• PILKADAL DI NEGERI DONGENG


    Judul : Pilkadal di Negeri Dongeng
    Pengarang : Tundjungsari
    Penerbit : Afra Publishing, Indiva Media Kreasi
    Edisi : Cetakan Pertama, September 2007
    Tebal : 168 halaman

    POTRET DUNIA POLITIK INDONESIA

    Dunia politik adalah dunia yang tidak pernah tidur. Orang yang akan terjun ke dunia itu, harus siap mengerahkan seluruh pikiran dan energi hampir 24 jam. Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk dapat survive di dunia politik membutuhkan materi yang tidak sedikit. Herannya, banyak orang yang berbondong-bondong terjun kesana. Entah apa yang sedang dicari, mungkin kursi “terhormat” atau mungkin sekedar bangga berjuluk politikus. Yang jelas, hanya bermodal nekat dan mengandalkan janji-janji, mereka siap melenggang menuju podium semu.
    Hal tersebut pula yang coba digambarkan dalam novel “Pilkadal di Negeri Dongeng” karya Tundjungsari ini. Novel ini berusaha memotret kondisi politik suatu negeri yang carut marut. Tidak dapat disangkal bahwa isi cerita, penokohan, amanat, maupun contoh kasus serta intrik-intrik politik yang disajikan merupakan gambaran nyata dari keadaan yang terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir.
    Bagian prolog (kocap kacarito) mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah negeri dongeng. Negeri yang subur, memiliki kekayaan tambang dan laut, serta komoditi pariwisata yang sangat potensial. Namun, sebagian besar rakyatnya masih bergelut dengan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Hal tersebut merupakan sebuah anomali, dimana orang kaya semakin kaya dan rakyat miskin semakin miskin. Pergantian pemimpin seolah tidak memberi imbas positif bagi kehidupan rakyatnya.
    Novel terbitan Afra Publishing ini menceritakan gegap gempitanya proses pilkadal disalah satu kabupaten di negeri dongeng, yaitu kabupaten Antah Berantah. Kabupaten yang saat ini masih dipimpin oleh bupati yang (lagi-lagi) mempunyai karakter mirip dengan sebagian pejabat di Indonesia. Bupati Suryo Buwono digambarkan sebagai tokoh yang sangat “menikmati” kekuasaan yang sedang digengamnya. Aksi suap menyuap, obral proyek, “berteman” dengan dunia klenik, hingga usaha-usaha emperkaya diri sendiri sudah menjadi rutinitas selama menjabat. Seperti halnya kebanyakan pejabat saat ini, sang bupati juga tidak tinggal diam saat masa jabatannya akan segera berakhir. Belum puas atau bahkan tak rela “kursi”nya diduduki orang lain, segera dia pasang badan dan berkoar siap kembali menjadi bupati periode selanjutnya.
    Tundjungsari, penulis buku ini, secara cerdas memotret pula menjamurnya partai-partai politik saat ini. Banyak partai politik yang hanya meneriakkan janji dan visi misi. Bahkan beberapa partai politik hanya mengandalkan figur tokoh tertentu yang menjadi ketua umumnya. Ada pula partai politik yang sok idealis, sok welcome pada semua golongan, etnis, agama, dan usia, hingga yang mengklaim diri sebagai “peri” bagi rakyat kecil.
    Banyak sekali hal lain yang sedang in di masyarakat saat ini tak luput dari bidikan kritis Tundjungsari. Hal tersebut misalnya:
    1. Banyak orang yang saat ini berlomba-lomba menjadi selebritis, walau hanya bermodal tampang, suara pas-pasan, bahkan hanya dengan sedikit akting banyolan. Mereka ingin kaya dan mabuk popularitas lewat “jalur tol” yang saat ini banyak ditawarkan stasiun-stasiun televisi.
    2. Sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai buruh. Hal tersebut akibat dari rendahnya tingkat pendidikan, sehingga mereka bekerja dengan mengandalkan otot (tenaga) bukan otak (pikiran). Maka jangan tanya berapa gaji yang diterima, cukup untuk makan saja rasanya sudah sangat bersyukur.
    3. Masih banyaknya masyakarat yang percaya dengan dunia ramal meramal. Mungkin karena tekanan hidup yang semakin berat, masyarakat mulai ragu dengan kelangsungan hidup atau masa depan mereka, sehingga bantuan ramalan nasib atau terawang masa depan seolah-olah dapat dijadikan jalan keluar. Ternyata kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh beberapa peramal (yang mengaku pandai meramal) nasib. Mereka mencoba membuat proyek bisnis dengan menerima jasa ramalan via sms dengan tarif premium. Parahnya mereka mengiklankan jasa tersebut melalui televisi yang notebene ditonton pemirsa dari segala usia. Aduuuuh…
    Novel ini juga memberi contoh positif lewat tokoh Tugino dan Slamet. Dua orang kepala keluarga yang harus menjalani kehidupan yang keras sejak kecil. Tugino memberi contoh bagaimana masyarakat harus punya prinsip pantang menyerah. Ia berhasil mengolah kerajinan tangan berbahan enceng gondok menjadi cenderamata. Sedangkan Slamet, digambarkan sebagai tokoh yang sabar dan ikhlas menerima cobaan hidup yang datang pada waktu yang berdekatan. Diantara gempuran krisis multidimensional, sifat dan sikap orang-orang seperti tokoh Tugino dan Slamet memang sudah jarang ditemui.
    Secara keseluruhan, inti cerita dalam novel ini mengambarkan upaya-upaya politik yang dilakukan oleh tiga pasang calon bupati dan wakil bupati kabupaten Antah Berantah dengan berbagai cara.

    Penulis: Santi Utami

    'Pemenang III Lomba Resensi Indiva Media Kreasi 2008'
  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar