Rabu, 01 Januari 2020

BAHASA, KEKUASAAN, DAN KEKERASAN

Dok Pribadi - Graha Sartika

Tahun baru, energi baru. Humm... menyelesaikan buku ini berasa sedang kuliah Kajian Linguistik beberapa SKS 😅. Ada banyaaaaak kalimat yang mesti kubaca berulang. Why? sepertinya aku tidak cukup cakap mencerna kalau hanya sekali baca. Super payah! 😌

Buku terbitan Univ. Sanata Dharma (USD) Press ini semula merupakan naskah pidato pengukuhan guru besar penulisnya, Prof. Praptomo Baryadi, pada Februari 2012 silam. Pantesan! Berarti benar: kadar keilmiahan buku ini terlalu tinggi bagiku! 😜

Setelah mencoba connect dengan tulisan, beberapa catatan bermunculan. Buku ini menguak spirit Critical Linguistics (CL) dalam membongkar dominasi individu/kelompok yang terepresentasi dalam komunikasi verbal, melalui bahasa.

Dominasi merujuk pada kekuasaan. Dan, kekuasaan yang koersif (paksaan) melahirkan kekerasan. Sejauh ini jenis kekerasan fisik lebih "populer"/dimengerti. Awam cenderung abai pada jenis kekerasan verbal: kekerasan yang menggunakan kata, kalimat, dan unsur bahasa lainnya. Jenisnya bisa melalui fitnah, stigmatisasi, stereotyping, membentak, memaki, mencerca, mengejek, menuduh, menghina, meremehkan, menghardik, mendiskreditkan, mempermalukan, dsb.

Nyatanya, verbal attack berdampak luka PSIKIS bagi penerimanya. Akibatnya? korban cenderung tertekan, takut, frustrasi, marah, kecewa, rendah diri, minder, sakit hati, apatis, bingung, malu, benci, marah, dendam, dsb -apalagi bila sedang dalam suasana psikologis yang tidak stabil. Belum lagi, timbulnya pertengkaran/cekcok yang berimbas pada renggangnya kohesi sosial.

Siapa korbannya? kecenderungan mengarah pada individu/kelompok yang tidak dominan. Contohnya siswa, anak, ART, bawahan, pasien, dsb. Walaupun pada beberapa kasus justru terjadi sebaliknya 😘

Merujuk pada "Nonviolent Communication: A Language of Life"-nya MB Rosenberg perlu kiranya rumusan prinsip-prinsip komunikasi verbal yang HUMANIS alias komunikasi NIR-KEKERASAN.

Peretasan mata rantai kekerasan amat perlu untuk membebaskan korban dominasi. Atau setidaknya, meminimalisasi banality of evil: kekerasan yang dianggap hal biasa, wajar, dan pelakunya tidak merasa salah.

"Kata-kata adalah sesuatu yang berbahaya. Ia kadang bertuah dan memiliki kekuatan untuk melakukan kekerasan yang mengakibatkan luka/derita - 
(Bateson @Step to an Ecology of Mind, 1972)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

-popular posts-