Senin, 13 Januari 2020

KAMBING DAN HUJAN

Novel Kambing dan Hujan - Doc. Pribadi


Rampung juga akhirnya! Buku ini salah satu korban tsundoku, haha. Aku lupa kapan beli, yang jelas sudah hitungan tahun nangkring di rak buku. Seingatku, penasaran menjadi alasan membeli novel ini pasca dinobatkan sebagai Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Pemenang tahun-tahun berikutnya terus kuikuti, hingga terakhir aku menunggu ‘Aib dan Nasib’, karya mas bro Minanto, yang menjadi juara tahun ini.

Dari prolog, aku sempat menebak akan mendapati novel percintaan dengan bumbu yang mendayu. Namun, gambaran kehidupan kampung Centong mulai seru dengan kehadiran persaingan paham dua kubu: masjid utara-Muhammadiyah dan masjid selatan-Nahdlatul Ulama (NU), wadidaww! Tak pelak, silang sengkarut berbagai perbedaan tradisi keagamaan kedua paham seagama itu menjadi warna cerita sepanjang 373 halaman.

Kambing dan Hujan adalah representasi hal yang mustahil. Ya, layaknya kisah asmara Mif dan Fauzia. Mif adalah anak pak Iskandar, ulama masjid utara. Fauzia adalah anak pak Fauzan, tokoh masjid selatan. Sementara kedua orangtua itu dulunya teman karib sejak SR yang “cerai” karena ngotot menjaga fikih masing-masing. Cerita cinta keduanya terbentur tembok tebal yang dibangun bapak-bapak mereka. Duh!

Tangkapan cerita novel ini seperti sodoran potret berisi fenomena keberagamaan dalam masyarakat kini. Iya, sampai saat ini. Bagaimana bisik-bisik tentang perbedaan jumlah rakaat salat Tarawih, tentang melisankan niat salat, qunut kah saat salat Subuh?, berapa kali azan dalam salat Jumat, salat Idulfitri di lapangan atau masjid, soal penentuan hari raya: dengan ru’yatul hilal atau perhitungan, dsb. Hahh... kehidupan sosial yang menarik!

Dan, sepertinya cinta masih bisa menjadi juru damai. Tokoh Iskandar dan Fauzan mau meluruhkan ego, untuk tidak mengabaikan masa depan anak-anaknya. Happy ending dengan status besan tentu cukup melegakan. Lalu kemana Mif dan Fauzia melabuhkan kecenderungan?

Ehmm… “Subuhnya tak pakai qunut, tak apa kan?” kata Mif. Fauzia tersenyum. “Tapi wiridnya yang panjang ya. Keraskan sedikit bacaannya” ujarnya. Mif mengangguk dan kemudian mengangkat takbir. Fauzia mengikuti setelah mengumamkan “ushalli”. Yaps, hahaha.

Credit point tentu untuk Cak Mahfud. Dalam berbagai postingan ia menegaskan ‘posisinya’ secara pribadi. Namun, ia telah menyelesaikan tugasnya dengan apik, dalam ‘posisinya’ sebagai penulis, J      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

-popular posts-