanya saya mempraktikkan langsung demi menuntaskan rasa penasarannya. Saya perlu memastikan ia puas dengan jawaban yang diberikan sebelum aktivitas membaca dilanjutkan.
 
Aktivitas Membaca Bersama
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi
Begitulah aktivitas kami saat kegiatan membaca bersama (shared reading), yang kami jadwalkan setiap sore, lepas salat Ashar. Aktivitas tersebut kami lakukan di ruang baca mini, sebelah tangga utama, yang kami ‘sulap’ menjadi pojok baca keluarga. Pembiasaan terhadap aktivitas membaca secara rutin merupakan upaya kami sekeluarga untuk menciptakan budaya literasi keluarga. Iya, penciptaan itu kami awali dari rumah! Tentu perlu tahapan, dimulai dari stimulus terhadap ‘minat baca’, menjurus ke tahap ‘gemar baca’, dan akhirnya tercipta ‘budaya baca’.

***********
Beberapa waktu yang lalu, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Balitbang Kemendikbud merilis indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) di 34 Provinsi. Hasilnya,  Indonesia termasuk kategori berindeks rendah dengan capaian total 37,32%, dengan rincian 9 provinsi berindeks sedang, 24 provinsi berindeks rendah, dan 1 provinsi berindeks sangat rendah (Puslitjakdikbud, 2019).

Rata-rata capaian total didapat dari indikator-indikator berikut 1) Dimensi Kecakapan (proficiency) yaitu syarat awal seseorang dapat mengakses bahan literasi, dengan hasil riset sebesar 75,92% (kategori tinggi); 2) Dimensi Akses (acces) yaitu sumber daya dukung di mana masyarakat mendapatkan bahan literasi, dengan hasil riset sebesar 23,09% (kategori rendah); 3) Dimensi Alternatif (alternative) yaitu beragam pilihan perangkat teknologi informasi dan hiburan untuk mengakses bahan literasi, dengan hasil riset sebesar 40,49% (kategori sedang); dan 4) Dimensi Budaya (culture) yaitu kebiasaan untuk membentuk habitus literasi, dengan hasil riset sebesar 28,50% (kategori rendah).

Bila menilik hasil riset tersebut, salah satu yang harus segera diperbaiki ialah dimensi akses. Peningkatan dimensi akses akan berbanding lurus dengan peningkatan dimensi budaya. Selama ini, akses masyarakat untuk mendapatkan bahan literasi lebih banyak bersumber dari perpustakaan sekolah, perpustakaan komunitas, dan perpustakaan umum, dengan pengelolaan secara otonom dan terbatas. Sejauh ini, perpustakaan sekolah hanya diakses dan diperuntukkan bagi warga sekolah, bahkan pemangku kepentingan (stake holder) pun belum terangkul. Perpustakaan komunitas secara kuantitas masih belum memadai. Adapun akses masyarakat ke perpustakaan umum, masih menyisakan berbagai kendala pula: jarak tempuh (karena biasanya terletak di pusat kota), jam pelayanan, atau ketersediaan koleksi bacaan.

Menghadirkan Pojok Baca Keluarga
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Oleh karena itu, perlu ada inisiatif dari pengambil kebijakan dan masyarakat untuk berintegrasi menyosialisasikan dan mewujudkan perpustakaan keluarga. Inisiasi awal bisa berupa pojok baca keluarga. Selain terjangkau seluruh anggota keluarga, kehadiran pojok baca sebagai perpustakaan mini keluarga juga merupakan upaya pendukung habitus literasi keluarga. Dalam mewujudkannya, setiap keluarga tidak harus menyediakan ruangan khusus. Beberapa yang perlu dipersiapkan ialah 1) Menyediakan rak buku di sudut ruangan, 2) Pastikan sirkulasi udara dan tata cahaya baik, serta jauh dari kebisingan suara, 3) Ajak anak untuk turut mendesain dan menata, khususnya memperhatikan keterjangkauan anak terhadap buku-bukunya (Majalah Pendidikan Keluarga, 2017).

Pengejawantahan pojok baca keluarga diharapkan tidak sekadar berhenti pada sebatas wacana. Dalam upaya implementasinya, peran seluruh anggota keluarga amat diperlukan. Aktivitas atau program kegiatan perlu diagendakan secara kontinu, agar manfaat pojok baca keluarga benar-benar terasa. Langkah-langkah yang perlu dapat dilakukan antara lain:

Pertama, menyusun program aktivitas membaca bersama dengan anggota keluarga. Program ini dapat menyesuaikan dengan kondisi tiap keluarga. Contohnya, mengagendakan membaca lantang (read-aloud) bagi anak. Membaca lantang jangan diasumsikan sekadar membacakan buku kepada anak dengan suara nyaring atau keras. Aktivitas membaca lantang perlu menghadirkan ekspresi total, sesuai kadar cerita yang dibacakan. Ini akan menguatkan imajinasi anak mengenai tokoh, karakter, dan konten cerita. Selain, tentu lebih menarik perhatian dan mengembirakan.


Akses Buku Augmented Reality (AR)
Sumber Foto: Dokumentasi Meina Febriani
Bagi generasi kini, aktivitas membaca lantang bisa diinovasikan dengan penggunaan buku elektronik (e-book). Walau tetap disarankan menggunakan buku cetak, untuk meneguhkan consept of print pada anak. Selain itu, generasi Z kini mendapat ruang tumbuh bagi imajinasinya dengan kemunculan buku-buku anak yang terpadu dengan teknologi Augmented Reality (AR). Karakter dalam buku dapat hidup dalam rupa tiga dimensi, usai dipindai menggunakan gawai yang sudah terhubung dengan aplikasi (Silalahi, 2019).

Inovasi lain yang bisa dihadirkan ialah mengeksplorasi tahap pasca membaca lantang, dengan membuat video ketika anak menceritakan kembali isi cerita. Konten dan tampilan video yang telah teredit selanjutnya dapat diteruskan untuk diunggah dalam youtube channel keluarga, sehingga aktivitas ini mempunyai luaran nyata.

Kedua, menunjukkan keteladanan orang tua dalam berliterasi. Dalam pembiasaan membaca, anak tidak perlu dipaksa membaca karena pada dasarnya anak adalah peniru ulung. Mereka akan mengikuti aktivitas yang sering mereka lihat. Keteladanan lebih mempan daripada sekadar perintah belaka.
 
Mengunjungi Pameran Buku
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Ketiga, mengajak anak berkunjung ke perpustakaan umum, pameran buku, dan toko buku secara kontinu. Hal tersebut bertujuan untuk mendekatkan anak dengan lingkungan baca. Makin dekat, makin suka!

Bahan Bacaan Sesuai Tahap Perkembangan Membaca Anak
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi
Keempat, menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan tahapan perkembangan membaca anak, baik berdasar aspek fisik maupun aspek konten. Aspek fisik bacaan meliputi kombinasi warna, jenis huruf dan angka, penyesuaian jumlah kata atau kalimat yang muncul secara berjenjang, gambar-gambar, serta dibuat dari jenis bahan yang nyaman dibaca atau dipegang. Aspek konten meliputi alur cerita yang ringkas dan memenuhi rasa ingin tahu, bertema dekat dengan keseharian anak (tentang hobi, binatang piaraan, benda-benda kesukaan, dsb), serta penokohan yang berkarakter dan inspiratif. Lebih lanjut, Hasim (2016) menyebut gairah membaca perlu didukung oleh asupan buku yang “bergizi”, yaitu buku yang tertata bahasa dan tampilannya, jernih alur kontennya, dan menggugah pikiran untuk memahami maknanya.

Selain untuk menumbuhkan budaya baca, pengembangan budaya literasi keluarga juga akan membangun hubungan personal yang apik antaranggota keluarga. Inisiatif pengadaan pojok baca keluarga dapat menjadi penyangga awal tradisi baca keluarga. A home without books is like a body without a soul (Cicero). Ayo membaca!

#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga

Referensi:
Hasim, Hernowo. 2016. “Flow” di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna. Jakarta: Kaifa-Mizan Publishing.

Majalah Pendidikan Keluarga Edisi 6 Tahun Ke-2 Agustus 2017. Jakarta: Dirjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat.

Puslitjakdikbud. 2019. Indeks Aktivitas Literasi Membaca 34 Provinsi-Ringkasan. Jakarta: Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Silalahi, Uli. 2019. Buku Augmented Reality: Terobosan Baru di Book Bad Wolf 2019. https://travel.kompas.com/read/2019/02/20/121700427/buku-augmented-reality-terobosan-baru-di-book-bad-wolf-2019, diakses 29 September 2019.

Jumat, 27 September 2019

KESADARAN LITERASI PERLU TERUS DITINGKATKAN




Judul                : Literasi
Penulis             : Djoko Saryono
Penerbit           : Pelangi Sastra
Cetakan           : April, 2019
Tebal               : XVI+92
ISBN               : 978-602-54101-3-0

Belakangan istilah literasi kian melejit. Demikian pula program dan kegiatan literasi makin mer­ambah masyarakat dan pemerintahan. Aktivitas ini meluas karena kesadaran sangat fundamental dan strategis bagi kemajuan dan masa depan bangsa. Kemajuan bangsa juga ditentukan tradisi dan budaya literasi. Berbagai kalangan terus menyebarluaskan ke­giatan dan budaya literasi.
Buku ini berupa risalah literasi se­bagai episentrum kemajuan kebuday­aan dan peradaban dunia, termasuk Indonesia. Di tengah-tengah konfigurasi kebudayaan dan peradaban lain, bangsa Indonesia sedang terayun-ayun diantara rentangan (kontinum) zaman kelisanan, naskah, literasi, dan kelisanan sekunder secara serempak (simultan).
Era digital kini bila tidak memiliki tradisi literasi kuat, sulit punya tradisi intelektual. Sekarang berbagai gugus (nebula) kebudayaan dan peradaban yang bertumpu pada kelisanan primer atau naskah makin sulit berkembang. Dia tidak sanggup merespons per­ubahan. Dia akan tertinggal dari ke­budayaan yang bertumpu pada literasi atau kelisanan sekunder.
Pembaca dapat menyaksikan kemajuan mengagumkan kebuday­aan dan peradaban Jepang, Korea, Tiongkok atau India berkat literasi yang dialasi tradisi baca tulis baik. Literasi merupakan kunci bagi kotak alat (toolbox) berisi pemberdayaan, kehidupan lebih baik, keluarga sehat, dan peran serta kehidupan demokrasi. Literasi berfungsi sangat mendasar bagi kehidupan modern. Hal tersebut memungkinkan semua memperoleh akses informasi apa pun. Dengan kata lain, literasi menjadi langkah pertama sangat berarti untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Dewasa ini taksonomi atau kat­egorisasi literasi juga terus berkem­bang, termasuk hakikat, konsep, dan modelnya. Menurut Programme for International Student Assessment ada literasi ilmiah (ilmu pengetahuan), matematis, dan membaca. UNESCO menambahkan literasi informasi dan media. Seiring proses digitalisasi, berkembang pula istilah literasi digital. Kelak, bukan tidak mungkin kategori ini terus berkembang.
Akar taksonomi literasi adalah kemampuan berpikir kritis-kreatif ditopang membaca dan menulis. Maka, tradisi baca-tulis harus secara serempak dibentuk, diperkuat, dan dipelihara sebaik-baiknya dalam tiap individu. Ikhtiar ini dapat diwujudkan melalui pendidikan, pengajaran, pem­belajaran, pemasyarakatan, penerbi­tan, dan pendampingan.
Khusus dalam dunia pendidikan atau pengajaran pada umumnya, tradisi baca-tulis dapat berkembang pesat karena kesukaan, kegemaran, dan kebiasaan. Perpustakaan seko­lah pun menyediakan bacaan-bacaan yang diperlukan subjek didik, se­hingga kegemaran membaca dan menulis terpupuk dengan baik. Pendi­dikan menjadi instrumen efektif untuk membentuk dan memantapkan tradisi baca-tulis secara berkelanjutan.
Sayang, sekarang penguatan dan pemantapan tradisi baca-tulis tidak berjalan mulus. Ada kemandekan atau malah kemunduran (involusi) yang mengakibatkan secara tidak langsung juga involusi berpikir kritis-kreatif. Maka, kemerosotan mutu literasi kian terasa. Involusi tradisi baca-tulis men­jauhkan masyarakat dari literasi. Yang terjadi malah kembali pada tradisi lisan.
Penyebab involusi tradisi baca-tulis antara lain berkembangnya pragma­tisme dan liberalisme dalam penyelenggaraan atau pengelolaan negara dengan kebijakan yang tidak strategis. Kemudian, berkembangnya teknologi komunikasi terutama internet dan jejaring sosial yang massif. Sayang, hal ini tidak diikuti transformasi budaya dengan baik. Diresensi Santi Pratiwi Tri, Universitas Negeri Semarang.


*Resensi telah dipublikasikan di Koran Jakarta, 27 September 2019


Kamis, 26 September 2019

THE PROFESSORS: HIKAYAT BEGAWAN DARI KAMPUS SEKARAN (BAGIAN 1)





Kali ini, saya tak hendak membuat book-review secara lengkap. Toh, buku yang memotret 55 guru besar UNNES ini sudah launching sejak 2013 silam. Niat "melanjutkan baca" muncul akhir minggu lalu. Rencana sempat urung karena lupa baca sampai halaman berapa. Sudah lah, saya mulai lagi saja dari halaman belakang :)

Petualangan baca (Part 1) ini baru menyisir liku kisah 13 profesor: Prof Sukes, Prof Wi, Prof Wasino, Prof Warsono, Prof Wahyu, Prof Marhaeni, Prof Tri Joko, Prof Totok, Prof Tjetjep, Prof Tandiyo, Prof Suwaji, Prof Yahmo, Prof Supriadi, dan Prof Partono.


Dari 13 kisah, saya ngakak sepanjang baca kisah Prof Tri Joko (FIP) :), narasinya membuat saya membayangkan betapa "kemampleng"-nya beliau ketika muda. Penggambaran sosok yang punya sifat sosial tinggi tetapi "kemakine ra umum", membuat saya gemes mes! Kata beliau "Saya ini profesor, masak disuruh ngurusi kuitansi-" hahaha. Saya paham, Prof! :)


Kisah Prof Tjetjep (FBS) adalah salah satu favorit saya :). Saya bisa merasakan, betapa integritas keilmuan beliau amat terjaga. Tidak berhenti belajar, dengan pengembangan diri yang menawan. Kata beliau "Jangan pernah sekali-kali memalsukan data penelitian. Siapapun atau apapun nantinya kamu, kejujuran adalah hal yang utama. Jangan pernah "mengumpulkan" hasil penelitian palsu. Manusia hidup yang dilihat adalah integritasnya. Duh, Prof. Makjleb! :)


Membaca Prof Tandiyo (FIK) secara pribadi adalah menyelami ketangguhan mental perempuan. Tantangan dimaknainya sebagai kepercayaan. Saya hanyut dan sesekali tersenyum kecut mendapati kisah awal karier dan studi pascasarjana beliau.


Pengalaman head to head dengan dosen di kelas doktoral, kalau buat saya yaaa jelas bikin gentar :). Mendapati tantangan deadline dari dosbing hingga dicurigai akan membuat jasa pengetikan saking ngebutnya ngetik manual adalah epik cerita terpingkal-pingkal :). Pun dengan kisah khayalan punya uang sejuta untuk biaya tanding softball dengan membeli SDSB di Johar, hahaha. Prof, serius ini, beli lotre gitu? :)


Acungan jempol layak diberikan ketika beliau memutuskan tidak memperpanjang lisensi menjadi juri senam dengan alasan memberi kesempatan kepada juniornya. Terlihat biasa saja, tetapi dalam maknanya. Berbesar hati bukan sifat yang bisa dimiliki hanya dalam laku semalam.


Hmmm... saya jadi menimang-nimang, beberapa orang kadang terbelenggu dalam kubangan persaingan (kurang sehat) antarteman. Bukankah persaingan dengan ego diri justru lebih menantang?


To be continue (Part 2) - entah kapan 🙈

Selasa, 24 September 2019

THE BASA INTERNATIONAL SEMINAR 2019




Yaps, selesai. Dua hari kemarin, saya dan teman-teman ini 'plesir akademik' ke Solo. Teman-teman FIB Sasda UNS mengadakan forum ilmiah mengenai Kajian Mutakhir Bidang Bahasa, Sastra, dam Budaya.

Plenary I diawali sajian materi dari Prof. Oman (UIN Jakarta) yang mengeksplorasi manuskrip Sheikh Muh Said (SMS). Riset beliau mengenai koleksi manuskrip keluarga SMS di Marawi City dengan pendekatan kodikologis dan filologis merupakan upaya mencari jawab atas korelasi antara Komunitas Muslim Mindanao dan dunia Melayu-Islam.

Chaterine Baron (France) merupakan narasumber kedua yang mengejawantahkan kearifan lokal dalam arti luas: air merupakan bagian dari budaya, dan termaktub dalam manuskrip-manuskrip lawas!

John Paterson (Australia) dari Yayasan Sastra Lestari sebagai narasumber ketiga hari itu mengkampanyekan urgensi digitalisasi manuskrip dan produk publikasi sastra lama. Bagaimana cara memulai, proses implementasi, program open data dengan online platform, riset dan studi lanjutan, serta rencana jangka panjang disampaikan dengan cukup detail.

Adapun, plenary II pada hari kedua diawali sajian materi yang apik dari Prof. Marlam (UNS). Beliau membentangkan kajian peribahasa Jawa. Banyak contoh disajikan, termasuk mengenai "gugatan terhadap peribahasa BI" yang disampaikan oleh praktisi Gustaaf Kusno. Dua simpulan paparan beliau: 1. Javanese proverbs function as persuasive social controls, dan 2. By understanding proverbs, we will know human nature and character!

Katrin Bandel (Germany) sebagai narasumber berikutnya menguak cara bersastra kaum 4.0 dengan lugas. Fokus paparan pada 'arranged marriages in Indonesian Novels'. Keromantisan (yang tergugat paksa karena pola perjodohan) dalam versi era modern kini ternyata tak berbeda dengan era kolonial dulu dan cukup menggugah antusiasme pembaca. Novel yang beliau kaji adalah novel 'Hati Suhita'-nya Khilma Anis (2019). ReflekS, saya langsung ingat lagu Dewa 19 -Cukup Siti Nurbaya!-

Sebagai pamungkas, Mister Kundharu (UNS) menyampaikan reviu mengenai manuskrip kami, para peserta, beserta peluangnya untuk terpublikasi dalam prosiding terindeks Scopus 😋. Materi, tips, dan trik yang disampaikan sama persis dengan yang beliau sampaikan dalam Klinik Manuskrip Jurnal beberapa waktu lalu di Unnes. Yang jelas, peluang manuskrip jurnal dan artikel konseptual saya sama. Dua-dua berpotensi di-reject oleh reviewer, hahaha. So, keduanya perlu direvisi segera. Hmmm... ya... ya... ya... 😂

-popular posts-