Kamis, 22 September 2022

PEMENANG I ANUGERAH PEWARTA ASTRA 2021

 

Sumber: https://anugerahpewartaastra.satu-indonesia.com/arsip/2021/tentang-lomba/

-Alhamdulillah-

Ini feature pertama saya. Biasanya lebih sering coret-coret opini amatiran. Namun, saya niati belajar saja lah, muter tuas sebentar. Topik artificial intelligence relevan dengan riset studi. So, beberapa referensi terkait topik itu memang tengah saya baca, kalau pas goodmood ๐Ÿ˜‚

Saya ingat betul, akhir tahun lalu, setelah memilah dan observasi objek tulisan, saya langsung mengirim pesan kepada tiga teman sekaligus: Mas Saroni Asikin (Suara Merdeka), Om Rahmat Petuguran (Universitas Negeri Semarang), dan Om Dhoni Zustiyantoro (Universitas Negeri Semarang). Isi pesan hampir sama: "Please, beri tips nulis feature dong dan beri rekomen feature keren milik siapa yang mesti kubaca untuk pemodelan". Ketiganya menjawab hampir bersamaan dengan isi yang mirip pula: penjelasan soal feature, contoh, dan permintaan untuk mengirim hasil tulisan saya agar bisa turut dibaca nantinya. Maturnuwun para suhu ๐Ÿค 

Selesai meramu, saya kirim hanya kepada 1 suhu saja dengan alasan ketidak-PD-an ๐Ÿ˜† Kekhawatiran terbesar ketika itu: setelah "matang", aromanya pun belum feature banget ๐Ÿ˜‚ takut distraksi gaya opini masih membayang. Lalu mengapa tetap diunggah? Buat saya, kemenangan terbesar baru sebatas pada level bisa menyelesaikan tulisan dengan purna sebelum tenggat waktu dari panitia. Soal hasil seleksi sebagai pewarta ASTRA hari ini ialah bonus, yang semoga cukup menggiatkan diri untuk lebih bereksplorasi.

Sumber: https://65tahunastra.jagat.live/room/123-siaran-ulang-awarding-lfa-apa-2021

Terima kasih,
@satu_indonesia
@nodeflux


*https://anugerahpewartaastra.satu-indonesia.com/arsip/2021/pemenang/pemenang-apa-2021-umum/
*https://www.santipratiwi.com/2021/12/nodeflux-kontribusi-global-si-keledai.html


MEMIKIRKAN KEMBALI ARAH PENDIDIKAN INDONESIA: KRITIK, POTENSI, DAN REKOMENDASI

Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

Bergabung dengan teman-teman Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang dan kontributor lainnya untuk publikasi hasil riset kami tahun lalu. Terima kasih ketua tim editor Edi Subkhan, S.Pd., M.Pd. dan LPPM Universitas Negeri Semarang.

Saya dan tim menyampaikan potensi disparitas kualitas program literasi sekolah yang terstimulasi oleh tingkat kesiapan dan dukungan ekosistem literasi yang timpang selama pembelajaran moda daring. Bahasan lain mengenai kelas digital, esensi merdeka belajar, profil pelajar pancasila, home schooling, e-learning, learning loss, dsb seruuuu untuk disibak dengan saksama.

SEPERTI RODA BERPUTAR

 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sudah cukup lama saya menelan manis dan getir kehidupan ini. Belajar menaklukkan kecongkakan. Belajar bersimpati dan mengerti. Tapi, hidup manusia harus berhenti, demikian pula dengan hidup saya. Tidakkah selain kelahiran, salah satu perayaan terbesar manusia adalah kematian? (Hal. 4)

KIAN TERTARIK BUKU ELEKTRONIK, KIAN TERPESONA BUKU SUARA

 

Sumber: https://digitalbisa.id/artikel/https-digitalbisaid-artikel-https-digitalbisaid-artikel-https-digitalbisaid-dashboard-article-create-6vzeg-6vzeg-6vZEg

A child who reads will be an adult who thinks! (Proverb)

Kutipan di atas mengingatkan kembali urgensi aktivitas membaca bagi anak, mengingat jarak yang makin jauh antara anak dan aktivitas membaca dewasa ini. Literasi dasar membaca merupakan hak setiap anak. Oleh karena itu, perlu rancangan pola asuh orang tua dan atau orang dewasa di sekitar anak dalam mempersiapkan anak agar memiliki kecintaan terhadap aktivitas membaca. Pengembangan literasi dasar membaca dimulai dari keluarga, serta wajib mendapat dukungan dari ranah sekolah dan masyarakat. Artinya, pola upaya pengembangannya perlu sinergitas antara ketiga ranah tersebut, tidak dapat dilakukan secara parsial oleh satu atau dua pihak saja.

Dalam ranah keluarga, pengembangan literasi dasar membaca dapat diupayakan dalam bentuk penyediaan bahan bacaan dan pelaksanaan kegiatan literasi bersama keluarga. Semua anggota keluarga bisa saling memberikan teladan dalam melakukan literasi di dalam keluarga, dengan berbagai macam variasi kegiatan. Beberapa tantangan muncul dalam upaya mewujudkan hal tersebut, salah satunya adanya pergeseran dan gap antargenerasi yang kentara antara orang tua dan anak. Para generasi Z kini mempertontonkan cara berkomunikasi yang berbeda. Bila Generasi Y cenderung berkomunikasi dengan teks, generasi Z beralih pada gambar, foto, atau video sebagai medianya. Mengapa demikian? karena tuntutan generasi kini yang serba cepat dan instan, serta keintiman mereka dengan telepon pintar (smartphone) atau berbagai perangkat digital.

Kecenderungan opsi bermain gawai (gadget) yang tinggi mengharuskan berbagai pihak turut andil mencari solusi, alih-alih menyalahkan atau malah berupaya mengalihkan. Peralihan generasi Z dengan segala ciri khasnya perlu mendapat perhatian serius. Bagi generasi Z, teknologi bagai nyawa. Keniscayaan tersebut memosisikan orang tua untuk menghadirkan pemodelan yang adaptif terhadap perubahan. Pun dalam berliterasi baca, upaya memelihara lingkungan literasi anak mesti terus dilanjutkan tanpa membenturkannya dengan tipikal zaman.


Tertarik Buku Elektronik, Terpesona Buku Suara

Desain adaptif tersebut yang coba penulis terapkan dalam program pengabdian kepada masyarakat, dengan pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Semarang (UNNES) di SD Negeri Podorejo 3 Semarang. Dalam beberapa sesi pertemuan orang tua dengan pihak sekolah, kepala sekolah Ibu Dwi Setyowati, S.Pd., M.M, mendapati kenyataan minimnya bahan bacaan yang dimiliki anak di rumah paling dominan disampaikan. Sementara, kenyataan lain yang menyertai ialah durasi “mengonsumsi” gawai yang begitu tinggi.

Menilik kedua fakta tersebut, penulis dan tim pengabdian mencoba memformulasi solusi dengan mengenalkan buku elektronik (electronics book atau e-book) dan buku suara (audio book) yang notebene bisa diakses dengan gawai masing-masing. Pihak sekolah sangat mendukung ide tersebut dan kami merencanakan pertemuan untuk memberi pelatihan kepada orang tua dan guru. Pelatihan dikemas dalam suasana santai, praktik langsung yang diawali dengan membilas ingatan bahwa aktivitas membaca butuh keteladanan dari orang tua. Untuk menarik minat baca, orang tua harus menjadi teladan dengan menjadi pembaca yang baik. Anak tidak perlu dipaksa membaca karena pada dasarnya anak adalah peniru ulung.

Saat pelaksanaan pelatihan tanggal 23 Juli 2022 lalu, beberapa orang tua dan guru mengkhawatirkan biaya tambahan yang harus dikeluarkan untuk dapat mengakses buku elektronik dan buku suara. Kekhawatiran tersebut dapat ditepis dengan pemberian pemahaman terhadap buku elektronik dan buku suara yang masuk kategori creative commons lisence books. Artinya, buku-buku tersebut bisa diakses secara bebas tanpa perlu izin terlebih dahulu kepada penulis atau penerbit. Beberapa laman (website) buku elektronik yang berisi ratusan bahan bacaan bagi anak yang diperkenalkan antara lain https://literacycloud.org/, https://buku.kemdikbud.go.id/katalog/buku-non-teks, dan https://ditpsd.kemdikbud.go.id/buku/kategori/cerita-anak-2.

Selain bebas akses, buku-buku yang disediakan oleh lembaga nonprofit Room to Read yang bisa diakses di laman
https://literacycloud.org/, misalnya, juga tersedia dalam berbagai bahasa disertai keterangan perjenjangan buku (book leveling), dan pilihan medium baca. Pilihan bahasa antara lain bahasa Indonesia, Inggris, Spanyol, Arab, dsb. Adapun perjenjangan buku merupakan keterangan yang memberi arahan kepada calon pembaca untuk mengetahui peruntukan buku tersebut berdasarkan tipe atau klasifikasi isinya. Bagi pembaca dini, awal, lanjut, semenjana, atau mahir. Arahan ini tentunya dapat menjadi petunjuk bagi orang tua dalam memilah dan memilih bacaan yang sesuai dengan tingkatan anak. Pilihan medium baca yang ditawarkan pun beragam, ada buku elektronik yang penuh warna dan buku suara yang ekspresif dibacakan pengisi suara.

Pada akhir acara, orang tua dominan menyampaikan relatif tidak menemui kesukaran saat mencoba mengakses dan bersiap membangun interaksi dengan anak dalam aktivitas membaca. Buku elektronik yang telah berlisensi umum tersebut dapat menjadi gudang bacaan yang menjadi modal untuk membangun ekosistem literasi dalam keluarga. Kehadiran medium lainnya berupa buku suara turut menambah alternatif dengan moda baca lewat telinga. Seru untuk dieksplorasi lebih jauh dan senantiasa dicoba.

*sudah dipublikasikan di portal digitalbisa.id, 18 Agustus 2022
https://digitalbisa.id/artikel/https-digitalbisaid-artikel-https-digitalbisaid-artikel-https-digitalbisaid-dashboard-article-create-6vzeg-6vzeg-6vZEg 


HOW TO KEEP YOUR COOL

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Seru! Seneca sedang menantang akal sehat pembacanya mengenai apa yang pantas membuat seseorang marah ๐Ÿ™‚

Menetapkan harga tinggi pada kebanggaan, martabat, dan harga diri disinyalir menjadi impuls kemarahan manusia. Bahkan, pada posisi salah pun, kadang manusia tetap tersinggung ketika menerima teguran karena mengimbuhkan prasangka dan keangkuhan dalam pikiran ๐Ÿ˜”

Untuk melawannya, Seneca mengingatkan betapa banyak kesamaan sebagai manusia, yang pada umumnya layak untuk saling memaafkan. Ia menyebut: kita hanyalah orang jahat yang hidup di antara orang jahat ๐Ÿฅบ

Mari merawat kemanusiaan dengan tidak menjadi sumber ketakutan atau bahaya bagi siapa pun. Mari memulai dengan belajar menelan singkatnya rasa jengkel yang kadang muncul ❤

 

Jumat, 12 Agustus 2022

AI IN EDUCATION: CHANGE AT THE SPEED OF LEARNING

Sumber: https://iite.unesco.org/news/policy-brief-ai-in-education/


Policy brief dari UNESCO IITE ini cukup komprehensif memaparkan perubahan pola pemanfaatan teknologi dalam pendidikan. Fokus paparan lekat dengan kecerdasan artifisial (AI), cloud computing, dan machine learning.

Paparan menarik terkait tantangan: bagaimana cara aksesnya, bagaimana etika penggunaannya, bagaimana kesenjangan teknologi pemakainya di lapangan memberi gambaran makro persiapan yang perlu dilakukan.

Poin penting lain yang ditekankan: bahwa teknologi bukan sapu jagad yang kemudian bisa menyelesaikan multiproblem yang muncul di kelas. Teknologi hadir untuk diberdayakan. Pun bila tidak untuk peningkatan aspek kompetensi, hadirkan untuk memberi pengalaman pembelajaran yang baru dan manfaatkan untuk mengaktifkan modalitas pedagogis.

Senin, 04 Juli 2022

TERUS BERKARYA DENGAN TEKNOLOGI SUARA!

https://www.ahead.ie

Type with your voice! 

Begitu moto (tagline) yang diusung dictation.io, salah satu produk kecerdasan artifisial (artificial intelligence) berupa fitur pengenalan suara (speech recognition) tanpa bayar yang akan membantu kita menulis berbantuan narasi suara tanpa perlu mengetik. Yaps, otomatis dan gratis! Diksi dictation yang berarti “dikte” memberi penegasan bahwa aktivitas mendikte gagasan/ide/hal apapun yang ingin disampaikan (dengan suara) bisa dilakukan dan fitur speech to text ini akan membantu menuliskannya. Kok bisa?

Fitur yang didukung teknologi suara ini “dilatih untuk mengenal, mengolah, menginterpretasi, dan mengonversi suara manusia menjadi tulisan dengan berbagai perangkat pintar, seperti telepon pintar (smartphone), tablet, laptop, atau komputer. Kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi ini dapat dimanfaatkan oleh sekretaris, notulis, jurnalis, guru/dosen, reviewer buku, blogger, dan profesi lainnya.

Bagaimana cara mengaksesnya?

1.  Kunjungi www.dictation.io ya!

2. Klik launch dictation dan pengguna akan diarahkan ke sebuah halaman seperti halaman pengetikan yang memiliki tools pengatur tulisan: bold, italic, underline, dan lain-lain.

3. Pada halaman tersebut, pengguna dapat menentukan pilihan bahasa sesuai kebutuhan hasil teks (ketikan) yang diinginkan. Beberapa pilihan bahasa yang familier, yakni bahasa Indonesia, Sunda, Jawa, Inggris, Spanyol, Prancis, Italia, dan lain-lain.

4. Tekan tombol start, kemudian pengguna akan diminta mengaktifkan pelantang (microphone) di halaman tersebut. Setelah muncul notifikasi aktivasi, pengguna dapat langsung klik izinkan.

5. Hapus semua teks ucapan selamat datang yang ada di halaman pengetikan, mulailah bicara, dan biarkan mesin pengetik otomatis bekerja.


https://www.komando.com/

Selain cara akses fitur yang cukup simpel, bagi saya kelebihan mengetik via perintah suara ini adalah fleksibilitasnya. Dalam kondisi tertentu, menangkap ide/gagasan/review dari buku yang saya baca/dengar (audiobook) dalam perjalanan, misalnya, dapat saya lakukan dengan menarasikan beberapa bagian esensial buku yang menjadi poin, menarik, atau quote-able agar tidak lupa.

Atau, saat perlu observasi langsung di kelas untuk kebutuhan awal penelitian/program pengabdian, misalnya, saya mengamati objek/responden dengan mulut yang ‘ndremimil’ terus untuk menarasikan apa yang saya lihat dan rasakan, hahaha, tanpa perlu mengetik sehingga fokus pengamatan lebih terjaga. Hasilnya bisa langsung di-posting atau digunakan sebagai data pengamatan? Bisa. Namun, saya biasa mengintegrasikan terlebih dahulu potongan-potongan narasi yang telah menjadi teks, sesuaikan dengan bahasa tulis, dan… jadi! ๐Ÿ˜Š

Sabtu, 02 April 2022

OFFLINE

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Yes, thinking is hard. Acting rather than reacting is even harder. But at the end of the day, that's what our brains are for. For us to use and control. And not just be the receptacle of random thoughts that don't belong to us and which leave us feeling helpless and overwhelmed (p.28).

Senin, 14 Maret 2022

MENGEMBANGKAN ONLINE EDUCATION RESEARCH DI INDONESIA

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Online Education Research (OER) menjadi sebuah keniscayaan sebagai konsekuensi makin terbukanya sistem pendidikan. Dalam konteks keindonesiaan, OER diharapkan tidak hanya fokus pada sisi teknologi tetapi menjangkau aspek awareness and motivation. Mengapa? agar tidak ter-ninabobo-kan oleh teknologi sebagai perangkat yang 'fashionable' dalam pembelajaran ๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ’ป


Tantangan yang cukup signifikan untuk menyelenggarakan OER ialah pemahaman tentang bagaimana melakukan riset di area itu. Oh ya, sepertinya butuh 'keterampilan menyibak' topik-topik seruuu pula dengan memperbanyak asupan bacaan yang relevan ๐Ÿคฏ

@uipublishing ๐Ÿ‘‹

Jumat, 11 Februari 2022

BERANI TIDAK DISUKAI

 

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Membaca buku ini sebanding dengan menyimak percakapan seorang pemuda dan filsuf yang ditemuinya. Pembaca dipertemukan dengan sekian pertanyaan dan berulang penjelasan untuk menuntaskan rasa penasaran (plus sedikit sikap ngeyel-an) ๐Ÿงค

Si filsuf menegaskan bahwa tugas hidup seseorang (mestinya) bukanlah  memenuhi ekspektasi orang lain. Tidak ingin dibenci orang lain adalah impuls  yang sepenuhnya wajar. Namun, sikap mengintervensi penilaian orang lain terhadap diri kita hanya akan membuat hidup terkekang, pun itu sebuah kemustahilan.

"Dari sepuluh orang, akan ada satu yang akan mengkritikmu, tak peduli apapun yang kaulakukan" (h. 269) ⏰

Mempersenjatai diri dengan keberanian belum banyak dilakukan. Keberanian menetapkan posisi dan penerimaan diri atas setiap konsekuensi. Berhargalah mereka yang terus belajar memahami bahwa tidak semua akses kontrol atas kondisi yang akan ditemui berada di tangan dirinya sendiri.

๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ



-popular posts-