Sabtu, 04 April 2009

RESENSI BUKU: THE FOUR FINGERED PIANIST


Judul : The Four Fingered Pianist
Pengarang : Kurnia Effendi
Penerbit : Hikmah Jakarta
Edisi : Cetakan 1, Februari 2008
Tebal : xxv + 228 halaman

KEMENANGAN SEMANGAT DAN KASIH SAYANG

“Saat kita menerima keterbatasan, saat itulah kita melampauinya.” (Albert Einstein)

Kata-kata bijak di atas tentu dapat dijadikan cambuk yang luar biasa bagi perjalanan hidup manusia. Keterbatasan yang kita miliki sudah selayaknya dijadikan “teman” dalam mengarungi kehidupan. Oleh karena itu, sebagai “teman” yang baik, kita harus merangkul dan menerima keterbatasan sebagai anugerah yang patut disyukuri.

Bayangkan bila telinga kita dapat mendengar setiap detak jantung atau tarikan nafas, alangkah berisiknya dunia! Bayangkan pula bila mata kita sanggup melihat bakteri atau binatang renik, mungkin di setiap tempat yang dianggap bersih pun, kita akan menemukan jutaan bakteri yang sangat menjijikkan.

Buku The Four Fingered Pianist memotret sketsa-sketsa nyata “persahabatan” menakjubkan seorang gadis Korea Selatan bernama Hee Ah Lee dengan keterbatasan fisik yang dianugerahkan kepadanya sejak lahir. Gadis penderita Lobster Claw Syndrome yang mampu memainkan tujuh belas komposisi lagu, dua belas diantaranya repertoar piano klasik, hanya dengan empat jari dan pedal yang ditendang oleh kedua kakinya yang hanya sebatas lutut.

Hee Ah Lee adalah contoh dari sedikit orang yang mampu menerima dan mensyukuri keterbatasan, lalu berjuang dan sanggup mengatasinya. Lihat pula para atlet yang mengikuti olimpiade bagi orang-orang cacat fisik. Ada atlet loncat tinggi dengan satu kaki, bahkan perenang tanpa tangan, dan sebagainya. Hal-hal yang menurut kita sulit dilakukan atau bahkan tidak mungkin, menjadi mungkin dilakukan oleh mereka dengan balutan semangat yang luar biasa. Entah bagaimana membuncahnya rasa bangga yang menyelimuti, ketika medali dikalungkan dan buket bunga di tangan.

Ingatkah Anda akan ucapan Sugeng, seorang pembuat kaki palsu, pada salah satu adegan iklan minuman berenergi, “Buntung ya buntung, nek nyerah yo (maaf) goblok!”. Ucapan tersebut seolah menegaskan bahwa orang yang terpuruk, lemah, apalagi tidak berusaha melawan keterbatasan adalah orang yang tidak akan mencecap manisnya “kemenangan”.

Buku terbitan Hikmah Jakarta ini terdiri dari lima sketsa. Secara beruntun, pada tiga sketsa awal dikisahkan bahwa perjuangan Hee Ah Lee tidak terlepas dari perjuangan sang ibu. Perjuangan yang tanpa pamrih diberikan dalam bentuk perhatian, nasehat, dan kasih sayang yang seolah tanpa batas. Kekuatan rasa sayang pada putrinya mampu mendobrak kesedihan yang sebenarnya sudah mengendap di dasar hati, begitu mengetahui kondisi fisiknya. Hee Ah Lee lahir dengan kelainan bentuk yang langka dari tangan atau kaki, saat bagian tengahnya tidak ada dan terdapat celah di tempat metakarpal jari seharusnya berada. Belahan ini menyebabkan tangan atau kaki memiliki penampilan seperti capit (ectrodactyly) yang kemudian dinamai Sindrom Capit Lobster (Lobster Claw Syndrome).

Kurnia Effendi, penulis buku ini, dengan lugas menceritakan pula “perang” batin Woo Kap Sun (sang ibu) dalam mengasuh, membimbing, dan memompa semangat Hee Ah Lee untuk bangkit menjadi si normal (dalam kemampuan bermain piano) walau dalam keadaan tidak normal (secara fisik). Hal tersebut tentu bukan sesuatu yang mudah, apalagi saat Hee Ah Lee mulai menginjak masa remaja. Masa dimana dia ingin diperhatikan dan mulai memperhatikan lawan jenis. Namun, kata-kata sang ibu, “Kamu tidak boleh dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Oleh Dunia. Karena itu, seberat apapun, kamu harus menjalani ini semua.”, menjadi cambuk bagi Hee Ah Lee untuk terus maju (Sketsa IV).

Pada sketsa terakhir, penulis memaparkan “kemenangan” yang diperoleh Hee Ah Lee, hasil kerja kerasnya melawan keterbatasan dengan tekad kuat dan dukungan penuh sang ibu. Kesuksesan telah membawanya konser ke beberapa negara, termasuk Indonesia, dan berkesempatan tampil satu panggung dengan Richard Clayderman, pianis handal asal Prancis, di Gedung Putih, Washinton D.C.
Membaca kisah nyata dalam buku ini, membuat kita patut merasa malu dan mulai bersyukur setelah sekian lama hanya pandai menghujat, menganggap seluruh perjuangan hidup semata sebagai aral. Kisah Hee Ah Lee mengajarkan bahwa tak ada hal yang tak mungkin di dunia ini. Jika kita percaya diri, jika kita berusaha sekuat tenaga, segala cita-cita akan tercapai. Seperti halnya pepatah yang mengatakan bahwa perjuangan terbesar adalah mengalahkan diri sendiri. Selamat berjuang!

Penulis: Santi Utami

dimuat majalah GENTA edisi 5-19 Maret 2009

2 komentar:

  1. makasih ya resensi buku the four fingered pianis ..
    salam sukses dan semangat selalu :)

    BalasHapus
  2. Hai, 1 tahun lebih baru kebaca komentarnya... hehe... thanks

    BalasHapus

-popular posts-